Category Archives: Puisi Cinta Nyenius

Tunggu Aku

Tempat yang bukan barat dan timur
dihatimukah?

Kalau begitu, tunggu aku
pelayaran ini terasa lambat
tapi jelas, pelabuhan berikutnya
kamu

aku harap ini pelayaran terakhir
hingga jiwa ini dapat
bersemayam pada pantainya

lambai ombak yang kau kirim
datang bersama senyummu
menguatkan jiwa sampai kesana

ragu masih menderak juga
tanya-tanya timbul bagai
percik gelepar ikan

senyummu, pelukmu, belai hatimu
rumah yang aku nanti
atap yang aku cari
kita harus isi-mengisi
jegal juga keraguan yang buta

– tak tahu hatimu seperti apa –

entah kapan tiba
peta sudah kubalik-balik
menetapkan kebenaran titik koordinat
menilik angin, apakah mengantarku kesana?

Sinar yang menggelorakan itu
matamu kah?

itulah api titik pusat
navigasiku. Hampir sampai?
Duhai kelasi, topang kaptenmu ini
sambutan yang tak tentu
melahirkan mabuk laut yang jarang

rapihkan semua yang di kapal
biar bagaimana
dia harus tahu

=================
Toba.
23:56 16/10/2004

Ternyata Memang Kamu

ternyata
padamulah hatiku bercokol nyaman
pada belaimu kepalaku tunduk syahdu

pada pengertianmu
pada marahmu

aku sadar
cinta telah menjadi bahasa keseharian kita
bukan lagi bunga, bukan lagi bahasa verbal

makin hari, hati makin saling mengunci
semakin terlibat, semakin ketergantungan

ternyata
hatimulah yang bersenyawa dengan hatiku
saling mengisi kondisi-kondisi
dan variabel-variabel baru

kaulah orang yang ingin kulindungi
dan berbagi keriput wajah suatu hari nanti

14:32 07/05/2006

Daun yang Tersungkur di Gunung

tentang darah
yang mengalir dari daunan di gunung
darah dari cinta yang bertemu-paling
keraguan hati dan keinginan yang tertahan

tentang luka
yang dikandung tanah bukit mengering
luka dari pencarian akanmu
makin membusuk seperti sobekan
daging yang ditiupi angin dan debu-debu

bukit yang menjulang dipanasi mentari
diracaukan dingin hujan.
aku yang tegak dengan hati koyak-moyak
berlari diasapi hidup
diriuhkan tangisan-tangisan tentangmu

kita adalah pejalan kaki
di emperan tanah Tuhan
pejalan yang saling mencinta
dan terpisah di satu perempatan sunyi
saling terseok tersungkur memakan lumpur

tak pelak lagi
semakin jauh kita berjalan
pada arah berlawanan
hati semakin tebal atas luka
tapi tetap, jauh dalam relung-relung
gelap hati
tangisan tentangmu, tangisan tentangmu

Tentang kesunyian daunan di gunung pada siang hari
yang terus dibakar mentari
dikawani angin, dilagukan tonggeret pada pohonan
aku dan kau
juga langit yang selalu berkabut antara kita

12:26 12/03/2006

Lelaki yang Kasmaran

Untuk Ganesha

Lelaki yang kasmaran
hatinya tak tergenggam lagi
berenang ke dalam telaga keindahan

Telinganya tertutup
dan bibirnya tersenyum

“Aku ingin memelukmu,
menyayangimu setiap waktu”

Kata-kata telanjang dalam kepalanya
pikiran yang rumit sirna
menjadi dunia tanpa rupa

hari-hari menjadi jalan yang menggelisahkan
ketidakpastian menjadi tema pikiran

Lelaki yang kasmaran
janganlah ia dibantah sayang
sebab, dewa sekalipun pasti dilawanya

Pertemuan dengan yang terkasih
adalah doa yang dilafazkan
dalam diam, dalam nafas, dalam gerak

“Aku akan membuatmu bahagia, duhai kecintaanku.”

Lelaki yang kasamaran
memasrahkan dirinya pada getaran
yang terasa sesak sekaligus menyenangkan
pada kekhawatiran yang mengganggu
tapi menggelorakan

Biarkanlah,
jangan usik kebahagiaannya
jangan tenangkan gelisahnya
dia sedang terbakar api
yang dulu membakar Ibrahim

——————
1:17 AM 11/21/2005

Malam Biru

Aku tak ingin membunuh
malam biru ini
ketika segala keindahanmu
terkenang membasahi kepala

Bahkan bajingan itupun
tak dapat merusak ketenanganku
hari ini mendorongku pada kekuatan
entah esok

aku takut kehilangan kamu
marah dalam hati masih berdebar
tapi tak sekencang keinginan membelaimu
dalam sayang

malam ini
kerumitan lagu jazz
adalah kawan yang serasi
untuk langkah dansa dihatiku
menimang-nimang namamu
menanti pertemuan kita yang jarang

dikau adalah sumber semangatku
kecintaanku
senyummu memicuku memenangi
pertarungan melawan naga-naga
melawan ketidakpastian hari-hari

ada yang menantiku
ada yang selalu siap memelukku
ada yang selalu siap mengucupi lelahku

kembalilah kesini tulang rusukku
belahan sejati jiwaku
lengkapilah hidup kita
benamkanlah wajahmu ke wajahku
lantunkanlah bahasa prosamu ditelingaku
dan akan kukatakan pada Rendra
bahwa itu adalah puisi

kemarilah sayang
tanpamu, aku adalah lelaki yang cacat
aku adalah milikmu, lelakimu
datanglah kemari
dan naungkan kepalamu di pundakku
labuhkan gundah yang kau punya
tangiskan isak yang kau simpan
biar kukucup satu persatu
hingga senyummu terbit tanpa ragu

Aku tak ingin
membunuh malam ini
bumi beraroma air yang subur
angin membisiki hawa liburan dan istirahat.
Sementara mataku, hanya melihat wajahmu.

————
12:58 AM 11/21/2005

yang dirindukan

gairah dalam memendam
lava cinta
terbentur tembok-tembok grafiti kota
keinginan menghirup nafas lembut penuh sayang,
terkoyak asap-asap angkutan kota

rasa cinta yang menagihkan
dalam aroma tak terhirup
yang selalu menggetarkan

tak bisa lagi
sepertinya rasa itu hilang
dicabut perlahan oleh kesibukan
dan hasrat-hasrat rendahan

atau iblis telah membelah hatiku
dan membenamkan cinta
jauh ke dalam, terlampau jauh
hingga sulit digenggam kembali

hanya tawa kering yang ada
tanpa darah didalamnya

kurindukan
kentalnya rasa cinta yang menyekat tenggorokan
memiriskan senyum, dan membuat semuanya menjadi manis

kurindukan
hati kecil yang indah dari seorang gadis,
romantisme dalam kecemasan,
rasa melindungi.

dan sekejap saja
nafsu mengacaukannya
menjegal mata untuk melihat lebih jauh
mematikan indera untuk merasakan
getaran kuat dari hati lembut di seberang

ah,
bibir yang dikecup khidmat
pipi lembut yang berbaring di telapak tangan
dan suara lembut yang selalu seperti nyanyian

———
4:08 PM 7/20/2005

Di Stasiun ini, Kesedihan Jatuh Lagi

akhirnya di stasiun ini
kesedihan jatuh lagi
begitu lagu Gambang Semarang
mengalun pada satu nada tunggal

sesak, begitu sadar
pada langkah berikutnya
aku akan benar-benar meninggalkanmu

Kali ini
tak kutiupkan kalimat harapan
ngeri hatimu makin berdarah-darah

kupejamkan mata
tak kutoleh lagi wajahmu
begitu peron satu terpijak
pisah sudah bumi kita
kecemasan menggelora

biar kutunggu suaramu
aku tak ingin memulai kata-kata
selamat jalan

kuceritakan kesedihan pada petak
sawah yang terlewati
perih memudarkan pandang
air mata mengambang
seperti angin melambai di jendela

Gambang Semarang berdenting lagi
pada bangku peron

aku telah menanam luka baru

____________
00:30 06/04/2005

Harapan Kecil

ingin aku memelukmu
duduk bersimpuh
dan kita menjelma gubuk kecil

aku ingin mengirimkan matahari-matahari
menurunkan senja-senja
tapi maaf
keteduhan yang kuinginkan
melancung ke dalam nafas-nafas gelap

ingin aku rebah dipundakmu
atau kau terpejam dipundakku
dan kita basah dalam embun
yang telah lama hilang

tapi maaf
kalau maksud tak
duduk pada tempatnya
tersasar ke tanah-tanah gelap

aku betul-betul ingin
kau disini
kita rebahkan risau
dalam bayangan yang menyatu
lembut


—
Toba.
1:45 AM 4/14/03

Kuusahakan yang kupunya

Bung!
kau memilihnya
tegas-tegas kau nyatakan
patrian jiwa bersama

sedikit-demi-sedikit
mencicil keberanian memenuhi
janji dan kewajiban

Maaf, aku tak tahu betul
ketepatan dan kebenaran pilihan

aku akan bungkam
suara-suara sumbang
tak peduli hitam-putih pilihanmu
sebab kita dua jiwa
sama harus memilih

Biar kusumbang doa
tak mungkin terjun dalam hidupmu

tapi, seperti puisiku terdulu,
Bila pilihan itu menggigit
tanpa terduga
bila pilihan itu mematahkan
tulang-tulang lunak hati

datanglah padaku,
kita cari obat terbaik untukmu


===================
Toba.
29/10/2004