Author Archives: Nyenius

Update: Sabtu, 15-Mei-2010

Update Sabtu 15 Mei 2010:

Main Tank:

  1. Penampakan pertama jabing, bengong dibawah karang besar menghadap muka main tank.

    .
  2. 02.00 pagi. Pemasangan refugium, baru ada waktu jam segini. Ya ngerjain malam-malam lebih enak, tenang.
    1. Dari kemarin sore, air laut simpanan di dua jeriken di aerasi, untuk menaikkan PH.

      .
    2. Pengetesan refugium tank, dan sudah tidak ada kebocoran lagi.

      .
    3. Merakit lampu, rumah lampu, kabel, dan colokannya. Kemudian di test dulu sebelum dipasang. 
      • Pemasangan rumah lampu beserta kabelnya. Rumah lampu disekrup ke atas.

        .
      • Kabel disambung menggunakan terminal kemudian dibalut selotip hitam. Sedangkan kabel yang menjulur menuju sumber listrik, di tempel menggunakan double tape tebal, 2 kali. 
        – Double tape ditempel ke kayu, 2 baris. Kemudian dikupas lapisan penutupnya.
        – Kabel ditempelkan pada double tape yang sudah menempel. Dan diberikan double tape lagi untuk menahan kabel tersebut. Lem double tape ketemu lemnya lagi dapat merekat sangat kuat. Yang dikhawatirkan adalah kekuatan sisi doble tape yang menempel ke kayu, untuk mengatasi hal ini dibuatlah dua baris double tape supaya saling mengimbangi dan mengurangi beban keduanya.

        .
      • Foto-foto:
        Image
        Image


      .

    4. Menandai batas 10 cm pada refugium tank dengan spidol.

      .
    5. Mulai memasukkan pasir ke dalam refugium tank, dan ternyata kurang 1 cm.

      .
    6. Ngayak pasir lagi sebanyak ½ ember adukan. Kali ini hanya dua kali proses. Tahap pertama yang tadinya 40 detik, dibuat 10 detik dengan 1 cup penuh. Dan tahap kedua jadi 5 detik dengan ½ cup. Kehalusan yang didapat tidak beda jauh dengan proses sebelumnya. Hanya saja ampasnya jadi lebih banyak.

      .
    7. Memasukkan refugium ke tempatnya. Mengisikan pasir sisanya. 

      ***Mungkin ada yang bertanya bagaimana bisa mengangkat akuarium yang penuh pasir (berat, karena pasir halus jadinya lebih padat). Itu karena saya copot hambalan dari lemarinya. Langsung saya set di lantai, hambalan/penyangga tank, styrofoam, dan tanknya. Dengan begini bisa aman diangkat kemana-mana tanknya.
    8. Meratakan pasir.

      .
    9. Memasukkan air hingga 1 cm diatas permukaan DSB. Dengan cara air di siphon, dan diatas pasir diberikan piring untuk meredam air yang masuk biar gak ngacak-ngacak pasir. Cara ini berhasil baik, karena susunan pasir tidak berubah, dan air tidak begitu keruh, hanya beberapa pasir yang sangat halus terlihat mengambang di permukaan.

      .
    10. Kemudian menambahkan 1 mangkuk kecil pasir dari DSB tank lama yang terlihat sudah banyak cacing dan infauna nya. Pake mangkok supaya menjaga pasir tetap basah. Link cara memindahkan pasir dari DSB yang sudah established : 
      Image
      Udah ditebalikin mangkoknya masih juga gak mau jatuh pasirnya, akhirnya dikerok dalam posisi mangkuk terbalik. 

      .
    11. Menambahkan air hingga sebatas sock drat tempat keluarnya air. 
      Image
      Sukur gak keruh airnya.

      .
    12. Memasang paralon ¾ untuk ekstensi pembuangan air ke sump, tanpa lem. Sementara ini air dialirkan ke chamber sump kedua, yaitu chamber skimmer. Supaya kalau ada kotor bisa langsung diskim.

      .
    13. Memasang pump untuk input air ke refugium di chamber ketiga sump (return pump) untuk mengalirkan air ke refugium melalui selang elastis.
      Image
      Lihat selang hitam yang di belakang.

      .
    14. ’Meng-off-kan’ Auto top up, supaya ketika refugium diaktifkan, bisa diketahui berapa air laut yang berkurang karena dipompakan ke dalam refugium.

      .
    15. Mengaktifkan semuanya. Langsung diketahui air yang berkurang karena dipompakan ke dalam refugium, dan langsung ditambahkan sejumlah itu. Lampu dinyalakan, sebagai bagian dari testing.
      Image

      .
    16. Thanks god semuanya berjalan dengan baik, bahkan paralon yang disambungkan tanpa lem pun tidak bocor (dari beberapa kali main paralon, sepertinya kunci supaya tidak bocor walau tanpa lem adalah pemotongannya harus rapih rata, tidak miring-miring).

      .
    17. Rencana ganti lampu phillips tornado 15 watt dengan lampu ulir megaman yang 10.000k


    .

  3. Brown algae sepertinya tumbuh ke tahap berikutnya, sekarang tampak seperti mempunyai cabang seperti pohon. Kemungkinan karena kadar phospat yang tinggi. Sekarang ini saya masih pake air tanah buat top up nya, lagi ngumpulin duit buat beli mesin RO.
    Image
    Brown algae mulai memiliki ruas batang

    .
  4. Clown semakin rakus makannya.

    .
  5. Mulut anemon masih terlihat membuka sampai hari ini. Kenapa ya? Apa memang seperti ini anemon karpet. Sebab saya pernah baca (lupa dimana), bahwa mulut membuka adalah tanda-tanda anemon tidak sehat.
    Image

    .
  6. Dicoba memberikan makan pellet Marine S buat anemon. Dengan cara mengarahkan pipa yang untuk power head ke mulut anemon dan mengalirkan butiran pelet melalui pipa. Terlihat anemon bereaksi dengan menutup bagian mulutnya rapat-rapat, bahkan clown pun yang berusaha ‘masuk’ untuk mengambil pelet itu tidak dapat menembusnya. Sepertinya dimakan, semoga saja.

    Image
    Tampak depan. Menutup setelah diberikan pelet

    Image
    Tampak samping


    .
  7. Jam 10 malam. Setelah melihat air refugium jernih, dan saya test ammonia 0 mg/l (sera), saya pindahkan anggur hijau dan dua cacing kelapa ke dalam refugium. Dan lampu dinyalakan.
    Image
    Image


*Pertanyaan:
– Apakah cacing kelapa akan baik-baik saja kalau saya nyalakan lampu refugium 24/7 jam?
– Kenapa mulut anemon karpet terbuka seperti itu?



Quarantine Tank:

  1. Morish ditemukan mati. Tidak jelas apa sebabnya, karena dari hari-hari sebelumnya tidak ada tank mate yang melakukan bully terhadapnya, dan diketahui juga sudah mau makan sawi. Apakah karena penangkapan menggunakan racun?
    Image

    .
  2. Ganti air sebanyak 30%

    .
  3. Algae mulai terlihat di kaca tank karantina.

    .
  4. Unicorn masih sering ngumpet.
    Image


*Pertanyaan:
– Betulkah Morish harus dipelihara lebih dari dua ekor (berkelompok), supaya dia tidak stress?

Saya Tidak Mampu Jadi CEO

Alkisah pada 2005, gw dan beberapa teman mendirikan sebuah workgroup yang diberi nama Xinix. Singkat kata, sekitar taun 2008 (seingat gw) gw memutuskan untuk keluar dari sana.

Dan pada medio tahun 2009 (ini pun seingat gw) teman-teman yang masih berkutat pada workgroup tersebut melegalkan Xinix menjadi sebuah badan hukum berbentuk PT. Dan pada awal Maret 2009 mereka mengukuhkan lagi langkahnya dengan tingkat keseriusan dan konsentrasi lebih tinggi, yaitu menyewa kantor dan beberapa tokoh kunci Xinix resign dari kantor sebelumnya demi bekerja full-time membangun Xinix.

Mereka adalah orang-orang andalan di kantor masing-masing, dan memiliki prospek karir yang cerah ke depannya. Tapi mereka lebih memilih menembus badai dengan perahu Xinix ketimbang meniti karir di jenjang karyawan. Totalitas dan keyakinan yang sangat patut diapresiasi.

Gw selalu punya khayalan basah (bukan mimpi, karena ingetnya pas melek :p ) bahwa suatu saat gw akan come back dan ikut memajukan Xinix bersama orang-orang hebat itu, ya khayalan murahan njiplak dari sejarah Steve Jobs dan Apple :))

Tapi melihat perkembangan mereka saat ini gw makin yakin, gw ga sanggup jadi CEO IT company 😉

My greatest compliment to:
Dudi
Re
Aves
Dwan
Angga
Habib Syafiq

Gw gak akan bilang ‘good luck’ karena kita sepakat tidak ada istilah ‘keberuntungan atau ‘kebetulan’. Tapi gw berdoa, semoga Allah mengerahkan alam semestaNya dalam membantu kalian mencapai yang dicita-citakan.

Update: Jum’at, 14-Mei-2010

Update Jum’at 14 Mei 2010:

Main Tank:

  1. Anemon karpet tidak pindah lagi dari tempatnya, dan sudah mekar dengan baik.

    .
  2. Dua ekor clown semakin kompatibel dengan hostnya.

    .
  3. Clown sudah mau makan dengan rakus, hanya saja tidak mau mengejar makanan yang terlalu jauh dari host-nya.

    .
  4. Mau coba kasih udang buat anemon, tapi belum tau kapan.

    .
  5. Menyaring pasir lagi sebanyak 1 ember adukan semen dengan proses yang sama seperti sebelumnya. Karena diperkirakan bakal kurang.

    .
  6. Mulai mengumpulkan perlengkapan yang sekiranya diperlukan dalam perakitan refugium, seperti paralon dan lain sebagainya.

    .
  7. Jabing masih ngumpet di bawah karang.

    .
  8. Sore, air laut simpanan di dua jeriken di aerasi, untuk menaikkan PH. Persiapan untuk refugium.


Quarantine Tank:

  1. Sawi putih terlihat sudah dimakan, tapi gak banyak.

    .
  2. Ketika dikasih pelet, morish terlihat mau coba-coba. Mungkin melihat lahapnya dua Leter six.

    .
  3. Unicorn masih ngumpet kalo ngeliat orang.

Rencana yang Tertunda

Kemarin seharusnya gw dah kelar bikin refugium buat akuarium laut gw, tapi ketiduran akhirnya batalllll. Harusnya tadi malem dah sibuk-sibuk setup refugium, tapi ga jadi.

Dan ternyata penundaan itu membawa berkah, karena tiba- tiba gw teringat, ada beberapa hal yang harus gw riset mengenai teknis pembuatan refugium ini terutama soal DSB dan tumbuhan-tumbuhan laut yang ideal ditempatkan dalam refugium.

Dan ternyata masih mesti tertunda lagi, karena akuarium kecil yang gw beli itu dan sempat tertunda ngambilnya, bocorrrr. Untung gw test dulu pake air tawar. Jadi aja hari ini mesti nambal bocornya dulu, dan menanti lemnya kering selama 24 jam. :(( :((

Update: Kamis, 13-Mei-2010

Update Kamis 13 Mei 2010:

Main Tank:

  1. Skimmate mulai coklat pekat. Kemungkinan karena mulai ada biota yang hidup terutama anemon.
    Image

    .
  2. Mulai coba-coba kasih makan clown pake Marine S. Lumayan mau makan, walau sedikit. Yang repotnya clown gak mau pergi jauh dari host-nya, jadi ngasih makannya harus diarahkan. Untung wavemaker ngarah ke anemon, pelet nya dilepas di atas WM, dan jadinya kayak nembakin makanan ke arah clown dan anemon, mereka tinggal nyambut aja.

    .
  3. Anemon pasir bergeser sedikit dari tempatnya semula, agak kebelakang, menyender ke karang yang agak mencuat sedikit. Saya berharap dia gak pindah lebih jauh lagi. Dugaan gw karena pencahayaan cukup, arus cukup, ditambah clown membuatnya ‘feels like home’.
    Image

    .
  4. Coba kasih makan cumi buat anemon karpet.
    1. Memberikan potongan cumi di badan / tentakel anemon. Langsung dipegang oleh anemon, tapi clown entah melindungi atau membersihkan, segera saja menarik dan membuang potongan cumi tersebut.

      .
    2. Potongan cumi diberikan ke mulut anemon. Sepertinya sukses, tapi gak lama kemudian clown kembali membuang cumi tersebut. Usaha memberi cumi gue hentikan, lagian sepertinya cuminya sudah agak keras.


    .

  5. Mengelem ulang seluruh sambungan kaca pada refugium tank, dan membiarkannya kering selama 24 jam ke depan.

    .
  6. Hermit crab sudah mulai keliling-keliling cari makan.
    Image
    Mungkin nih hermit hasil dari pelatihan Dinas Pertamanan, liat aja hasil kerjanya di hari pertama :lol: 


Quarantine Tank:

  1. Dicoba memberikan sawi putih, karena morish idol sudah makan sawi di penjualnya.

    .
  2. Warna dua ikan baru sudah normal lagi. 

    .
  3. Morish karena tidak punya hiding place maka dia terlihat berenang normal.

    .
  4. Unicorn masih ngumpet. Tapi warnanya sudah normal.

    .
  5. Dua Letter 6 terlihat prima dan rakus. Masih juga becanda berenang sana-sini.


Update: Rabu, 12-Mei-2010

Update Rabu 12 Mei 2010:

Main Tank:

  1. Membersihkan collection cup skimmer.

    .
  2. Penundaan kemarin sangat-sangat berguna, bikin saya mempelajari DSB lebih jauh lagi.


    .

  3. Ngambil akuarium refugium. Lagi-lagi pake motor…

    Image
    Untung gak pecah…

    .
  4. Ke Sumenep. Niatnya cari jabing glodok dan botana pemakan lumut. Pada akhirnya beli:
    1. Clown fish 2 ekor (@10 ribu)
    2. Anemon karpet 1 ekor (@25 ribu)
    3. Morish idol 1 ekor (@25 ribu)
    4. Unicorn 1 ekor (@30 ribu)
    5. Cacing kelapa 2 ekor (@7,500)
    6. Jabing kuning 1 ekor (@10 ribu)
    7. Sand stirrer starfish 2 ekor (@ 5 ribu)
    8. Anggur hijau 1 batu (@5 ribu)
    9. hermit crab 1 ekor (@10 ribu)


    .

  5. Testing refugium tank, ternyata BOCORRRR. Buego bener tu tukang kaca. Karena testingnya malam, dan gak punya lem, terpaksa jadwalnya besok.

    .
  6. Ngayak ½ karung pasir aragonite untuk refugium, karena setengah karungnya udah saya ayak beberapa bulan yang lalu (rencana refugium yang tertunda). Pasir disaring sebanyak 3 kali, pake saringan yang buat kelapa.

    Image
    alat-alat

    .
  7. Proses pengayakan pasir:
    1. Pertama menyaring butiran terkasar. Jumlah : 1 cup es krim KFC. Durasi 40 detik.
      Image
      Ampas proses pertama, butiran terkasar.

      Image
      Hasil proses pertama


      .
    2. Kedua menyaring hasil yang pertama. Jumlah : ½ cup es krim KFC. Durasi 20 detik.
      Image
      Ampas proses kedua, mulai halus.

      Image
      Hasil dari proses kedua.


      .
    3. Ketiga menyaring hasil ayakan yang kedua. Jumlah : ¼ cup es krim KFC. Durasi 5 detik.
      Image
      Ampas proses ketiga, lebih halus lagi.

      Image
      HASIL AKHIR.


      .
    4. Overview keseluruhan proses:
      Image

      .
    5. Pasir saya ayak berkali-kali, karena dari hasil ayakan pertama, sebagian besar butir pasir yang didapat masih berukuran 1mm (saya ukur pake penggaris).

      .
    6. Durasi waktu dan takaran didapat dari perkiraan saja. Pasir ketika wadahnya digetarkan maka butiran terhalus akan turun kebawah, dan yang kasar ada di bagian teratas. Karena saya hanya menggunakan saringan dari satu ukuran, diharapkan dengan durasi yang dipersempit hanya akan memberikan kesempatan butiran terhalus yang jatuh, sedangkan butiran yang lebih besar yang walau muat di lubang saringan, tidak ikut tersaring.

      .
    7. Takaran yang semakin sedikit diharapkan dapat memberikan hasil saringan halus lebih banyak.

      .
    8. Dari semua takaran, ampas yang dihasilkan umumnya ½ atau 1/3 dari takarannya.
      Image -> Image
      Ampasnya sepertiga atau setengah dari porsi yang diayak

      .
    9. Saya coba timbang dengan timbangan digital, biar lebih jelas. Pasir dalam 1 cup es krim KFC seberat 254 gram, ampas yang didapat 35 gram ampas pada proses pertama.
      Image
      254 gram
      Image
      35 gram


      .
    10. Dengan proses ini, dari satu karung pasir didapatkan kurang lebih ½ atau kurang pasir ayakan terhalus dibawah 1mm.


    .

  8. Anggur hijau di ‘karantina’ di tank lama. Dengan cara diapungkan menggunakan divider net sehingga lebih dekat ke sumber cahaya. Dan diletakkan didepan selang return pump.
    ImageImage
    Liat kotak merah, tadinya anggur hijau diletakkan disitu menggunakan net karantina (gbr kanan). Gak sempat foto waktu itu.

    .
  9. Dua ekor cacing kelapa di karantina di ‘sump’ tank lama. 

    .
  10. 11.00 malam. Karena tank karantina sudah penuh, maka nemo dimasukkan ke Main Tank. Sebelumnya dilakukan fresh water dip, dengan aerator dan diberikan Mardel Coppersafe ½ tutup botol selama 12 menit.

    .
  11. Sementara clown di fresh water dip, saya membersihkan karang yang akan jadi tempat anemon karpet, dengan cara mengeluarkannya dari main tank, dan disikat dibawah kucuran air wastafel. Aroma laut tercium sangat kuat dari karang tersebut.

    .
  12. Proses masuknya anemon karpet dan clown fish:
    1. Setelah melewati aklimasi suhu dan air, anemon karpet pun dimasukkan ke tempatnya diatas karang yang baru dibersihkan tadi. 

      .
    2. Supaya dia bisa nyaman di tempat yang saya mau itu, sengaja saya nyalain lampu main tank, dan wave maker nano Resun yang keluarannya lembut saya arahin langsung ke arah anemonnya. 

      .
    3. Pertama saya pegangin tuh anemon biar dia nempel di karang (saya pake sarung tangan karet), tapi gak mau. 

      .
    4. Akhirnya saya matiin semua arus dan pompa, sehingga air tenang, dan saya gak perlu megangin tuh anemon. Dengan lampu tetap menyala, selama beberapa menit dibiarkan, akhirnya dia mulai nempel. 
      Image
      tampak depan
      Image
      tampak samping

      Anemon karpet mulai settle, walau masih kuncup.

      .
    5. Ada yang aneh, dari mulutnya keluar selaput yang menggelembung seperti permen karet. Sempat membesar, tapi kemudian mengecil kembali dan hilang (sayang gak sempat foto, karena kejadiannya tidak begitu lama..

      .
    6. Supaya dia makin nyaman ditempatnya clown pun saya masukin. 

      .
    7. Ternyata Clown mabok berat setelah keluar dari fresh water dip. Dua-duanya terlihat disorientasi. Berenang keliling akuarium, tapi nabrak-nabrak karang dan kaca. This makes me worry.

      .
    8. Setelah sekian waktu, clown yang lebih gemuk Cuma diam diatas pasir. Clown yang lebih kurus masih terus keliling dengan gaya berenang seperti ngangguk-ngangguk, kepalanya naik-turun (berenang ciri khas clown fish tapi parah).
      Image
      Keliling-keliling mabok
      Image
      Yang ini kayaknya maboknya gak rese :lol: 


      .
    9. Lampu dimatiin untuk mengurangi stress nya clown.

      .
    10. Setelah lewat 2 jam. Clown yang berenang ngangguk-ngangguk mulai ‘tinggal’ di anemon karpet. Sedangkan yang di pasir, masih diem aja, Cuma pindah tempat. Pas paginya baru kedua clown sudah bermain-main di anemon.
      Image
      akhirnya akur juga, dan lega melihat clown baik-baik saja.


    .

  13. Dua ekor bintang laut pasir saya taruh di sump, di chamber pompa return pump. Dengan pertimbangan disitu lebih kosong.
    Image

    .
  14. Hermit crab ditaroh di main tank.

    .
  15. Jabing
    Image


Quarantine Tank:

  1. Hari ini dua L 6 sehat wal afiat, berenang gesit dan makan rakus.

    .
  2. 11.30 malam ditambahkan knee paralon 3” mengingat akan ada penghuni baru.
    Image

    .
  3. Ditambahkan Morish Idol dan Unicorn. Unicorn dan Morish Idol masuk dalam keadaan stress berat, badan unicorn udah pucat dan warna nya gak karuan, maka dari itu tidak dilakukan prosedur fresh water dip.
    Image
    Unicorn stress berat.


Tuhan Memang Sengaja Menciptakan Sesuatu yang Besar dan Kecil: Butir Pasir

Tadi malem gw abis ngayak pasir aragonite setengah karung (1 karung = 25kg). Dengan total dua kali proses saringan. Untung itu pasir udah gw ayak sekali beberapa bulan yang lalu, jadi tadi malam tinggal proses ayak yang kedua (totalitas memang tak pernah sia-sia). Masih ada setengah karung lagi.

Kerajinan amat ya, buat apaan sih???

Jadi gini, gw mau bikin Deep Sand Bed untuk akuarium laut gw. Deep Sand Bed berbentuk sedimen pasir di dasar akuarium yang ketebalannya minimal 10 cm, dengan pasir laut yang berukuran sekitar 0,125 mm. Deep Sand Bed berfungsi sebagai tempat tinggal dan berkembang biaknya mahluk-mahluk infauna* dan bakteri pengurai (baik aerob maupun anaerob). Jadi selain sumber pakan alami bagi penghuni akuarium, juga berfungsi sebagai media filter biologis yang menjalankan proses siklus nitrogen (Amonia -> Nitrite -> Nitrate -> Nitrogen Gas).

Sistem ini bukanlah hasil rekaan maupun coba-coba belaka. Adalah DR. Ronald L. Shimek (Ron Shimek) seorang taksonomis dan konsultan lingkungan yang pertama kali mengajukan konsep ini, berdasarkan pada hasil penelitiannya. Dan Ron Shimek berbicara tentang ukuran partikel pasir yang diperlukan, berikut kutipannya :

In all of my discussions about sand beds I have made a point of specifying one particular parameter, that of the average size of sediment particles in the sand bed. Why should this one factor be so important? The answer simply is that sediment particle sizes determine the acceptability of the sediment to the organisms. Perhaps an example might illustrate this statement better. One of the common amphipods found along the west coast of North America is a species called Rhepoxynius abronius . This small bug has been investigated in some detail as an organism to use to test the toxicity of sediments, has been found to prefer sediments of a specific particle size, 0.113 mm in diameter. If given a choice, it will move to and live in sediments of that one specific size, not sediments 0.110 mm nor sediments of 0.115 mm, but only of that one size. If individuals are experimentally confined to other sediment sizes, they neither live as long, nor reproduce as well, nor tolerate stressful conditions as do individuals kept at the optimum grain size (Ott, 1986).

Most sediment-dwelling organisms appear to have similar precise preferences. However, most will also live at least marginally well in mixed-sediments with sizes around their optima, and most sediment particle size optima seem to be in the range of 0.050 to 0.200. Consequently I suggest a range averaging about 0.125 as a good compromise. It isn’t specifically the best for most infaunal species, but it will allow a diversity of species to live pretty well.

Sumber : http://www.ronshimek.com/deep_sand_beds.html

Gw pernah ngomong dengan beberapa orang dengan yakin bahwa Tuhan pasti memiliki maksud pada semua ciptaanNya. Bahkan kenapa batu koral itu bulat atau kasar dan berukuran kecil, pasti ada maksudnya. Tapi saat itu gw gak paham apa dan kenapanya, cuma yakin. Sekarang, yeah babe, memang benar-benar ada maksudnya 😉

Dan ketika manusia berusaha playing god dalam me-reka ulang bahkan sebuah ekosistem mikro seperti ini, effort-nya sungguh luar biasa.

—-
*Infauna are organisms that burrow and reside within the bottom most oceanic sediments.

Hujan Angin

Hujan angin jatuh seperti ember yang isinya tumpah dari langit. Begitu saja, menggelegar menampar segala permukaan yang terbuka. Sepenjuru mata memandang, semua basah, dan air bercipratan dengan agresif. Beberapa elemen rumah yang tak terpasang baik berjatuhan menimbulkan kaget dan gaduh.

Air yang jatuh dari talang, beradu dengan ember dibawahnya, mereka sayup terdengar seperti siaran radio yang tersendat.

Atap-atap rumah seperti berkabut, tertutup tirai titik-titik hujan. Dan aku yang keparat duduk disini, berpikir bahwa dengan secarik rain coat bisa menembus hujan macam ini.

Update: Selasa, 11-Mei-2010


Update Selasa, 11 mei 2010:
Main Tank:

  1. Hari ini BATAL ngambil tank refugium, gak sempet. Bete abiss, aturan malem ini udah bisa setup-setup. Tapi ada hikmahnya juga. Saya jadi bisa nyiapin pasir-pasirnya, dan baca-baca lagi tentang DSB dan refugium.

    .
  2. Abis bersihin dan kalibrasi probe PH meter. Kemudian dipasang lagi, kemarin setelah ganti air probe nya dilepas.

    .
  3. Test air:
    • PH (probe): 8,2
    • phospate : >2.0 mg
    • Calcium : 400 mg
    • Suhu : 28,4 C
    • SG : 1.025 (refrakto)
    • Salinity : 33


    .

  4. Mulai ngasih additive purple up 1 tutup botol. nanti setelah lewat satu jam mau di cek lagi kadar kalsiumnya

    .
  5. Tester calcium (sera) mulai abis. Tampaknya harus beralih ke salifert aja, biar yakin. Tester Nitrate, Calcium, Phospat mau convert ke salifert.

    .
  6. Algae coklat yang ada diatas karang sebagian besar semakin pudar warnanya.

    .
  7. Bintang laut pasir makin asyik jalan-jalannya.


Quarantine Tank:

  1. Dua L 6 sehat berenang. Itu dia kejar-kejaran lagi di bully ato emang biasa ya? Tapi yang dikejar maupun yang ngejar gak ada yang menunjukkan tanda-tanda stress, makan tetep lahap bin maruk.

    .
  2. besok rencana ganti air lagi. Udah siap sedia airnya.

    .
  3. Besok rencana kasih sawi lagi.

    .
  4. Rencana tank lama dijadiin karantina diurungkan. Soalnya tadi gue perhatiin, ternyata liverock nya masih aktif, walaupun coralline algaenya gak penuh, tapi masih ada, dan sudah menyebar ke deadrock. Dan bibit duster worm terlihat banyak sekali. Bahkan ada invert yang tak dikenal tumbuh di karang. Sepertinya ekosistemnya lagi berjalan sendiri.


Data Bintang Laut Pasir

Respon andrea_8litz, soal Bintang Laut Pasir
wah, hebat yah bintang laut pasirnya bung..
sy wktu itu prnh beli, tp mgkn ada luka shga digigitin udang pelet trus ampe mati… :( 
nah, kl mslh kotoran tuh bintang laut sy gak ngerti deh bung..
sharusnya sih tidak berbahaya..
 
:D


Iya mantep nih, dan gue dapet datanya:

Image

  • Nama dagang bule: Sand Sifting Starfish (Astropecten polycanthus)
  • Family: Astropectinidae
  • Range: Indo-Pacific
  • Size: Up to 12 inches
  • Diet: Carnivore
  • Tank Set-up: Marine: Sandy bottom
  • Reef Compatible: Yes
  • Tank Conditions: 72-78ºF; sg 1.023-1.025; pH 8.1-8.4
  • Temperament: Peaceful
  • Venomous: No
  • Care Level: Easy


The Sand Sifting Starfish or Sea Star, has a thick, beige to brown body with lateral spines (teeth) extending upward along each side of its five arms. It does not have suction cups on its feet, so it does not climb; instead, with the help of its spines, it moves over the sandy bottom of the ocean sifting through sand for food. The spines also enable it to burrow into the sand to hide or digest its food.

It is very active and effective at moving large amounts of sand as it searches for food. It does well in an aquarium setting if provided with a large, deep (several inches) sand bottom where it can feed and hide. It should not be housed with Puffers. It is very sensitive to high levels of copper-based medications and will not tolerate high levels of nitrates.

 

Breeding in an aquarium is extremely difficult with no distinguishing characteristics to help differentiate males from females.
In the aquarium, it can be fed small pieces of shrimp, fish, urchins, bivalves, or other small starfish.

Sumber: http://www.peteducation.com/article.cfm … 4&aid=2183