di berandamu, aku mengadu…

Menjumpaimu, mengenangku pada tapal keraton jogja yang ayu. Seperti ken dedes, engkau masih saja terlihat mempesona. Merona. Sibakanmu, palingan wajahmu, ya, masih seperti dulu; ramping dan bermagnet.

Aku masih mengenang lesung pipitmu. Karena itulah aku meyanjungmu. Seprti kelopak lili, begitu kata hatiku.

Aku tak bisa lupa, pada sahajamu yang elok. Kau bilang, “tidak, aku tidak sahaja. engkau lebih sahaja.” Aku balas,” Tak salahkah?”

lalu senyum lentikmu merekah. gigimu rapih serapih gigi kuda. Meskipun begitu, aku tetap suka. Mesemmu, saat itu dan kini,masih terpahat di beranda penginapanku. kau berkata syahdu:” Aku bae-bae saja. tak ada yang berubah. kau yang berubah…”

usai itu, aku tak sanggup lagi bicara. Auramu menaklukan tatap mataku. bening matamu, memagutku sepi. malumu, meragu tingkahku. Ya, semua, yang ada di dirimu, menggetarkan aku. Sepi. Kau diam, aku hanyut. Aku bergumam….kau indah, seindah gerimis pagi…

sejak itu aku memanggilmu gerimis pagi….di hpku kutulis namamu: si gerimis pagi. di dinding kamarku, kutulis gerimis pagi. di catatan kerjaku,ada gerimis pagi. Di wallpaper komputerku, ada juga gerimis pagi. di dompetku, ada juga satu kertas mini bertuliskan: gerimispagiku. sampai di bantalku, biar aku ingat kamu, kutulis; gerimis pagi…dan lain-lain.

tapi, entahlah…..apa aku bisa menaklukanmu, hai gerimis pagi…..

Gerimispagikuyangkukagumikukenangkusanjungkudambakuangankutunggukudanlainlain….

(24 maret 04)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 + 4 =