Category Archives: Puisi Cinta Member

Surat Buat Lelaki Laut

Depok, 3 April 2004

Kepada lelaki laut
Di tepi pantai

Salam.

Sudah berapa kikis ombak pada pantai saat aku berlalu dari wajah kecokelatanmu? Sehatkah? Masih menelan pil anti-depresan pada jam 2 pagi? Pil yang kau bilang harus kau telan sebab detik-detik menjelang fajar selalu mencekikmu, membuatmu lesak dalam derita yang melumpuhkan.

“Fajar selalu mengerikan di tepi pantai”

Aku tertawa. Menertawakan kengerianmu pada pagi. Kau memang jenis manusia malam.

“Memangnya kau suka pagi?”
“Suka.”
“Kalau begitu aku juga suka.”
“Gombal.”

Kau terbahak. Lalu diam-diam meraup segenggam pasir dan menaburkannya di atas kepalaku. Aku memaki-maki yang hanya membuatmu semakin terbahak. Pil anti-depresanmu bekerja dengan baik.

Badan perahu yang kau buat dari batang jati tua yang tumbang di depan rumahmu, apa masih dilingkari ukiran kalimat indah, aku lelaki yang lahir dari rahim batu karang. Atas nama asin angin kuarungi tubuhmu yang pekat mencari-mencari pusat pertemuan langit dan bumi.

“Buat apa, sih, kau cari-cari pusat pertemuan itu?”
“Mau berdoa agar kau melahirkan anak-anakku.”
“Gombal.”

Kau terbahak. Kali ini tidak ada taburan pasir, kau hanya menjatuhkan jalinan bunga kelapa di kepalaku. Pas melingkar menahan poniku yang sejak tadi disaput angin. Aku tidak memaki.

Kau lelaki laut kutemukan saat bulan separuh menempel di dinding langit. Waktu itu aku melihatmu di batas pantai tengah memandang lekat ke arah laut gelap. Tanganmu terlipat di dada yang telanjang. Tanpa alas kaki. Hanya mengenakan celana panjang hitam seperti seorang pendekar di masa lalu. Beberapa kali sudut bibirmu tertarik ke atas menggaris senyum.

Itulah pertemuan pertama kita. Kau yang tiba-tiba sadar sedang diperhatikan menoleh ke arahku yang berjarak sekitar 10 meter saja darimu.

“Kau sendirian?”
Aku mengangguk.
“Tengah malam begini?”
Aku mengangguk lagi.
“Kenapa?”
“Melarikan diri.”
Kau mengangguk-angguk.

Itulah percakapan pertama kita yang segera disusul oleh puluhan ribu kata-kata yang lain. Kau yang mencintai laut malam dan aku yang melarikan diri dari hidup, saling menghibur diri.

Sebagaimana hidup dan mati, segalanya memang memiliki batas. Kau yang tak juga menemukan pusat pertemuan itu mulai putus asa. Kau mulai marah, mulai memaki, membanting apa saja, lalu mabuk sampai pagi. Aku gelisah, suatu pertanda awal yang sama ketika kebencian menghantam hidupku yang lalu.

“Sudahlah, hentikan saja pencarianmu.”
“Apa kau bilang?”
“Mungkin pusat itu tak ada di lautan. Mungkin ada di sini, di daratan. Di dekatmu.”
“Tau apa kau?” Nada suaramu meninggi. Menyeruak bau alkohol.
“Kau pikir sudah berapa lama kau berdiri di tepi pantai, hah?
Sudah berapa kali tanganmu mendayung perahu?
Berapa kali kau lolos dari amuk badai pasang?
Pernah? Tidak pernah?
Lalu atas dasar apa kau mengajariku tentang lautan?!!”

Kemarahan yang kau salurkan di tangan kekarmu mencengkeram pergelangan tanganku. Sakit. Aku berteriak-teriak dan menangis ketakutan.

“Kau cengeng.”

Itulah kata-kata terakhir yang sempat kudengar darimu. Aku lepaskan cengkeraman yang melepaskan seluruh aku dari seluruhmu. Aku melarikan diri lagi. Mengembara lagi. Melepaskan hidupku di tepian pantai.

Apa kabarmu? Sejak malam itu aku mencari-cari tempat pulang. Melewati riuh ramai kota, sunyi senyap pedalaman. Semoga kau lupa minum pil anti-depresan dan sudah bangun sekarang karena aku membawa kabar untukmu pagi ini. Pusat pertemuan langit dan bumi yang kau cari-cari telah kutemukan. Di sini. Di atas pegunungan tempat pulangku ini. Di antara tumpukan salju yang membekukan tulang, tempat di mana waktu tidak berkuasa atas malam dan siang, kutemukan pusat itu. Pusat yang menjadi tuhan dalam dirimu.

Mungkin kau bertanya bagaimana aku bisa yakin bahwa itulah pusat pertemuan langit dan bumi?

Kau pernah bilang tempat itu akan menarik kita ke pusaran arus yang kuat. Membuat kita layang tak berkesudahan, membuat kita haru yang menyakitkan, memberi rasa yang tak terperikan. Begitulah yang kurasa ketika pada suatu waktu kusaksikan sebuah horizon merah-jingga melintang dari utara ke selatan.

Jadi kalau kau terima suratku pagi ini, cepat berkemas dan gegaslah ke selatan. Ikuti jejak sekelompok burung hitam di langitmu. Aku akan menunggu di balik batu, di lekukan yang membentuk punggung kura-kura. Aku akan menjaga pusat pertemuan ini untukmu sebab aku asing pada doa; tak tahu cara berdoa dan apa yang harus kudoakan.

Cepatlah datang lelaki laut. Berdoalah untukku.

Salam,
Aku

Akhir Dari Sebuah Episode

tidak akan lagi aku mencarimu
dalam segarnya embun pagi
ketika teriknya mentari membakar bumi
lewat semburat senja nila jingga
ataupun malam dengan gelap dan bintang-bintangnya

enggan sudah
kakiku tak sanggup melangkah
dibelenggu rantai besi
yang tak kunjung melapuk

maka
karena aku sudah tidak lagi peduli
berhentilah menghampiri
berhentilah memberi
aku tidak sedang butuh apa-apa

sudah kutorehkan angka terakhir
pada buku perjalanan
sudah kututup pintu-pintu
menuju kalbu
sudah kubuat buta, tuli, bisu, kelu
semua inderaku

kucukupkan sudah
episode kali ini

c)RDS, 30maret2004/1:10pm
say good bye to yesterday

di berandamu, aku mengadu…

Menjumpaimu, mengenangku pada tapal keraton jogja yang ayu. Seperti ken dedes, engkau masih saja terlihat mempesona. Merona. Sibakanmu, palingan wajahmu, ya, masih seperti dulu; ramping dan bermagnet.

Aku masih mengenang lesung pipitmu. Karena itulah aku meyanjungmu. Seprti kelopak lili, begitu kata hatiku.

Aku tak bisa lupa, pada sahajamu yang elok. Kau bilang, “tidak, aku tidak sahaja. engkau lebih sahaja.” Aku balas,” Tak salahkah?”

lalu senyum lentikmu merekah. gigimu rapih serapih gigi kuda. Meskipun begitu, aku tetap suka. Mesemmu, saat itu dan kini,masih terpahat di beranda penginapanku. kau berkata syahdu:” Aku bae-bae saja. tak ada yang berubah. kau yang berubah…”

usai itu, aku tak sanggup lagi bicara. Auramu menaklukan tatap mataku. bening matamu, memagutku sepi. malumu, meragu tingkahku. Ya, semua, yang ada di dirimu, menggetarkan aku. Sepi. Kau diam, aku hanyut. Aku bergumam….kau indah, seindah gerimis pagi…

sejak itu aku memanggilmu gerimis pagi….di hpku kutulis namamu: si gerimis pagi. di dinding kamarku, kutulis gerimis pagi. di catatan kerjaku,ada gerimis pagi. Di wallpaper komputerku, ada juga gerimis pagi. di dompetku, ada juga satu kertas mini bertuliskan: gerimispagiku. sampai di bantalku, biar aku ingat kamu, kutulis; gerimis pagi…dan lain-lain.

tapi, entahlah…..apa aku bisa menaklukanmu, hai gerimis pagi…..

Gerimispagikuyangkukagumikukenangkusanjungkudambakuangankutunggukudanlainlain….

(24 maret 04)

Bonn-fire girl

yakinlah, aku takut … terhadap kejujuranku,
itu sama sekali bukan pilihan …
aku hanya terjebak.
entahlah … mungkin kau tahu
karena aku lelah dan kecewa,

kini, pilihanmu tak lagi berubah,
kau berlalu … dan …
tinggal aku sendiri …
sedang berusaha untuk …
akkhhhh.

mand, ini adalah kisah dari Jakarta,
di mana luka akan cepat menjadi busuk dan berbau.
ya … ini Jakarta dan kau mengerti … hanya kau yang mengerti.

mand, entahlah … mungkin aku salah,
jakarta kini telah berubah … tapi tahukah kau?
aku tetap membusuk disini … dengan ketakutanku.
hehehehehehehe…..

aku ingin menekankan padamu
cepat atau lambat …
kemarahanku akan membawaku kepadamu!!

( Bandung, Patkay )

Inilah Jawaban Cinta yang Ingin Kubunuh

Kalau kau membunuhku, aku akan gentayangan di antara sepi dan luka yang kau puja-puja. Lihat saja, kau akan ketakutan dan pucat pasi. Bukan karena darah yang menetes dari tikaman jarum-jarum hujan itu, tapi karena kelembutanku yang menggodamu.

Kau akan sesak nafas melihat butiran-butiran cahaya arwahku di cermin kamar mandi. Juga pada kunang-kunang jelmaan kuku-kuku tanganku yang beterbangan di gelap matamu. Lalu, aku yakin seyakin-yakinnya kau akan pingsan saat kubuka tabir rahasiaku yang menopang waktu.

Jadi, kuperingatkan kau agar jangan pernah berani membunuhku. Biarlah aku tetap menjadi rahasia yang membatu.

25 januari 2004

Sebutkan (puisi ulang tahun buat cecil m

Sebutkan..
warna yang mana di bintang itu yang kausuka
Biar kucoba ambil lalu rangkai jadi untai manik manik
untuk menghiasi sampul buku harianmu,
bukankah di sana ada derai tawa dan rangkul hangat
yang selama ini merajut jumpa jumpa
dari sejak ulang tahunmu tahun lalu
sampai hari telah berliwatan di tepian jalan hidup

Sebutkan..
sepanjang apa ingin kau kutuliskan puisi di hari ini
biar kutulis buatmu
Selamat ulang tahun cecil marini

Sebutkan juga..
di sebelah mana harus kutandatangani puisi
biar lalu ku stempelkan dua kecup mesra di situ
di rona pipi mu itu

————————-
(idaman andarmosoko)
Homepage:
~ http://geocities.com/idaman_andarmosoko
~ http://kubiksystem.com/idaman

untukmu, gadisku…

gadisku, di muka ini jarak
satu titik yang dituju adalah syurga
sebentuk yang dirindu adalah hawa
iya, di depan masih tetap jarak

telah terjadi kesalahan kedua dari mahluk-Nya
karena itu diturunkanlah dia dari sana
lalu, dipisahkan ia dengan kasihnya
kamu tahu, itu sangatlah lama

jangankan untuk seribu tahun
sedetikpun enggan aku berpisah denganmu
entah, seberapa pantas hukuman kuterima
seberapa panjang jarak harus bertambah

hanya dengan memakan buah itu Adam terpisah dengan Hawa

apalagi aku, komplit sudah dosa kulakukan
bukan serakah saja bersarang dalam diri
banyak keji terjadi kulalui
apa jadinya aku, apa nantinya andai harus kubayar hinaku

gadisku, aku bukanlah Adam yang sanggup bertahan tak bertemu
tapi, perlu kau tahu
hati ini selalu untukmu
tunggu aku!!!


========
Tapuy