Tag Archives: DSB

Konsep Dasar Refugium Yang Saya Inginkan

Ada beberapa hal yang lupa saya masukkan di update terakhir. Yaitu tentang konsep refugium yang saya impikan, dan kutipan-kutipan berkesan dari survey data DSB.
Konsep Refugium:
Konsep refugium yang akan saya buat adalah tempat yang khusus untuk mahluk-mahluk mikro, filter feeder dan makroalgae.
Tujuan utama dari refugium ini adalah untuk menjaga populasi dari mahluk-mahluk kecil ini, sehingga ketersediaan pakan alami selalu terjaga. Baik yang hidup didalam sedimen pasir maupun yang di permukaan.
Untuk mencapai tujuan tersebut, dibuatlah setting sebagai berikut:

  1. Tank terpisah baik dari sump dan main tank.
  2. Input air dari ruang return pump-nya sump dan output air dari refugium keluar ke depan suction return pump.
  3. DSB setinggi 10cm, dari pasir aragonite yang telah mengalami tiga kali proses saringan sehingga didapatkan butiran terhalus (kurang dari 1 mm).
  4. Penambahan pasir dari tank yang sudah running selama setahun di lapisan teratas DSB.
  5. Tidak mencuci pasir untuk DSB. Karena dari 2 kali apikasi DSB yang pernah saya lakukan (satu tanpa dicuci, dan satunya dicuci bersih dengan air tawar), yang menunjukkan tanda pertumbuhan infauna tercepat dan terbaik adalah yang tidak dicuci terlebih dulu.
  6. Penanaman makro algae dari jenis anggur hijau. Bertujuan baik sebagai filtrasi biologis (hususnya Nitrate) maupun sebagai tempat tinggal infauna.
  7. Tidak akan menambahkan mahluk-mahluk yang dapat menjadi predator bagi infauna (sand stirrer starfish, kuda laut, ikan-ikan benthic feeder, dll).
  8. Teknik pencahayaan reverse-daylight. Tujuannya menghemat listrik dan menangani fenomena penurunan PH di malam hari, dengan mengharapkan oksigen tambahan yang dihasilkan tumbuhan.

Kutipan-kutipan dari DSB:

TENTANG UKURAN PASIR:
In all of my discussions about sand beds I have made a point of specifying one particular parameter, that of the average size of sediment particles in the sand bed. Why should this one factor be so important? The answer simply is that sediment particle sizes determine the acceptability of the sediment to the organisms. Perhaps an example might illustrate this statement better. One of the common amphipods found along the west coast of North America is a species called Rhepoxynius abronius . This small bug has been investigated in some detail as an organism to use to test the toxicity of sediments, has been found to prefer sediments of a specific particle size, 0.113 mm in diameter. If given a choice, it will move to and live in sediments of that one specific size, not sediments 0.110 mm nor sediments of 0.115 mm, but only of that one size. If individuals are experimentally confined to other sediment sizes, they neither live as long, nor reproduce as well, nor tolerate stressful conditions as do individuals kept at the optimum grain size (Ott, 1986).
Most sediment-dwelling organisms appear to have similar precise preferences. However, most will also live at least marginally well in mixed-sediments with sizes around their optima, and most sediment particle size optima seem to be in the range of 0.050 to 0.200. Consequently I suggest a range averaging about 0.125 as a good compromise. It isn’t specifically the best for most infaunal species, but it will allow a diversity of species to live pretty well.
Sumber : http://www.ronshimek.com/deep_sand_beds.html

The surface area for bacteria and microalgae in live rock or on other surfaces is insignificant compared to the area in a sand bed four or more inches in depth.
Sumber : http://www.ronshimek.com/deep_sand_beds.html

Salah kaprah mengenai ‘sifting / stirring the sand’:
Within a week, you should notice bubbles in the sediment next to the glass indicating the sand filter is working, within a couple weeks small tube traces should be visible in places in the sediments near the walls, and small bug populations should be evident. After a two week wait – and more time is desirable – fish may be added. UNDER NO CIRCUMSTANCES SHOULD YOU ADD “SAND-SIFTING” ANIMALS SUCH AS BURROWING SEA STARS OR SOME GOBIES. These animals are “sifting” the sediment to eat the sand critters that you need to have thrive. From this point, gradually add more animals up to the desired level.
Sumber : http://www.ronshimek.com/deep_sand_beds.html

Masalah nyata dan masalah berdasarkan dugaan terhadap DSB:
More imagined than real problems bedevil keepers of sand beds. The imagined problems are proposed by people who are ignorant of the sand bed dynamics. Among these imaginary problems are accumulations of hydrogen sulfide and detritus, and the need for sifting. Hydrogen sulfide will indeed be formed in the lowermost layers of a deep sand bed. It will NOT migrate up through the sediments to poison a tank. Hydrogen sulfide is an amazingly toxic gas, but that toxicity is exceeded by its pungent rotten-egg odor. The gas will have an exceptionally strong odor, and will seem overwhelming at levels well BELOW toxic amounts. If you can smell this stuff without it literally taking your breath away, it won’t be at a harmful concentration. There is no real evidence to indicate that it may reach toxic levels in a deep sand bed.
Detritus build up in the sediment is another non-problem. If the sediment fauna is thriving, there will be a slight build up of fine detritus while the rest will be processed by the infauna. The final imaginary problem, the presumed need for sifting in a healthy sand bed, simply does not exist. Small organism movements “sift” the sand sufficiently. Any other sifting of a healthy bed will cause serious harm.
Sand beds recycle materials and export many of the excess nutrients in an aquarium. Some excess nutrients are mobilized by becoming soluble through metabolic processes and need to be exported either as harvestable macroalgae or animals, grown in the main tank or a sump.
The only real problem with a sand bed is the reduction in diversity as the bed ages. This is caused by extinction and replacement problems because the volume of our beds is simply too small for some species to generate self-sustaining populations. This is remedied, by purchasing a detritivore or recharge kit or two every year or so to give a boost to the fauna.
Sumber : http://www.ronshimek.com/deep_sand_beds.html

Update: Rabu, 12-Mei-2010

Update Rabu 12 Mei 2010:

Main Tank:

  1. Membersihkan collection cup skimmer.

    .
  2. Penundaan kemarin sangat-sangat berguna, bikin saya mempelajari DSB lebih jauh lagi.


    .

  3. Ngambil akuarium refugium. Lagi-lagi pake motor…

    Image
    Untung gak pecah…

    .
  4. Ke Sumenep. Niatnya cari jabing glodok dan botana pemakan lumut. Pada akhirnya beli:
    1. Clown fish 2 ekor (@10 ribu)
    2. Anemon karpet 1 ekor (@25 ribu)
    3. Morish idol 1 ekor (@25 ribu)
    4. Unicorn 1 ekor (@30 ribu)
    5. Cacing kelapa 2 ekor (@7,500)
    6. Jabing kuning 1 ekor (@10 ribu)
    7. Sand stirrer starfish 2 ekor (@ 5 ribu)
    8. Anggur hijau 1 batu (@5 ribu)
    9. hermit crab 1 ekor (@10 ribu)


    .

  5. Testing refugium tank, ternyata BOCORRRR. Buego bener tu tukang kaca. Karena testingnya malam, dan gak punya lem, terpaksa jadwalnya besok.

    .
  6. Ngayak ½ karung pasir aragonite untuk refugium, karena setengah karungnya udah saya ayak beberapa bulan yang lalu (rencana refugium yang tertunda). Pasir disaring sebanyak 3 kali, pake saringan yang buat kelapa.

    Image
    alat-alat

    .
  7. Proses pengayakan pasir:
    1. Pertama menyaring butiran terkasar. Jumlah : 1 cup es krim KFC. Durasi 40 detik.
      Image
      Ampas proses pertama, butiran terkasar.

      Image
      Hasil proses pertama


      .
    2. Kedua menyaring hasil yang pertama. Jumlah : ½ cup es krim KFC. Durasi 20 detik.
      Image
      Ampas proses kedua, mulai halus.

      Image
      Hasil dari proses kedua.


      .
    3. Ketiga menyaring hasil ayakan yang kedua. Jumlah : ¼ cup es krim KFC. Durasi 5 detik.
      Image
      Ampas proses ketiga, lebih halus lagi.

      Image
      HASIL AKHIR.


      .
    4. Overview keseluruhan proses:
      Image

      .
    5. Pasir saya ayak berkali-kali, karena dari hasil ayakan pertama, sebagian besar butir pasir yang didapat masih berukuran 1mm (saya ukur pake penggaris).

      .
    6. Durasi waktu dan takaran didapat dari perkiraan saja. Pasir ketika wadahnya digetarkan maka butiran terhalus akan turun kebawah, dan yang kasar ada di bagian teratas. Karena saya hanya menggunakan saringan dari satu ukuran, diharapkan dengan durasi yang dipersempit hanya akan memberikan kesempatan butiran terhalus yang jatuh, sedangkan butiran yang lebih besar yang walau muat di lubang saringan, tidak ikut tersaring.

      .
    7. Takaran yang semakin sedikit diharapkan dapat memberikan hasil saringan halus lebih banyak.

      .
    8. Dari semua takaran, ampas yang dihasilkan umumnya ½ atau 1/3 dari takarannya.
      Image -> Image
      Ampasnya sepertiga atau setengah dari porsi yang diayak

      .
    9. Saya coba timbang dengan timbangan digital, biar lebih jelas. Pasir dalam 1 cup es krim KFC seberat 254 gram, ampas yang didapat 35 gram ampas pada proses pertama.
      Image
      254 gram
      Image
      35 gram


      .
    10. Dengan proses ini, dari satu karung pasir didapatkan kurang lebih ½ atau kurang pasir ayakan terhalus dibawah 1mm.


    .

  8. Anggur hijau di ‘karantina’ di tank lama. Dengan cara diapungkan menggunakan divider net sehingga lebih dekat ke sumber cahaya. Dan diletakkan didepan selang return pump.
    ImageImage
    Liat kotak merah, tadinya anggur hijau diletakkan disitu menggunakan net karantina (gbr kanan). Gak sempat foto waktu itu.

    .
  9. Dua ekor cacing kelapa di karantina di ‘sump’ tank lama. 

    .
  10. 11.00 malam. Karena tank karantina sudah penuh, maka nemo dimasukkan ke Main Tank. Sebelumnya dilakukan fresh water dip, dengan aerator dan diberikan Mardel Coppersafe ½ tutup botol selama 12 menit.

    .
  11. Sementara clown di fresh water dip, saya membersihkan karang yang akan jadi tempat anemon karpet, dengan cara mengeluarkannya dari main tank, dan disikat dibawah kucuran air wastafel. Aroma laut tercium sangat kuat dari karang tersebut.

    .
  12. Proses masuknya anemon karpet dan clown fish:
    1. Setelah melewati aklimasi suhu dan air, anemon karpet pun dimasukkan ke tempatnya diatas karang yang baru dibersihkan tadi. 

      .
    2. Supaya dia bisa nyaman di tempat yang saya mau itu, sengaja saya nyalain lampu main tank, dan wave maker nano Resun yang keluarannya lembut saya arahin langsung ke arah anemonnya. 

      .
    3. Pertama saya pegangin tuh anemon biar dia nempel di karang (saya pake sarung tangan karet), tapi gak mau. 

      .
    4. Akhirnya saya matiin semua arus dan pompa, sehingga air tenang, dan saya gak perlu megangin tuh anemon. Dengan lampu tetap menyala, selama beberapa menit dibiarkan, akhirnya dia mulai nempel. 
      Image
      tampak depan
      Image
      tampak samping

      Anemon karpet mulai settle, walau masih kuncup.

      .
    5. Ada yang aneh, dari mulutnya keluar selaput yang menggelembung seperti permen karet. Sempat membesar, tapi kemudian mengecil kembali dan hilang (sayang gak sempat foto, karena kejadiannya tidak begitu lama..

      .
    6. Supaya dia makin nyaman ditempatnya clown pun saya masukin. 

      .
    7. Ternyata Clown mabok berat setelah keluar dari fresh water dip. Dua-duanya terlihat disorientasi. Berenang keliling akuarium, tapi nabrak-nabrak karang dan kaca. This makes me worry.

      .
    8. Setelah sekian waktu, clown yang lebih gemuk Cuma diam diatas pasir. Clown yang lebih kurus masih terus keliling dengan gaya berenang seperti ngangguk-ngangguk, kepalanya naik-turun (berenang ciri khas clown fish tapi parah).
      Image
      Keliling-keliling mabok
      Image
      Yang ini kayaknya maboknya gak rese :lol: 


      .
    9. Lampu dimatiin untuk mengurangi stress nya clown.

      .
    10. Setelah lewat 2 jam. Clown yang berenang ngangguk-ngangguk mulai ‘tinggal’ di anemon karpet. Sedangkan yang di pasir, masih diem aja, Cuma pindah tempat. Pas paginya baru kedua clown sudah bermain-main di anemon.
      Image
      akhirnya akur juga, dan lega melihat clown baik-baik saja.


    .

  13. Dua ekor bintang laut pasir saya taruh di sump, di chamber pompa return pump. Dengan pertimbangan disitu lebih kosong.
    Image

    .
  14. Hermit crab ditaroh di main tank.

    .
  15. Jabing
    Image


Quarantine Tank:

  1. Hari ini dua L 6 sehat wal afiat, berenang gesit dan makan rakus.

    .
  2. 11.30 malam ditambahkan knee paralon 3” mengingat akan ada penghuni baru.
    Image

    .
  3. Ditambahkan Morish Idol dan Unicorn. Unicorn dan Morish Idol masuk dalam keadaan stress berat, badan unicorn udah pucat dan warna nya gak karuan, maka dari itu tidak dilakukan prosedur fresh water dip.
    Image
    Unicorn stress berat.