Bila saya teringat pada dosen Merancang Interior 1 saya (Ir. …) ada satu petuahnya yang seringkali terngiang di kepala belakangan ini, mengenai constraint atau ‘pembatas’.
Waktu itu dikelas Merancang Interior (MI) kita lagi ngerjain tugas maket, dan sedang dalam tahap pengerjaan fisik maketnya (setelah konsep). Material yang digunakan saat itu adalah polyfoam, bahan sejenis styrofoam tapi ketebalannya hanya 3 mm dan bahannya lebih padat dan lebih lentur ketimbang styrofoam. Dalam konsep yang gue bikin banyak bentuk-bentuk tembok yang melengkung. Dosen itu sampe di meja gue dan memperhatiin kerjaan gue (belum banyak yang gue kerjain waktu itu, hehehe). Dosen itu nanya sambil senyum,
“Apa bahan ini bisa dibuat melengkung seperti di konsep kamu itu?”
“Bisa pak”
“Apa kamu sudah berhasil membuatnya melengkung?”
“Hehehe, belum pak, dari tadi patah terus”
“Nah itulah, dalam merancang dan membuat sesuatu kamu harus sadar material apa yang kamu gunakan. Dan kamu mesti tahu konstrain-konstrain yang menghadang konsepmu, salah satunya dari material yang kamu pakai. Kamu harus paham betul karakter material tersebut.”
“Ooh..”
Kemudian beliau mengambil sebuah potongan polyfoam gue dan mencoba melengkungkannya sedikit demi sedikit, hingga semakin lama makin membentuk lengkungan. Dan beliau meneruskannya hingga akhirnya patah.
“Nah, kamu lihatkan (pada polyfoam yang patah tadi), berarti itu batas dari bahan yang kamu pakai. Itu konstrain kamu. Dengan memahami konstrain yang kamu miliki, kamu akan dapat lebih bijak dalam mengatasi konstrain tersebut dalam pengaplikasiannya pada rancangan kamu. Bila dia tidak sanggup dilengkungkan hingga titik tertentu ya jangan dipaksakan, karena percuma saja, dan dalam beberapa hal malah mungkin bisa membahayakan.”
“Oooh…”
Penjelasan pak dosen tersebut selain menyinari pemahaman gue tentang konstrain dalam hal perancangan, material, juga membantu gue dalam menghadapi keadaan sekitar gue. Bahwa segala sesuatunya memiliki porsi tersendiri, memiliki kadar masing-masing. Membantu gue dalam memahami pacar, teman, lalu-lintas, dan kambing bandot yang hobi kawin (???). Cuma mungkin dalam kasus manusia, konstrain itu sepertinya bersifat sementara. Semisal, cewek saya sekarang lagi susah buat ngertiin, ya itu konstrain dari dia UNTUK SAAT INI, banyak faktor yang membuatnya lagi begitu, tapi besok, lusa, atau kapan, sejalan dengan waktu dan proses-proses lebih lanjut, konstrain itu punya kemungkinan untuk berkurang, atau hilang sama sekali, karena dia manusia, mahluk yang berpotensi untuk terus berkembang dan berubah. Beda dengan kambing bandot, konstrain penjual bandot adalah ya itu, hobi kawin, gak bisa dirubah lagi. Maka si penjualnya harus memakai taktik atau perlakuan tertentu agar hal itu tidak terjadi (memberikan jarak antar kambing misalkan).
Tapi toh ya manusia juga punya konstrain-konstrain yang gak bisa berubah. Mengenai konstrain yang nggak bisa berubah ini, gue gak mau ngomongin panjang lebar, karena sepertinya hal itu berbeda pendapatnya pada tiap-tiap orang, jadi soal itu silahken apa kata ente aja dah. Hehehehe, soalan aspek-aspek yang bisa-dan-tidak-bisa berubah dalam diri manusia itu emang seringkali berbeda pendapatnya antar tiap orang. Bahkan dalam taraf kajian ilmiah sekalipun hal itu tetep aja berbeda-beda, tergantung dari teori mana hal tersebut diukur.
Konstrain itu ada, agar kita tahu cara menyikapinya.