Category Archives: Puisi Cinta Nyenius

4 Malam di Tengah Sya’ban

Malam 1. Sabtu, dini hari.

Malam terang
Bulan putih bergelung
dibalik mendung

Setalah mengamuk
Halilintar terduduk tenang
mengatur nafas

Malam tenang
semuanya memutih begitu datar

Cahaya-cahaya putih tipis
Menyelimutiku
Memelukku
Menenangkanku

Sesekali aku meraung
Ada binatang bersarang dalamku
begitu kental menyeringai

– cahaya-cahaya putih tipis terus bersinar –

Mengingatmu
Gadis bunga merah jambu
Mengingat dosaku
Jatuh aku

Pertemuan tempo waktu
Adalah pertemuan bunga binatang
Yang satu menggeliat buas
Yang lain anggun merekah

Malam tenang
Bulan dan bintang pergi cuti
Sebab ini malam Sya’ban yang suci
Aku rasa entah hidup entah mati

Waktu terus bergulir
Pagi menjelang, Nishfu Sya’ban hendak pergi
Belum kusapa ia
Aku tergantung dalam celaka

– kelembutan cahaya tipis yang manis menemaniku –

Bagaimana aku
harus bertemu bungaku
Aku rasa tak pantas
Aku rasa malu

Aku tunggu kamu
Tak datang juga
Aku butuh kamu

Terduduk bersama mendung
Akumerindukanmu
Terduduk bersama mendung
Aku berdosa padamu

– cahaya tipis datang menenangkan –

Sesekali noda hitam itu
Mencuat ke atas jidat
AKu menjadi begitu marah
Sesal dan jijik menari

Siang. Sabtu, tengah hari.

Siang begitu tenang
Hari tengah puasa
Sepenggalah lagi raja hari di atas kepala
Aku terbangun dengan ludah
mengental di tenggorok

Maam tadi aku bermimpi
Aku di dikte oleh malaikat
Aku diajar tenang
“Dalam tenang ada cahaya,
emosi menunduk pergi”

Aku bangun dan terpana
teringat kamu bungaku
sudah siang rupanya
malam Sya’ban lewat tanpa kusapa

Aku lapar akan wajahmu
Tapi teringat dosaku
Aku diam

Akhirnya aku bunuh diri juga
Si Keparat itu pisaunya
Nafsu

Nafasku bersesakkan
Aku kacau
Tapi hari yang puasa
Aturkan semuanya

Semuanya,
membuatku takut dan rindu
kepada mati

Sabtu, magrib

Di luar
Hujan berlarian dnegan tangkas
Langit mendung tentu
Dan guntur terbahak bersama angin

– Langit tengah pesta rupanya –

Kutengadah ke atas
Kurasa air bersijingkat lincah
diwajahku

Aku basah
Kutertawakan segalamendung
Mereka temanku
Kutertawa bersama katak

Aku orang lupa yang ingat
Aku orang mungkir yang menyebut

Aku tengadah ke atas
AKu basah

Sudah dua kali kupanggil bungaku
kau tak ada
Sudah pula kau cari aku
Aku tengah gila

Aku rasa tak mampu memandangmu
Ku ingin kau lihat aku

Kata-katamu tempi hari
Menusuk hati

Aku tidak sakit
aku sadar.

– Saat itu semua setan menertawaiku –

Aku tahu kamu
aku rasa hatimu
tapi aku malu
kutunjukkan kegilaanku depanmu

– itu bukan untukmu –

maafkan aku

Siapa tahu sesalku
siapa tahu sesakku
Aku mual

Bila ingat itu
Segera kupecahkan dengan
gelengan kepala

Di luar
Hujan berlarian dengan tangkas
Bumi dan langit menari
Tarian gaib yang padukan luka dalam pesta

– megahnya –

Aku tertawa
Kini asap dan langit tempatku bersenda
Kupeluk mereka dan menangis
“Terima kasih telah menghiburku”

– mereka terus berpesta –

Aku tergila-gila pada luka
Dalam mereka ada kata dewasa

Kamu bungaku
Maafkan aku
Seharian aku sibuk dnegan sesakku
Aku rasa tak mampu bertemu

Aku bingung dengan kata-katamu
yang ada pada diriku

– Aku tidak salahkan kamu –

Entah kau dimana
Tapi coba kau lihat langit dan bumi saat ini
Dua kekasih lama yang terus ciptakan keselarasan

Merekalah yang menghiburku sekarang
Mereka adakan seminar kilat
tentang cinta
Seminar akbar
Seminar cinta yang megah di alam raya

Pada mendung
Pelajaran luka
Pada hujan
pelajaran kasih
Pada petir
pelajaran maut
Padasemuanya
kutemukan seorang kawan

Aku lemas
Lelah tidak

DI luar
Hujan berlarian dengan tangkas
Mereda
Pesta hampir usai

Malam 2. Sabtu, tengah malam.

Malam di tengah orkestrasi gerimis
Begitu tenang
Aku tidak berpikir tentang dosa
Hampirtidak berpikir apa-apa

Seekorkumbang
Terjebakdalam kamar
Tertarik cahaya bohlam
Terpenjaralah ia

Aku juga
Sedang kucari kuncinya

Aku bertanya pada Tuhan
tentang memenjarakan hewan
yang dilahirkan bersamaku

Ia begitu licik
Berlari menyelinap kesana kemari
Seekor hewan yang begitu tua
dan aku yang begitu muda

Aku terkecoh
Tergelincir sampi ingin mati
dan iapergi sambil ngikik dalam hati

Lima puluh kali kutangkap ia
Seribu kali aku dikibuli

Aku bertanya pada Tuhan saat hujan
Aku minta tolong tangkapkan

Tuhan selalu menjawab
Tuhan selalu menolong
Hanya aku tetap keparat

Malam ditengah orkestrasi gerimis
BEgitu syahdu
Aku ditemani musik sikafir
Aku coba senang saja

Aku maju-mundur menghadapimu bungaku
Antara ingin dan tak mampu
Antara butuh dan galauku

Aku menunggumu
Tapi tak kunjung juga

Seekor kumbang
terjebak dalam kamar
Lelah ia
Merayaplah pada kakinya

Aku membayangkanmu
Orang semanis kamu
mau padaku
Hebat kupikir

Terlalu banyak kompromi terjadi
AKu menjadi takut
Aku seperti mesin perusak besar

Kupesankan hati-hati

Sering kuminta tolong-Nya
datang selalu
ku hianati selalu

Dibakarkan-Nya sebatang korek
dan kemudian kutiup kembali

– kupesankan hati-hati denganku –

Tak jarang kutemani setan
yang selalu berusahamembunuhku

Tempo hari
setanku tampak padamu
Kau tak layak dapatkan itu

Ini sulit bagiku
Tapi kejadian itu dan kata-katamu
BEgitu membekas biru

Aku harus sadar
Bila bukan untukku
Maka itu untukmu

Aku berani dan takut kehilangan
Makin banyak kenangan
Makin menakutkan dan menyakitkan

Aku gelisah
Agar kau tidak
Aku ingin ditemani

Malam hening
orkestra selesai
Tinggal kucuran-kucuran
sisa tampungan hujan bernyanyi

Si kafir masih terus bernyanyi
Dan aku terus coba senangsaja

Besok tak pasti
Aku coba tenang saja

Seharian tadi aku tertawa
dengar kisah orang-orang
coba hilangkan jijik padaku

Seekor kumbang
terjebak dalam kamar
kini kemanaia

Kurasa ia tahu
ada hewan dalamku

Bila ingat dia
aku ingin mati
aku tak ingin mati

Si Chairil gila itu salah
Dia bilang, “Hidup hanya menunda kekalahan”
Hidup adalah mencari kemenangan
atas hewan gila itu

Ia begitu tua
dan aku begitu muda

Malam 3. Minggu, malam.

Malam datang
Hujan tumpah lagi
sepertinya bumi berpeluh
karena berdansa tiap hari
langit juga

Hujan deras menderu
Meatari jalannya waktu
yang sarat kejadian

Kulihat diriku
Memadamkan beberapa api
Dengan senyum Tuhan bantu
Berhasil!

Semua padam
Semua menyala lagi

Tapi apiku
siapa padamkan ia
Akumenjai pecundang
baginya

Kenapa begitu bodoh?
Kenapa begitu bebal?

Jangkrik puasa
Tak bernyanyi
Sarangnya tertimpa hujan

Aku seperti dokter
yang tak bisa sembuhkan
bisul di pantat sendiri

sebodoh itukah aku?
Sebebal itukah aku?

Hujan mulai lagi
awan dan petir
konser begitu gayanya

Aaha temanku datang lagi
tadi pala’ku dibelainya
Amboi begitu sayangnya ia

Mengapa aku bercumbu dengan hujan
Aku kehilangan alasan
mungkin karena dia seorang teman

Bungaku
Bungaku
Aku butuh kamu
Aku butuh kamu
tapi aku bingung

Malam 4. Senin, setelah Isya.

Malam berganti
Siang berganti
Tapi samajuga
Bulan dan bintang masih cuti
Akupun masih duduk-tidur di sini

Jangkrik betina lelah
Enggan menarik perhatianjantannya

Malam ini
Aku rasa siap
Aku dan kamu
Kita bermuka-muka
Kita bicara

Nanti jangan diam
Aku ingin dengar rajutan sutra
dari hatimu

Aku dapat kawan baru
kamarku
Mereka tidak menuding
Mereka mau menerimaku
Kamu?

Malam ini
Aku rasa siap
Kutertarawai jangkrik betina
yang enggan bicara dengan jantannya

Mendung tertawa
Lihat aku lulus dari workshop-nya

Langit hening
berikan sebuah senyum penghargaan

Kamarku sepi
Tak ada nyawa selainku
dan aku rasa siap

Mataku lelah
Aku tak mau gila
Aku masih punya Tuhan

ku senang semuanya berjalan
dinamis
AKu benci kamu diam

Ternyata sejelek-jeleknya aku
Tak ada aku lain
AKu hanya satu
Aku adalah cinta TUhan

Lihat! Asap-asap menggelembung
Berputar-putar menari berjinjit
Begitu genit!
Mereka rayakan sadarku
Mereka rayakan siapku

– mereka jamu aku –

Kulihat marah dan cinta
berdiri tegak rata
Sungguh cinta dasar segalanya!

Kemarin ingin kubuang mulutku
Bagai ular yang ingin buang taringnya
Kurasa mulutku penuh busa
Dia itu celaka!

Kini aku menulis dengan tenang
AKu berasa siap
Walau tetap bingung juga

Melihatmua terdiam biru
Kulepas egoku
Aku masih bingung

Kutinggalkan kasur lamaku
DIsitu mimpiku tak tentu
Bagi hantu!

Lihat kasur baruku
Nyaman, tenang
dan aku tahu mimpiku

Aku bosan menjadi orang bodoh
Melecehkan diri sendiri
sampai ingin mati
lupaka aku hanya satu
dan hidup hanya sekali

Aku masih punya mimpi
Hidup bersama kecintaanku
Dan melihat aku-aku kecil berlarian


===============
Sabtu, 11 Nov 2000 (malam nishfu sya’ban) – Senin, 13 Nov 2000

Tentang Seorang Gadis

Air beriak-riak
Hujan memantau-mantau
Seorang gadis berlompatan
berkejaran dengan hujan

Dalam diam yang senyum
Dia sodorkan dua kerat taman bungan
dan sepotong kata
“Sorry, cuma ini”

Lantas dia lompat dan pergi
belum sempat aku tersadar
dia sudah tembak aku bertubi-tubi
kukutuk kesadaran yang terlambat

angin berbisik dari lompatannya
megipasi bibirku yang tersenyum

Ihh!
Kutangkap nanti
Dan kau kubuat mati

Toba 2000
=====================
Revised on 23 sept 2004

Sejurus Mandang Lautan

sejurus mandang lautan
menengok luka yang tersisa
satu-dua uratnya masih berdenyut malu

Tak usah lambaikan tangan
tak usah ucapkan pisah
pandangi ia makin hanyut ke tengah
jauh dari dada kita

di pantai ini
kita hanyalah pelancong
yang mengagumi paduan
matahari sore dan keindahan luka

pelesiran ini jadi rutin
karena kita butuh romantisme
kita butuh menyerap keindahan tangis dan ratap
agar penyesalan malu

sejurus mandang lautan
wajahmu dan harap yang menggantung
terbingkai jelas berlumur matahari senja

================
18 Sept 2004

Satu Episode Terakhir

“Kenapa kau tak memelukku?”

“Tak bisa, kau harusnya lebih dari sekedar pelukan”

“Aku membutuhkannya”

“Ya, dan mungkin juga dengan sebuah kecupan manis dibibir sebagai pembuka…”

“Itupun aku membutuhkannya”

“… Kau lebih dari sekedar kecupan…”

“Aku menginginkannya, dan aku inginkan itu darimu”

“Kenapa kesepianmu jadi penuh nafsu?”

“Entahlah, dia memperlakukanku begitu, dan aku jadi membutuhkannya, terlebih bila datangnya darimu… atau sekedar usapan di kepala mungkin?”

Tangan si pemuda hampir meraih kepala sang gadis, hingga rasa takut kehilangan melanda hati dan tangannya.

“Tidak bisa juga, usapan itu hanya pintu menuju sentuhan yang lain”

“Inilah aku, orang yang kau cari katamu. Aku pun mencarimu. Aku telah berubah.”

“Maaf sayangku, tapi hati bukanlah besi yang berkarat. Hatiku tetap mencintaimu seperti dulu, dan juga tanganku masih tak berani menyentuhmu (juga seperti dulu). Aku tak peduli berapa lelaki telah menyentuhmu, tapi itu bukan pilihanku terhadapmu. Cukup aku sentuh kau dengan senyum dan hati – setidaknya saat ini -”

“Kau bodoh, aku menderita”

“….”

“Ini mungkin dosa, tapi begini adanya”

“Bukan dosa benar jadi pikiranku. Tapi kesucianmu yang terpatri pada tiap senti tubuh ini, mencegah mereka meluluskan inginmu”

Gadis itu membisu. Diam-diam ia kecewa, hanya angin dan karpet lembut yang diberitahunya.

“…. Akan kubelai kepalamu…”, lelaki memutuskan.

Gadis itu tetap diam, hanya kepalanya bergerak mengharap belai. Tangan lelaki yang gemetar coba meraihnya, tapi tak bisa, tangan itu kembali lagi pada tempatnya.

Gadis itu makin diam. Gusar dan sangsi hanya diberi pada pegangan kursi semata.

“Percayalah, sakit sekali menahan tangan ini dari menyentuhmu, dari sekedar merasakan pasir lembut yang tersasar dipipimu…. Tapi aku tak bisa, itu hanya akan menyamakanmu dengan perempuan-perempuan lainnya.”

“kau mencintai bayangku kalau begitu.”

“Aku mencintaimu, dirimu seutuhnya. Tapi bukan ini perjalanan yag kuinginkan bersamamu.”

“Apa yang kau inginkan itu tak pernah ada. Aku yang kau harapkan telah jadi fatamorgana, tipuan menggiurkan di tengah gurun. Kau, kau yang kudamba begitu lama. Sentuhanmu yang kuharap melebihi sentuhan siapapun yang pernah menyentuhku (yang aku tak pernah benar-benar rela), harus tertepis oleh bayang kosongmu tentang cinta. Kau, aku menjaga wajahku dan semuanya demi kau, agar kau bisa merasakan kelembutanku, dan jemari tanganku (yang bila kau sentuh) akan mengirimkan getaran kerinduan yang telah menjadi kegilaan dalam damba yang sangat akan dirimu…. tapi semuanya terbentur bayangmu tentangku, bukan diriku yang sebenarnya”

“Kau….”

“Sudahlah, lebih baik kita bicarakan tentang mentari yang terbenam ke dalam kebun sore ini”

“….”

“….”

Mereka diam, wajah sesekali bertemu pandang. Sedari tadipun mereka tak bicara, hanya tubuh yang menyampaikan bahasa. Masing-masing tubuh diam kaku diatas bangku yang berdampingan. setelah gelap memagut pori-pori bumi, lelaki itu berpamit.

“Aku sayang padamu”, perempuan itu berkata.

“Begitu juga aku”

Ia menghilang ke arah kebun singkong, berjalan dengan hati meninggalkan gadis itu selamanya, menyadari ia cuma mimpi. Dan si gadispun melepasnya sepenuhnya, ia lelah terus menimang-nimang perasaanya terhadap sang lelaki.

Udara petang beraroma tanah gembur dan perpisahan.

1:52 29/02/2004

Ini Titik Kita

Senyum saja.
kita mati kata waktu jumpa

kalimat-kalimat berlarian cepat
tanpa arah hendak kemana

dari balik pintu bus
kau hilang, sehilang-hilangnya
dari pandangan

biar sekali lagi kita jumpa
setelahnya tutup saja
benang tanpa ujung ini

mau apa lagi?
semua sudah kita lewati
hanya ada kalimat rahasia yang
belum tersampaikan

sudahlah, lupakan saja harapan kosong kita
buang ganjalan dihati
masuki dunia baru

kita harus berenang
dipasir kehidupan ini
jangan tambahi beban lagi

aku bilang ingin jumpa
dan kita berjumpa

“Baik-baiklah kau selalu”

puisi inilah
titik itu.

.2:07 AM 7/22/2003

Ini Harus Selesai

Jangan bertanya sekarang
Kau sudah kuhapus
sudah kubuang

Tapi kau bertanya juga
setelah diammu selama itu

Ternyata kau simpan
jauh di hatimu
perasaan yang membingungkan

Kau bertanya dengan manis
tentang dirimu dan mimpiku
Aku teringat lagi kamu
Aku mencium lagi harummu

Harapmu bicara
Dalam kemurungan penuh ragu

Aku tak mampu jujur sekarang
Telah kubuat banyak dosa
Mereka menjadi jaring
dan menjeratku

Dan kau datang
sebagai tanda tanya
yang selalu ingin kubuka

ruangmu sudah kututup
tapi tak hilang

aku jadi bingung
dimana kesejatian
aku jadi ragu
tentang kebenaran

kau tahu
aku muak dengan urusan ini
tapi memang belum selesai

Kuminta, datanglah suatu waktu
dimana kau dan aku
tak peduli penuh luka
kita harus bicara
tak peduli siapa berdarah
siapa tertawa
tapi jadikan hari itu sebuah titik.
Sebuah penghabisan

Tak peduli luka atau sebaliknya
Ini harus selesai

2:13 AM 6/30/2003

Bayanganku dan Kau Saat Ini

kukira akan datang hujan senyum
tapi tidak

hujan luka dan penderitaan
merambat dari langit tak terduga

kau, datang begitu saja
menghadirkan satu lembaran putih
yang tersobek

aku tersenyum waktu
luka itu kembali
aku tahu ada bahasa yang lari
dari tempatnya

kukira kau akan hadir
dalam bayang mimpi malamku
tapi tidak, bahkan dalam angin pun
bisikmu hilang

aku tak tahu
apa kau menari atau menangis
tapi aku tahu kenapa
bila dua hal itu terjadi

kau selalu hadir
dalam satu lagu yang tak pernah
mau kau dengarkan
dan saat itu, aku
duduk dalam ruang temaram
penuh asap dan angin purba

“jaman berubah,
waktu terus berjalan,
dan semuanya menjadi remeh”
sekali waktu, luka dikaki
sering berkata itu

tapi tidak
kita memang harus bicara
entah sebagai apa
kita harus bertemu
entah untuk apa
ada kado yang belum kuberikan
entah itu apa
tapi hatiku bilang begitu
– kita harus jumpa –

4:16 AM 5/13/03

Puisi yang Pudar

Lewat tinta
sebuah puisi yang pudar
teraba lagi hari-hari keemasan
dan malam-malam yang selalu senja

sudah tertuliskan begini
kita hanya diizinkan untuk merasa
tidak menyentuh dan memiliki

Dekapan yang dirindui
benar-benar tinggal kerinduan

malam dirundung sendu
menghapus air matanya dengan
sapu tangan; selendangmu yang lepas
dan tak pernah teraih lagi

cerita kuno itu
menjadi tempaan keras bagi hati
menumbuhkan, menopang ketika goyah

Begini hidup itu
Kafilah besar yang terus melaju
yang mati dan luka ditinggalkan
dan ia tetap melaju

puisi yang pudar
sisa masa yang mati
kuburkan baik-baik,
lupakan.

2:47 PM 9/20/2003

Mengingatmu, Merepotkan

tidak bisa tidak
pikiran tentangmu memang mengganggu
ketenangan selalu rusak
senja yang terbangun buyar
mencair seperti limun tanpa gizi

wajahmu selalu melahirkan tanya
menghadirkan keraguan yang tak diharapkan
tak kurang dayaku melepas, menghapusmu
tapi sia-sia
kau seperti hama
selalu lahir dan semakin penuh

“apa yang kau mau dariku?”
itu pertanyaan kita berdua

mungkin kita ini bodoh
tertipu oleh kemudaan
dan dunia yang baru terpandang setitik

dalam apa hendak kukubur kau
mungkin itu juga tanyamu suatu ketika

“aku yang kau inginkan?”
itu pertanyaan kita berdua

tapi juga tidak bisa tidak
bayangmu membantuku berjalan
memapahku berdiri dan
menggelorakan pikiran

tapi
kau ya cuma kau
kau hanya kau
sekedar kau
tak lebih dari kau
dan
justeru karena kau
aku sulit melupakan

3:10 AM 4/26/03

Harapan

Setiap langkah kecil
yang kita bisikkan pada angin
penuh cinta

Kita akan jadi anak nakal
meninggalkan ruangan ini
tanpa izin dari angin itu sendiri

kita akan melangkah
kepada sesuatu yang hidup
kita akan membelai bunga-bunga yang terlewati
kita candai mereka hingga cemburu dan kesal

kita telah pulang,
menyingkirkan semua kebohongan
dan kembali menghimpun doa-doa

dalam hitungan tahun-tahun
kita kais rahmat Tuhan
yang tercecer satu-persatu

Dalam tiap senyum yang lepas
kita melewati angin,
membasahi hujan,
membasuh air
dalam wudhu rahasia

kita intip Kitab Penghimpun
dengan cinta

Kita akan segera jumpa
Nanti kita bunuh jarak ini.

3:38 22/12/2003