Category Archives: Puisi Cinta Member

Kerinduanku Menjadi Sebuah Sajak

Otakku sepi
Pikiranku terapung di atas waktu
Suaraku tertahan oleh kerinduan yang tak terkabulkan

Aku rindu hawa kita
Hawa kita yang riang
Keceriaan kita yang merah dan kuning

Aku ingin menangis
Karena kau tidak ada saat kurindukan

Hatiku berjalan… berjalan,
Menyusuri cahaya-cahaya keinginan
Hatiku melangkahi batu-batu kecemburuan
Kemudian berlalu dari perasaan-perasaan malam yag takut
Menghampiri kesejukan pagi yang bahagia
Ku kejar matahari yang tersenyum
Seperti kamu!
Aku rindu jiwamu
Aku rindu cahayamu
Aku rindu kau mengatakan “aku sudah disini”
Tetapi kamu tetap tidak ada

KErinduanku
Seperti hutan yang menantikan hujan dan kemarau
eperti merasakan sakit perut
Seperti mengayuh sepeda ke kutub utara
Bukan tidak mungkin
Tapi ingin cepat sampai

Ah…
Kerinduanku hanya menjadi sebuah sajak saja
Karena kamu tidak ada

================
Rina.
25 April 2002

Sajak ditulis dalam Gelap

Dalam gelap pandang
Aku tulis sajak ini
di kegelapan aku mencari kata
Aku meraba arti
Aku menyentuh makna

Dalam gelap pandang
Aku tulis sajak ini
Di kegelapan aku mencari jiwamu
Kamu memang tidak ada
Nampak bayangmu membuat aku
merasa

Kau ada
Aku meraba hatimu
Kutemukan arti kisah kecil kita

Jiwamu nampak luas
Bagai lautan tak bertepi pantai
Tak berujung
hatimu tak sulit
Sesulit matematika
Namun logika
Hatimu mudah bagaikan bahasa

Dalam gelap
Kutelusuri arti jasadmu
Wajahmu
Seperti gunung di kejauhan pagi
yang dibayangi embun dan sinar
matahari
Nafasmu seperti angin
jam setengah enam pagi
Berhembus
Kecil
Sejuk
Keheninganmu
Keheningan kita
Keheningan jam dua dini hari
Sepi
Tenang

Langkahmu pula seperti mobil
Jeep melintas diatas gunung
Berliku dan yakin
Sementara pelukmu setentram
aku berada didalamnya
Seperti bertelanjang dan
berendam di air hangat

Dalam gelap aku merasukmu
menyelinap lewat pori-pori
jasadmu, kutemukan jantungmu
Perutmu, telingamu
Kutemukan pula bibir yang
membuat lidahku bergetar dan
nafasku berdesah kagum
Jariku mencengkram rambutmu

Aku melihat kau diam tanpa apa
Aku melihat sebuah keheningan
Aku melihat emosi
Kemudian emosiku beranjak
Beranjak bangkit
Bangkit!
Bangkit!
Bangkit seketika menjadi nafas
ketegangan
Gila!
Aku ingin kamu

Mencium tubuhmu saja
aku memejamkan mata
Desahmu menjawab desahku
Kita berada dalam sebuah arti
Aku meraba arti
Aku menemukan makna
Kamu
dan kisah kecil kita
Kita menjadi tahu
Menjadi arti
Menjadi makna pula
Kita menjadi sesuatu


===================
Rina.
05 April 2002, 02:03 AM

Mereka, perempuan,

Mereka, perempuan, dikatakan mengatakan dirinya tersimpan kelembutan yang menarik kegagahan lelaki.
selain lembut mereka perasa terbaik didunia ini. SAYA pun nyengir,
sebagai lelaki yang darisananya kalah berperasaan dibandingkan mereka, itukah yang menyebabkan kita menjadi pencicip rasa yang rewel?

pagi ini saya sangat berperasaan, tapi saya jangan dicicipi ya?


==============
JIWA DANINDRA

Mimpi Buruk

Tiba ku dipadang hijau nan luas
Entah kenapa ku melihatnya
Ku panggil namanya
Saat ia akan beranjak pergi
Menoleh lalu seulas senyum ku lihat darinya
Menjauh ia saat ku coba dekatinya
Mencoba aku tuk raihnya kembali
Meski ia berjalan dan terus berlalu
Ku menangis … Berteriak memanggilnya
Setengah berlari ku mengjarnya
Takut akan kehilangan karna kepergiannya
Seakan tak pedulikan aku
Berlalu ia tak hiraukan suara dan tangisku
Hilang … Lenyap
Ya ia hilang diujung penglihatanku
Tangisku
Teriakku
Tak dihiraukannya lagi dan terus berlalu jauhi aku
Ingin ku kuatkan suara dan berteriak “jangan pergi”
Lemas tak berdaya mengejarnya
Terduduk dan menangisku karnanya
Bangkitku harapkan “Mimpi” itu semu
Dan tak menjadi nyata

Malam Pengantin

aku rindu malam pengantin kita
seprei satin dan kelambu sutra
taburan mawar melati di atas ranjang
dan kau, pengantinku…
tergagap malumalu
membisu di sudut kamar

Novy Noorhayati Syahfida
Jakarta, 20 April 2003
syahfida@yahoo.com

a Wedding Planner Poetry

dan minggu itu kamu akan berdiri di sana bersama seseorang
dalam genangan senyum dan butir-butir doa

dan minggu itu kamu akan berdiri menjadi ratu ruang
dalam rindumu kuyup
dalam semarak serapahku
tulus
termangu menatapmu

tahukah kamu
aku berdiri di ruang ini berhari-hari
mencari sosokmu

menciptakanmu dalam bianglala
menciptakanmu dalam khidmat upacara

kucipta ruangmu dalam semerbak cinta
kucipta ruangmu dalam semarak serapahku
setulus aku membuat garis berbaris
untukmu

bdg 6/9/01