Category Archives: Blog

Saya Menunjuk Kesana

Sambil iseng, saya jadi teringat sebuah cerpen dari Sutardji Chalzoum Bachri, lantas gue menunjukan jari saya ke arah asal-asalan. Terbayang tangan gue nembus tembok kamar, nembus tembok rumah tetangga, kamar orang, masjid, gereja, halte bus, perkantoran yang masih sibuk, pasar yang mulai sepi, jalanan Jakarta yang macet. Melewati orang yang sedang mandi, suami-isteri yang bercengkrama, anak kecil yang sedang diomeli, imam masjid yang tengah memimpin ibadah, muda-mudi yang asyik-masyuk, redaktur majalah yang sedang pusing, mahasiswa yang ngedumel di tengah macet, programmer yang senewen dengan kode-kode, tikus-tikus DPR yang mengotak-atik angka dan beberapa orang yang hendak di bunuh. Tapi entah kenapa, kepala ini berkehendak menghentikan petualangan telunjuk jari saya di tanah paling timur Indonesia; Papua. Berhenti pada adegan sekumpulan orang papua yang tengah berkumpul dan mengeluhkan tentang pelarangan melakukan penambangan atas tailing PT. Freeport Indonesia. Tentang kekesalan mereka, kesulitan hidup yang menghadang mereka, tentang rasa terpinggirkan mereka, dan tentang pencurian sumber daya alam mereka yang entah apa mereka menyadarinya atau tidak. Dan saya disini tengah duduk menimang-nimang apa yang sekiranya enak saya lakukan saat ini.

Dan mereka berkata: “Kitorang hanya ambil dorang punya sampah”

Girls and Screen Saver

Wanita-wanita bertebaran dimana-mana. Beredar rumor bahwa rasio antara
pria dan wanita adalah 1:9. There are good girls, bad girls,
good-looking girls, fat-bottomed girls etc. Hmmm, para feminists pasti
langsung jengkel waktu baca kalimat gue barusan; “kok cuma mandang
cewek dari segi fisik aja sih, seolah-olah kita ini cuma objek…
bla… bla.. bla…” But thats the fact. Sebagian besar kita (terutama
pria), masih suka dan rela ‘tertipu’ oleh mata, oleh apa yang dipandang
(tolong garis bawahi kata-kata “rela”). Bahkan bukan hanya suka dan
rela, secara alami kita mencari ‘pemandangan’ tersebut (hehehe
feminists ngamuk lagi neh ;P). Tapi memang di lapangan, mereka (wanita)
seolah-olah berlomba untuk memberikan ‘tontonan’ yang terbaik bagi
mata. Hufff, kalian mungkin memprotes pernyataan tersebut dengan: “Itu
kan hak mereka untuk mengekspresikan diri, karakter, dan pribadi mereka
dalam fashion? Kalo you yang ngeliat jadi ‘senewen’, ya itu urusan
‘dapur’ you.” But gals, tak ada asap tanpa api. Dan reaksi ‘senewen’
itu adalah salah satu hal yang paling alami yang melekat pada diri tiap
manusia (pria dan wanita, hanya saja reaksinya berbeda). Ok, kita
hentikan sampai disini perdebatan abadi itu, gak akan beres, sumpah dah.

Mendiang nenek gue punya komentar mengenai wanita; “Yah kalo soal cewek mah gak ada abisnya, kita kemari ada yang cakep, pindah kesono, ada yang lebih cakep lagi….”
Yup betul sekali nek, gak ada abisnya, biar kata kita kawin/pacaran
seratus kali juga pasti selalu ada yang lebih, lebih, dan lebih.
Padahal kalo aja kita lebih concern pada satu pribadi, rela menelan
pahit-manis keringat yang dia keluarkan, mungkin kita bakal lebih
sadar, ada sesuatu yang lebih ketimbang physical attraction, apa itu???
Ah, jawab aja sendiri hehehe ^_^

Dan juga, bagi pria-pria yang mau sedikit lebih jeli, mereka hanya akan
melihat wanita-wanita ‘wah’ itu dengan sepintas lalu. Mata, hati,
bahkan kakinya akan dapat terpicing kaku ketika dia melihat wanita yang
berlumuran cahaya kecantikan, yup, betul, inner-beauty! Yang ketika
melihatnya seperti melihat pemandangan alam yang megah, sehingga
kata-kata yang keluar bukan lagi cantik, tetapi indah. Indah bukan
dalam artian sebagai benda atau objek, tetapi sebagai hakikat dari
kata-kata indah itu sendiri, ‘indah’ yang terlepas dari benda-benda
ragawi keduniawian, saripati dari kata-kata indah itu sendiri. Seorang
wanita yang ketika melihatnya, semua aspek-aspek jasmaninya tak
terlihat lagi, yang terlihat adalah langsung jiwanya, bersinar-sinar,
memancarkan cahaya yang memanggil belahan jiwanya. Dan sebagaimana
teori pencahayaan, bahwa benda yang berwarna merah tidak dapat dengan
sendirinya terlihat berwarna merah, tetapi warnanya akan ‘keluar’
sempurna begitu mendapat pancaran cahaya yang mengandung spektrum warna
merah yang sempurna juga. Begitulah mungkin jiwa-jiwa yang berpasangan
saling memanggil. Yang satu menunggu spektrum cahaya yang tepat, yang
lain terus memancarkan cahaya spektrumnya, mencari jiwa yang memberikan
refleksi sempurna spektrum yang dipancarkannya.

And when you found that girl, stand by your side, faithfully, you just
can say: “Those girls are screen savers, but she’s the real thing for
me, she’s my processor, dia adalah rumah tempat pulang, dia adalah
pandangan mata, dia adalah dunia tempatku hidup, dia adalah kenyataan.”
Seperti yang Tuhan katakan bahwa Dia ciptakan segala sesuatunya
berpasangan, yang berarti siang akan mati bila tidak ada malam, kering
akan musnah bila tidak ada basah, juga bahwa kita akan cacat tanpa
kehadirannya (begitu juga sebaliknya).

PS: pernyataan terakhir
tidak berlaku buat para bajingan yang berprinsip; “cewek ini mah buat
maen-maen, nah yang satu lagi buat serius”. No, NOT AT ALL!!!

Rumus yang Manis…

Huff, dengan kemampuan matematika yang cekak, belakangan ini saya coba
paksakan untuk menceburkan diri ke dalam rumus-rumus hitungan tentang
pencahayaan ruang. Berdasarkan tuntunan di buku (rumus baku + 1 buah
contoh soal tiap rumusnya) saya turuti apa kata penulisnya. Sambil
mengingat-ingat; “…. perasaan kalo rumus ini, koma-nya dibeginikan…
perasaan dulu rumus buat ngitung ini tuh begini…” Saya masukkan
angka-angka, saya hitung, ketika keluar hasilnya, dan selanjutnya saya
perhatikan tabel angka-angka yang dipaparkan di halaman sebelah,
tiba-tiba saya tersadar: “JADI ANGKA INI GUNANYA BUAT APA??!!!”


!@KJ(*#$*!@#()^(#&^!@#897@#$(!@*%*!@$&*&^@!!

**Kenapa dulu matematika tak terlihat seindah sekarang ini… saya kangen sama guru mtk SD saya….

Mengapa Jangan Menaruh Asbak di atas Kasur?

Ini merupakan pembahasan yang mendalam tentang mengapa jangan (terlalu lama) menaruh asbak di atas kasur. Pembahasan ini didapat dari pengalaman dan pengamatan yang telah berjalan selama beberapa tahun.

BAB I :

Kenapa jangan menaruh asbak di atas kasur?

1. Tidak semua perokok akurat dalam membuang abu-nya ke dalam asbak (terutama perokok kretek), sehingga kemungkinan besar abunya jatuh ke kasur atau seprai (bila memakai seprai). Bahaya abu di kasur dijelaskan pada Bab II.

2. Tidak semua lintingan rokok itu rapih, sehingga bisa saja, ketika rokok sedang dijentikkan ke asbak bara apinya mental ke kasur, sukur kalo keliatan sama kita, kalo kagak???

3. Asbak akan overload, dan kelebihan ‘muatan’nya itu bisa mengotori kasur.

4. Anda bisa saja lupa memindahkan asbak itu dari kasur setelah menggunakannya.

5. Karena Anda lupa memindahkannya dari kasur, maka suatu ketika, anda juga lupa bahwa di kasur ada asbak, dan terinjaklah oleh Anda.

6. Asbak bisa terinjak karena lupa, biasanya karena Anda sedang terburu-buru, (bila anda rajin/perfeksionis) ini bisa menyita waktu anda, karena anda akan membersihkannya lebih dulu. Dan (bila anda pemalas) diperkirakan akan membuat kasur anda kotor/tidak bisa digunakan dalam jangka yang cukup lama.

7. Kelanjutan dari poin keenam (tidak peduli anda pemalas atau rajin) dan juga inti dari efek samping menaruh asbak di atas kasur adalah RASA JENGKEL yang sangat!

BAB II :

Bahaya abu di atas kasur.

1. Sulit dibersihkan.

2. Kalau kita mau tidur, dan kebetulan muka kita berada tepat di bekas jatuhnya abu, maka bisa mengganggu indera penciuman kita. Karena kemungkinan masih ada sisa debu abu rokok disana.

3. Walau sudah dibersihkan,sering menimbulkan bau tidak sedap.

4. Bila jentikan bara rokok mengenai seprei, bisa menimbulkan bolong. Parah-parahnya kebakaran!

5. Tidur tidak tenang, karena rasanya kasur tidak bersih.

6. Timbul rasa jengkel karena kasur telah/pernah dikotori oleh abu rokok yang tumpah dari asbak.

7. Kejengkelan bertambah apabila ternyata didalam asbak itu tidak hanya terdapat abu rokok, tapi juga, sisa kulit pisang, bungkus lontong, sambel/saos yang dibuang, dan parahnya lagi, air ludah (bah!) dsb..

BAB III :

Cara membersihkannya.

1. Jangan gunakan tangan untuk membersihkan abu dari atas material bahan kain (kasur/seprai). Karena sapuan tangan justru akan membuat abu itu meresap ke dalam pori-pori kain. Yang mengakibatkan pembersihan kurang sempurna + menimbulkan bau kurang ajar.

2. Gunakanlah sapu kecil (yang biasa dijual si supermarket se-paket sama pengki nya). Usahakan buluh sapunya itu kaku. Atau bisa juga kuas cat.

3. Gunakan kertas untuk menadahi abu.

4. Sapukan abu itu sebagaimana seorang ahli arkeologi menyapu lokasi penelitiannya, pelan dan hati-hati, jangan sampai ada yang terlewat.

5. Setelah disapu. Nyalakan kipas angin, arahkan ke kasur. Pukul-pukul kasur Anda, sehingga sisa-sisa abunya terbang dan langsung terbawa oleh angin.

6. Bila terdapat unsur-unsur ke-basahan dalam asbak yang tumpah, jangan lupa lap kasur anda dengan lap basah, jemur bila perlu.

7. Bersabarlah, karena RASA JENGKEL pasti akan terbit ketika kita membersihkannya.

Sekian hasil penelitian sementara, tentang Kenapa Jangan Menaruh Asbak di Atas Kasur?

Bila ada revisi dari Anda sekalian, silahkan reply posting ini, terima kasih.

Tentang Konstrain

Bila saya teringat pada dosen Merancang Interior 1 saya (Ir. …) ada satu petuahnya yang seringkali terngiang di kepala belakangan ini, mengenai constraint atau ‘pembatas’.

Waktu itu dikelas Merancang Interior (MI) kita lagi ngerjain tugas maket, dan sedang dalam tahap pengerjaan fisik maketnya (setelah konsep). Material yang digunakan saat itu adalah polyfoam, bahan sejenis styrofoam tapi ketebalannya hanya 3 mm dan bahannya lebih padat dan lebih lentur ketimbang styrofoam. Dalam konsep yang gue bikin banyak bentuk-bentuk tembok yang melengkung. Dosen itu sampe di meja gue dan memperhatiin kerjaan gue (belum banyak yang gue kerjain waktu itu, hehehe). Dosen itu nanya sambil senyum,

  “Apa bahan ini bisa dibuat melengkung seperti di konsep kamu itu?”
  “Bisa pak”
  “Apa kamu sudah berhasil membuatnya melengkung?”
  “Hehehe, belum pak, dari tadi patah terus”
  “Nah itulah, dalam merancang dan membuat sesuatu kamu harus sadar material apa yang kamu gunakan. Dan kamu mesti tahu konstrain-konstrain yang menghadang konsepmu, salah satunya dari material yang kamu pakai. Kamu harus paham betul karakter material tersebut.”
  “Ooh..”

Kemudian beliau mengambil sebuah potongan polyfoam gue dan mencoba melengkungkannya sedikit demi sedikit, hingga semakin lama makin membentuk lengkungan. Dan beliau meneruskannya hingga akhirnya patah.

  “Nah, kamu lihatkan (pada polyfoam yang patah tadi), berarti itu batas dari bahan yang kamu pakai. Itu konstrain kamu. Dengan memahami konstrain yang kamu miliki, kamu akan dapat lebih bijak dalam mengatasi konstrain tersebut dalam pengaplikasiannya pada rancangan kamu. Bila dia tidak sanggup dilengkungkan hingga titik tertentu ya jangan dipaksakan, karena percuma saja, dan dalam beberapa hal malah mungkin bisa membahayakan.”

  “Oooh…”

Penjelasan pak dosen tersebut selain menyinari pemahaman gue tentang konstrain dalam hal perancangan, material, juga membantu gue dalam menghadapi keadaan sekitar gue. Bahwa segala sesuatunya memiliki porsi tersendiri, memiliki kadar masing-masing. Membantu gue dalam memahami pacar, teman, lalu-lintas, dan kambing bandot yang hobi kawin (???). Cuma mungkin dalam kasus manusia, konstrain itu sepertinya bersifat sementara. Semisal, cewek saya sekarang lagi susah buat ngertiin, ya itu konstrain dari dia UNTUK SAAT INI, banyak faktor yang membuatnya lagi begitu, tapi besok, lusa, atau kapan, sejalan dengan waktu dan proses-proses lebih lanjut, konstrain itu punya kemungkinan untuk berkurang, atau hilang sama sekali, karena dia manusia, mahluk yang berpotensi untuk terus berkembang dan berubah. Beda dengan kambing bandot, konstrain penjual bandot adalah ya itu, hobi kawin, gak bisa dirubah lagi. Maka si penjualnya harus memakai taktik atau perlakuan tertentu agar hal itu tidak terjadi (memberikan jarak antar kambing misalkan).

Tapi toh ya manusia juga punya konstrain-konstrain yang gak bisa berubah. Mengenai konstrain yang nggak bisa berubah ini, gue gak mau ngomongin panjang lebar, karena sepertinya hal itu berbeda pendapatnya pada tiap-tiap orang, jadi soal itu silahken apa kata ente aja dah. Hehehehe, soalan aspek-aspek yang bisa-dan-tidak-bisa berubah dalam diri manusia itu emang seringkali berbeda pendapatnya antar tiap orang. Bahkan dalam taraf kajian ilmiah sekalipun hal itu tetep aja berbeda-beda, tergantung dari teori mana hal tersebut diukur.

Konstrain itu ada, agar kita tahu cara menyikapinya.

Seberapa Aman Komputer Lo dari Bahaya Digital?

Program-program security di dalam komputer saat ini ibarat penjaga gawang dari berbagai macam ancaman terhadap komputer kita; virus, adware, spyware, hacker attack de el el. Dengan semakin mudahnya perpindahan data dari satu komputer ke komputer lainnya, maka semakin besar pula potensi ancaman bahaya yang ada. Apalagi buat mereka yang komputernya terhubung ke internet, ditambah apabila mereka mereka menyimpan data-data berharga didalamnya. Masih segar dalam ingatan, bagaimana seorang perwira Pasukan Bela Diri Maritim Jepang yang dengan ceroboh menyimpan file berisi data rahasia korpsnya di komputer pribadinya di rumah, kemudian pc tersebut terkena virus, dan melayanglah data rahasia itu, alias bocor! 😮 . Bagi pengguna biasa pun (yang nggak sampe punya dokumen penting sekelas rahasia negara atau perusahaan), keamanan komputernya tidak bisa dianggap remeh. Selain karena bisa (sangat) mengganggu, juga dapat menimbulkan senewen sendiri. Misalnya data-data anda terhapus atau rusak oleh virus, adware yang rese dan maksa terus menerus muncul, atau trojan dan worm yang membuat komputer anda bekerja sangat-sangat goblok dan tidak dalam kapasitasnya (gak lucu dong komputer prosesor 3.06 GB tiba-tiba cpu usage-nya naek sampe 100% padahal gak ada program ato servis bener yang lagi jalan) <_< . Buat gue pribadi (kebetulan nih pc kadang konek ke internet) keamanan termasuk penting, yah lebih baik mencegah daripada ngobatin sambil maki-maki dan makan ati kan :angry: . Perangkat keamanan yang gue pake cuma anti-virus Kaspersky Personal Pro, firewall ZoneAlarm Pro v3.1. Nah kemaren gue buka-buka pdf majalah PCMedia, dan di bagian ulasan softwarenya gue nemuin PC SECURITY TEST 2006. Fungsi dari aplikasi itu adalah buat menguji sejauh mana ketangguhan pertahanan komputer kita terhadap serangan virus, spyware, dan hacker.

Bagaimana aplikasi tersebut bekerja? Dari penjelasan yang ada di aplikasi itu begini: aplikasi bakal menjalankan beberapa simulai serangan palsu terhadap komputer kita. Dalam Standard Test-nya aplikasi akan menjalankan 3 kategori serangan; Anti-Hacking Protection Test, Anti-Virus Protection Test, dan Anti-Spyware Protection Test.

Untuk Anti-Hacking Test, dia bakal coba deteksi port-port tidak terpakai yang mestinya ditutup oleh program firewall, kemudian melakukan simulasi port-scanning terhadap komputer kita. Anti-Virus Test-nya bakal ngelakuin 4 macem simulasi serangan virus; perubahan terhadap registry (dalam hal ini penambahan entry ‘add at windows startup’), penginfeksian dengan virus yang dikenal (EICAR), penginfeksian dengan virus yang tidak dikenal, juga dengan menginfeksi virus yang berjalan di memori. Anti-Spyware Test akan ngejalanin simulasi serangan spyware yang menyerang memori, memasukkan komponen spyware ke IE, juga simulasi spyware yang merubah startup page nya IE.

Dan gue jalankan test terhadap komputer gue ini, ternyata hasilnya tidak begitu bagus. Untuk Anti-Hacking dapet predikat Good Protection (100%), Anti-Virus Fair Protection (30%, cuma bisa ngatasin 1 di antara 3 macem serangan), dan Spyware protection dapet Insufficient Protection (0%). Kaget juga ngeliat hasilnya, terutama bagian anti-virus, soalnya anti virus yang gue banggain cuma segitu kemampuannya (kata aplikasinya siiih 😛 ). Tapi gue semakin yakin dengan kurang optimalnya Kaspersky gue karena kemaren komp gue berlaku gak wajar (terdapat gejala terinfeksi), tapi nih antivirus bilang ga ada apa-apa :huh: .

Ok lanjut ke aplikasi tadi. Selain paket pengujian standard, masih ada dua paket pengujian lainnya (Email Test dan Browser Test), dan satu paket Proof Mode. Pengujian email dilakukan cukup sederhana yaitu akan menguji keamanan server email anda dengan mengirimkan email berlampirkan virus, jika email itu ada, nongkrong di inbox lo, berarti kurang pengamanannya. Browser Test akan menguji keamanan browser. Terakhir Proof Mode adalah fitur yang menunjukkan secara gamblang (dengan praktek nyata) apa yang dapat dilakukan oleh aplikasi-aplikasi jahat terhadap komputer anda. Hehehehe cobain deh contoh gimana kalo ada aplikasi jahat mengambil alih kontrol atas hardware lo :rolleyes: .

Aplikasinya sebesar 845 Kb, gratis, bisa didownload di : http://www.pc-st.com/us/. Dan cuma untuk PC berbasis Windows ajah 😛