Malam itu, akhiri kisah Volume pertama

Sudah banyak tanda
Yang hendak meruntuhkan tenda
Dimulai dari kepulan asap dulu,
Diakhiri dengan marahnya benda kelabu

Semacam kasih sayang yang kuberikan padamu
Mesti tidak sehebat matahari untuk dunia
Jelasku, yakin kan dia
Jawabnya, bagi nya terasa singkat
Yang bagiku terpikir berkarat
Sungguh jawaban yang mengajak, anggap-ku

Ketika awan kelabu
Langit sunyi
Hanya pohon bamboo yang menunduk itu
Mengajak canda dalam kegalauan

Bayang-ku di lambang plus
Walaupun tak berlangsung mulus
Jauh-ku dilambang minus
Agar tak pupus, leleus, atau pepeus

Ku-duga, ingin mu menikmati hari
Hari-hari yang penuh imaji
Hari-mu yang penuh kreasi
Yang tak terkait oleh kail si pemula

Sungguh kasihan keadaan mu sobat
Mungkin kau menangis ketika tawa-ku
Mungkin kau mengemis ketika bingung-ku
Mungkin kau merengek ketika bimbang-ku
Tapi sekarang kau bersedih ketika senyum-ku

Buat apa kau adu-kan padaku
Sudah kubilang, kenapa kau berada disitu
Dibalik rongga-rongga yang terpenjara
Ditemani darah dan gelap tanpa akhir

Tanganku hanya bisa menulis sampai titik
Mulutku hanya bisa meracau sampai air itu berteriak
Telingaku hanya bisa mendengar sampai mulut itu bisu
Mataku hanya bisa melihat sampai batas-batas itu
Tapi ketika semua itu telah,
Patah…
Bisu…
Tuli…
Buta….
Apa arti dunia ini bagiku
Tubuhku hanya bangkai-bangkai kehidupan

Sekarang seterah kau, sobat
Apakah perlu lembaran baru
Yang kutulis di volume kedua
Kau tanya aku..!!!
Aku cukup senang menunggu apa kata Tuhan
Tentang kisah kita

MaMaT
23:07
15/02/05

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

− 1 = 1