Category Archives: Dedicated

Ini merupakan kategori yang dikhususkan buat member yang telah memposting 10 atau lebih puisi.

Kesendirian

Sendirian
Manusia terlahir dan mati
Hanya amal yang menemani
Itupun katanya

Sendiri dalam dunia
Berjuang menghadapi satu Tujuan
Yang Juga Semu
Dan hakikatnya tak berarti

Benar kata kawan ku
Persahabatan bukanlah jawaban
Hanya sebuah batu lompatan
Agar kita bisa selangkah lebih maju

Ke-egoisan selalu membuat manusia terlena
Dan menyadari bahwa mereka tidak sendiri
Padahal kesuyian selalu menghantui
Dan yang ada kesendirian yang abadi

Baru ku sadari
Bahwa Tuhanpun bisa Mati
Sehingga aku pun semakin sendiri
Terpuruk, dan semakin terinjak oleh diri.

Bismillah,
Kusebut namaMu Tuhan
La Haula,
Kuakui kekuatanMu

Wahai pemilik Sirath
Tak ada jalan kecuali yang kau pilihkan
Tak ada celaka dan bahagia kecuali yang engkau izinkan.

Waghfirlanaa Warhamnaa
Kami yang selalu alpa dan berlagak menantang
yang diluar kuasa

Laa Tuhammilnaa maa laa….


——————–
Avesena
Dengan modifikasi seperlunya, tanpa mengganggu maksud puisi, oleh Toba

Perceraian

Aku benci perceraian kalian
Ketika engkau terbaring lemah kesakitan
Aku tak bisa apa-apa
Karena bermil-mil jauhnya jarak kita

Aku benci perceraian kalian
Ketika kakimu bengkak, tak ada yang mengusapnya dengan air hangat
Karena tak ada juga benihmu yang peduli
Selain aku yang sayangnya tidak menyukai
Perempuan yang mengaku istrimu itu

Aku benci perceraian kalian
Ketika aku tak bisa datang
Sesegera saat kudengar erangan
Dari mulut yang terpahat di muka keriputmu
Karena banyaknya pertimbangan

Aku benci perceraian kalian
Ketika kurasa sulitnya menjadi anakmu

(14 Maret 2004)

Malam itu, akhiri kisah Volume pertama

Sudah banyak tanda
Yang hendak meruntuhkan tenda
Dimulai dari kepulan asap dulu,
Diakhiri dengan marahnya benda kelabu

Semacam kasih sayang yang kuberikan padamu
Mesti tidak sehebat matahari untuk dunia
Jelasku, yakin kan dia
Jawabnya, bagi nya terasa singkat
Yang bagiku terpikir berkarat
Sungguh jawaban yang mengajak, anggap-ku

Ketika awan kelabu
Langit sunyi
Hanya pohon bamboo yang menunduk itu
Mengajak canda dalam kegalauan

Bayang-ku di lambang plus
Walaupun tak berlangsung mulus
Jauh-ku dilambang minus
Agar tak pupus, leleus, atau pepeus

Ku-duga, ingin mu menikmati hari
Hari-hari yang penuh imaji
Hari-mu yang penuh kreasi
Yang tak terkait oleh kail si pemula

Sungguh kasihan keadaan mu sobat
Mungkin kau menangis ketika tawa-ku
Mungkin kau mengemis ketika bingung-ku
Mungkin kau merengek ketika bimbang-ku
Tapi sekarang kau bersedih ketika senyum-ku

Buat apa kau adu-kan padaku
Sudah kubilang, kenapa kau berada disitu
Dibalik rongga-rongga yang terpenjara
Ditemani darah dan gelap tanpa akhir

Tanganku hanya bisa menulis sampai titik
Mulutku hanya bisa meracau sampai air itu berteriak
Telingaku hanya bisa mendengar sampai mulut itu bisu
Mataku hanya bisa melihat sampai batas-batas itu
Tapi ketika semua itu telah,
Patah…
Bisu…
Tuli…
Buta….
Apa arti dunia ini bagiku
Tubuhku hanya bangkai-bangkai kehidupan

Sekarang seterah kau, sobat
Apakah perlu lembaran baru
Yang kutulis di volume kedua
Kau tanya aku..!!!
Aku cukup senang menunggu apa kata Tuhan
Tentang kisah kita

MaMaT
23:07
15/02/05