Category Archives: Puisi Cinta Nyenius

Dambaanku, dambaanku

luruh semua beban di dada
saat kutiupkan huruf-huruf
yang membentuk namamu
diujung bibirku

hilang segala kelu
dan hadir segala rindu

Stasiun ini dingin
lampu-lampu berwarna sephia
aku membeku

dambaanku
jawablah sapaku,
tolehlah wajahku,
mataku yang berharap

dunia bergerak perlahan
orang-orang bicara dalam dengung
aku lihat pundakmu
menjulang seperti gunung tinggi
begitu jauh

dambaanku,
dengarlah suaraku
tak bisa kusebut namamu
lebih keras lagi
tak bisa kuulang keberanian
memulai sapaan

dan kau bergerak
bersama orang-orang
menuju kereta yang
berdengking.
aku lihat bahumu,
asap kereta,
dan jarak yang semakin lebar

dambaanku,
dijendela gerbong kau duduk
tersenyum bicara pada orang disamping
dan kau menoleh keluar, tepat pada mataku.
Kau tertegun,
dan roda kereta mulai berputar maju

Luka Taman Rahasia

Banyak yang bertanya
Bagaimanakah menghapuskan cinta
Bila goresnya telahmembarut dalam hati

“mengalirlah seperti air,
Biarkan rasa itu habis ke muara.
Jangan dilawan, sebab cinta adalah
Denyutan yang nakal dan murni,
Ia akan memberontak terhadap segala tekanan”

Banyak yang bertanya
Bagaimanakah menghapuskan cinta yang tak seharusnya,
Sedang bunganya telah memenuhi taman hati

“cabut akarnya,
Mandulkan tanahnya.
Walau penuh darah,
Ia toh kan sirna juga”

Kebodohan telah terjadi
Dan keputusan adalah barang yang sulit

“Seringkali, kebodohan harus diperbaiki
Dengan darah
Dengan luka”

Cinta yang Salah

Dalam cinta yang salah
Kita terus berenang dalam tawa
Menembus hujan dan panas

Tak ada yang betul-betul rahasia
Di dunia ini, sayangku
Sepertinya mereka tahu
Dan membenci dalam diam

Dalam kegelapan segala sesuatu,
Norma-norma runtuh
Berganti taman-taman indah
Yang mungkin palsu

Mungkin inilah yang disebut
Dengan ; gila

Chaconne

I (23 nov 2008)

Akankah
Masih kau palingkan wajahmu padaku
Apabila langkahmu semakin kukuh dengannya

Akankah
Tetap kau berikan senyum sepenuh jiwa
Pada hatiku yang meratap dan merayapi dinding sunyi

Pada langit aku bersumpah
Tak kan kutitikkan air mata kesedihanku dimatamu
Akan kujaga senyummu
Akan kubela kebahagiaanmu
Walau harus terperosok jauh ke dalam duka

-Ibu, anak gadismu mencinta
Dan tak terengkuh apa yang didamba
Ibu, tak terperi rasanya tersisih dari yang tercinta
Dekap aku ibu, berikan kehangatan rahimmu
Sebab duka ini menitik di tiap menitnya
Duhai, betapa tak tertahankan-

Sayangku, akankah
Kau tahu, betapa pun jauh wajahmu
Hatiku merapat erat di jiwamu
Kepada siapapun tubuh ini bersandar
Jiwaku terus mengawang menanti pelukmu

Biarlah habis air mata ini
Kusulam sendiri
Biarlah habis sitir rindu ini
Kukulum bersama angin

Sayangku,
Kecintaanku,
Dambaanku,
Akankah.

 

II (05 aug 2011)

Ternyata,
peluknya, betapa erat
langkahku semakin kukuh dengannya

dambaanku, maaf,
wajahmu kupigura
menggantung pada langit yang kutinggalkan

aku tersenyum,
melihatnya sekilas dan pergi
bagai anak kecil
berlari mengejar janji

tak kunanti tolehmu
tak kutunggu sapamu

selamat tinggal.
senyumku tulus

 

Bersulang Untukmu Sepenuh Hati

Kau yang pernah kupilih,
Kutimbang-timbang perlahan
Gadis dengan bunga yang merintik
Pada tiap ujung senyumnya
Tatap yang lembut dan pikiran yang tajam
Ah betapa waktu telah berlalu

Aku menyaksikanmu dari jauh
Melihatmu menari dan tersenyum bersamanya
Kuacungkan gelas kopi kegelisahanku
Bersulang untukmu berdua

Terima kasih,
Pernah membuat malam-malamku
Penuh bintang, harap, dan penantian
Saat itu adalah masa-masa gelap
Yang megah dan glamor

Betapa wajahmu selalu terbayang
Pada langit malam yang kutatap
Namamu selalu dihembuskan angin
Pada kota yang sunyi

Aku bukan lagi pencinta seluruh wanita
Tak bisa itu, dan tak mungkin
Aku cukup senang pernah mengenalmu
Dan hampir mencatat cerita bersama

Maaf, hanya kebetulan lewat dan melihatmu
Tak bermaksud menengahi cintamu
Aku pun sedang kesana
Menuju wanita yang ingin kuraih
Seorang yang sederhana dan penuh sayang

Sekali lagi, bersulang untukmu
Seteguk ini
Kemudian aku pergi

Tentang Perkenalan Singkat Kita

Tentang perkenalan singkat kita
Terdapat kecup-kecup manis penuh bunga
Senyum manja yang tulus
Dan bibir yang kadang merengut sebal

Mungkin kau menyesalinya
Dan merutuk pertemuan itu
Aku tidak
Itu alur cerita yang pernah kita pilih
Dengan sadar
Sebuah usaha menawar ketentuan Tuhan

Dan ya, itu singkat
Tapi bunga yang hanya hidup semalam pun
Memiliki keindahan yang mengundang rindu

Dulu kukatakan,
Aku ingin mengenalmu seutuhnya
Seluruh tentangmu
Senyummu, marahmu, manjamu
Dengan lapang dada kupeluk semuanya
Karena berasal darimu

Tahun sudah berganti
Semuanya telah menjadi sejarah
Tak tercatat
Mungkin ada jutaan kisah
Seperti ini di luar sana
Tapi ini milik kita sendiri

Kaupun tak akan tahu
Puisi ini untukmu
Tapi itu tak penting
Karena aku tak berusaha mengajak
Kembali kesana
Kisahnya sudah di pigura
Yang siap kubakar

Tetaplah senyum itu
Berikan kepadanya dengan indah
Sepenuh hatimu.
Adios

Minggu yang Dibalut Pertengkaran

Minggu-minggu ini
lengkap kita balut
dengan pertengkaran

sekian detik termakan
dalam marah dan sedih

lelah ya,
dan tentu bosan sangat

kita harus mencari wajah lain
dari percintaan kita
mengeluarkan sisi-sisi
menarik yang belum lagi terlihat

Ya, setelah bulan-bulan yang
menyenangkan sebelumnya,
rasanya pertengkaran itu menyehatkan
dia mengalirkan lagi darah kotor
hubungan kita,
ekses dari kebahagiaan sebelumnya
– tak ada yang tanpa efek samping di dunia ini –

dan sebagai penyadaran penuh
bahwa keadaan selalu berbalik-balik
tidak selamanya berdiri di satu posisi

pertengkaran adalah tanda kehidupan
dan pemahaman yang menyelam makin dalam
pertengkaran adalah penyegar
karena dunia tak bisa seluruhnya putih

Tapi,
lelah ya,
dan tentu bosan sangat

dan ya sayang,
segala sesuatunya tak boleh berlebih
juga dengan pertengkaran kita
dan ya sayang,
semua ada kadarnya, ada batasnya
janganlah kita lewati garis itu

minggu-minggu ini
lengkap kita balut
dengan pertengkaran

dalam tenang kata-kata hambar
dan korsleting mudah terjadi
pada emosi kita

Jadi rawan pada disorientasi
jadi sawan pada bosan

ayo, sebisanya kita pergi
dari lembah ini

5:20 20/02/2007

Dan Kau pun Hilang Dalam Mimpi Itu

Semalam aku memimpikanmu
menangisi kegagalan kisah yang dulu

yang menunnjukkan habis sudah
semuanya
wajahmu, senyummu, tanganmu
yang mengajakku pergi.
sudah tak berlaku lagi

pecah semua gambaran itu

kau tertawa renyah
menggandengku menuju duniamu
dan aku hanya diam mengikutimu perlahan
dari jauh

tanpa lelah tersenyum
kau kenalkan aku kepada orang-orang
yang semuanya menegaskan sayangnya
kita berpisah

-aku tetap tanpa geming-

ada juga sedih terselip
seperti daun pisang dipatahkan angin

dan kau pun hilang
bahkan dalam mimpi itu
tinggal aku bersama orang-orang asing
tertawa dalam sakit

dan kau pun hilang
tetap dalam senyum

13:09 04/01/2007

Kau yang Sebatas Catatan Sejarah

*Dengan egois yang sadar

Aku mengenangkanmu
bukan karna cinta

hanya rindu pada
masa dimana jiwaku begitu bertenaga
hanya rindu pada
langit yang menaungi kemudaanku

aku membacakan puisi
bukan karena menginginkanmu

hanya mencoba raih
nyawa pekat yang meliputi hatiku dulu

Langit betul-betul berawan antara kita
Debu benar-benar mengacaukan pandang
Jangankan sinaran Tuhan
sedang mentari pun tidak menerangi
jalan menujumu

– aku tak (pernah) lagi protesi hal hal itu –

Kau menjadi data yang kubaca
dalam byte-byte kaku
demi kepentinganku sendiri
tanpa harap lebih jauh

Hanya untuk merasakan pendaran-pendaran lama
yang sama sekali tak berhubungan denganmu
kisah kita kujadikan mesin pabrik
untuk memerah kemurnian rasa
yang dulu kau sia-sia

Kubaca namamu
bukan karena ada benih yang tumbuh lagi
Hanya sedang belajar sejarah diriku

—————
3:11 22/10/2006