Suatu hari pada tahun 2001, gue lagi duduk di tangga SMA gue (saat itu gue baru beberapa bulan lulus) sambil ngobrol-ngobrol sama guru matematika gue yang pikiranya cukup idealis (setidaknya gue pikir demikian). Dia bicara tentang kesempatan, dia bilang; “Kesempatan itu Cuma datang sekali, selebihnya kita yang harus bekerja keras membuat kesempatan itu.”
Gue tercenung mendengar paparan itu, dari awal ngedengernya, ada sesuatu yang rasanya ngganjel di kuping. Gue bertanya beberapa kali tentang pernyataannya itu, dan jawabannya selalu membenarkan pernyataannya tentang kesempatan. Gue berhenti nanyain hal itu, tapi dikepala, kalimat itu terus muter-muter, pertanyaan terbesarnya adalah “BENARKAH BEGITU???” Selalu, gue kalo denger kalimat atau pernyataan dari seseorang yang umur dan pengalamannya jauh diatas gue, gue akan lebih banyak diem ngerenungin omongannya, ketimbang membantah. Pertimbangannya adalah, pasti ada suatu pengetahuan, terutama yang sifatnya empirik, yang membuat dia mengeluarkan pernyataan tersebut. Ini salah satu masalah yang kalau diomongin aja gak akan selesai-selesai, dia harus dibuktiin dengan pengalaman.
Bertahun-tahun lewat sampai hari ini, selama itu gue gak pernah mengambil sikap setuju atau tidak terhadap pernyataan itu. Sisi percaya dan ragu sama kuatnya, walaupun munculnya bergantian (masak barengan 50-50, gak mungkin lah hehehehehe). Pada beberapa sisi, sikap ‘golput’ gue ini agak mengganggu pengambilan keputusan gue terhadap situasi atau kesempatan yang sedang gue hadepin pada masa-masa itu. Berkali-kali hal ini dipertanyakan dengan keras oleh kepala gue, tapi tetep gak ketemu jawabannya. Mungkin karena
Sekarang gue sadari bahwa pernyataan itu tidak lengkap. Ya sebagai sebuah kalimat pernyataan dia sudah selesai, tapi untuk aplikasinya tidak seperti itu tampaknya. Setiap orang memiliki banyak kesempatan, bahkan terkadang dia dihadapkan dengan berbagai kesempatan pada waktu yang nyaris bersamaan. Mending kalau kesempatan itu seragam, bisa dibuat tingkat-tingkat prioritas atau tingkat profitnya. Nah, kalau kesempatan itu beragam bentuknya? Pada akhirnya yang menentukan bukan banyaknya pilihan atau kita mengambil semua kesempatan itu, tapi; mengambil keputusan!
Hidup ini isinya pilihan-pilihan. Kenapa gue bilang begitu??? Gue melihat dari ‘fitur gacoan’ yang dianugerahi Tuhan buat manusia yaitu; akal; kemampuan untuk memilih – ini yang berulang kali ditekankan sebagai pembeda manusia dari mahluk lainnya. Dari situ timbul pertanyaan, kenapa kemampuan memilih yang dianugerahi kepada manusia? Bukannya kemampuan bisa terbang atau indera yang super tajam misalnya. Segala sesuatu dipersiapkan untuk menghadapi masalah atau environment (lingkung hidup) yang akan dihadapi. Malaikat dibuat tanpa cela dan tidak berpikir karena ia memang bakal ditugaskan untuk mengerjakan perintah Tuhan tanpa membantah. Disamping argumentasi tersebut, coba tengok keseharian kita. Pagi, kita memilih baju yang akan dipakai, baju dan celana ada banyak dilemari kita, tetap pada akhirnya kita harus pilih salah satu dari jenis-jenis pakaian tersebut (celana dalem sama celana jeans kan beda kikiki), begitu berangkat, kita pilih pakai angkot yang ana, misalkan gue di ciputat mau ke Terminal Lebak Bulus Jakarta, bisa aja gue naik angkot Parung-Bogor, terus sambung Bogor-Bandung, baru dari Bandung naik bis yang ke Terminal Lebak Bulus (info, aslinya dari ciputat ke lebak bulus cukup naik satu angkot kecil ajah). Pilihan itu bola liar yang memungkinkan untuk dipilih, dan setiap pilihan satu paket dengan konsekuensi yang dibawanya.
Teman saya, seorang programmer komputer yang cerdas pernah berkata; “Di dunia ini Cuma ada dua hal 1 (satu) dan 0 (nol). Jadi intinya, ya atau tidak.”

. Gear-nya bunyi, rada berisik juga sebenernya, “serrrrr” begitu kira-kira suaranya. Dan malem itu gue maenin di depan rumah, tepat di depan kamar enyak-babeh gue. Jadi rada-rada kawatir juga maennya, takut-takut kalo bokap keluar dan ngomel-ngomel (saat itu jam 2 pagi). Soalnya kuping bokap rada sensitif sama suara-suara. Tapi sukurlah rupanya gak ada yang bangun, dan gue mulai familiar sama belok-beloknya maenan baru ini.