Category Archives: Blog

Fear

“Buka mata dan tataplah ketakutanmu. Dengan mata tertutup, di balik kelopak matamu wajah ketakutan itu menjadi semakin besar. Buka matamu dan lihat wujud ketakutan yang sebenarnya”

Komik 20th Century Boys vol. 4

Evaluasi sebuah shooting amatir, tertanggal 30 Maret 2003…

Ini adalah file evaluasi shooting sebuah film indie berjudul : ‘Sebuah Cerpen’ , berlokasi di Bandung, di sebuah kafe bernama Kafe 33, yang sampai sekarang film indie tersebut masih berbentuk kaset-kaset vhs, alias belum diedit. Sampai sekarang masih utang 2 scene lagi, tapi ga bisa kebayar, karena aktornya dan aktrisnya  sudah jauh berubah perawakannya.

evaluasi syuting hari kedua di kafe 33

pertama syuting hari ini dilaksanakan dalam keadaan sang sutradara capek berat setelah seminggu sebelumnya (hampir berturut-turut) terlibat dalam beragam aktivitas yang semuannya menguras energi. kedua sang sutradara dalam keadaan tidak enak hati kepada pemilik tempat syuting dan juga kepada para pemainnya, sehingga timbullah kepanikan tersendiri dalam dirinya yang mengakibatkan ke-terburu-buruan, sehingga banyak hal yang terlewat atau tidak terlaksanakan dengan baik. storyboard dan shoot list juga skenario yang seharusnya menjadi pegangan utama, justeru sering terbengkalai. kepanikan dari sutradara ini fatal dan mempengaruhi jalannya pengambilan gambar. baik dari segi keteraturan pengambilan gambar maupun mood pemain dan crew.

pengorganisiran keuangan kacau. karena tidak adanya rapat-rapat pra-produksi yang intens. tidak lupa juga kondisi wacana (baik teknis maupun praktis) dari sutradara, crew dan pemain tentang perfileman yang masih dalam tahap belajar.

satu hal yang jangan pernah hilang dalam suasana shooting (baik setelah marah-marah sekalipun) yaitu senyum, ini vital alias penting. karena secara psikologis, senyum menetralkan suasana mood yang kacau dan manimbulan kelegaan dan ketenangan tersendiri dalam diri setiap unit shooting.

buat kedepannya, tenang, rileks, dan lakukan sesuatu dengan lebih terencana, tidak asal jadi. sebelum bergerak pikirkan dan lihat lagi perencanaan awal, sehingga segala sesuatunya berjalan sesuai dengan rencana.

jangan menganggap enteng, dan jangan pernah membayangkan segala sesuatunya akan berjalan terlalu mudah atau terlalu sulit. bayangan berbeda (hampir) 100% dari kenyataan di lapangan.
good luck.

Terima kasih Tuhan…

  • Terima kasih Tuhan, atas 6 tahun yang kulalui dengan terus bermain selama SD (sampai aku lupa, apakah benar-benar pernah belajar suatu pelajaran disana).
  • Terima kasih Tuhan, atas revolusi pemikiran selama 3 tahun di ‘smp’, kegagalan mendapat cewek, dan berkenalan dengan teater.
  • Terima kasih Tuhan, atas 6 tahun petualangan di kota Bandung, bersama orang-orang yang menarik dan penuh semangat.
  • Terima kasih Tuhan, karena telah memulangkanku ke kampung halaman (Kau benar-benar perhatian padaku).

Di lantai 2 toko H. Konin lama, Ciputat

Sesaat menghempaskan diri pada seperangkat kursi sofa keluaran lama, dengan ruang luas dan kosong menghampar di muka, keheningan mengambang di udara. Seperti ada di bioskop yang sunyi, tanpa penonton lain, tanpa layar pemutar film; kenangan masa lampau, itulah pertunjukan yang segera tergelar.

Masih kulihat anak kecil yang berlarian diantara sofa-sofa yang dijual, menemani ayahnya atau ibunya atau kakeknya yang melayani pembeli. Terdengar kembali hiruk-pikuk pasar yang dulu, pasar tradisional, lambang perkembangan enkonomi rakyat kecil. Sejarah, sepucuk sejarah masih menggenang di ruangan ini. Dengan sebagian langit-langit yang bobol, lantai kayu yang lapuk. Aku duduk disini, di tengah keheningan sempurna. Merasa jauh dari suara-suara, distorsi-distorsi pandangan mata, kegelapan ruang, cahaya menyilaukan, juga jauh dari kelembaban atau hawa panas, keheningan sempurna. Rasanya seperti istirahat sebulan penuh. Aku hanya duduk, merokok, dan merokok.

Mau tidak mau

Masalahnya adalah bukan bisa atau tidak bisa, tapi mau atau tidak. Itu mendesak, karena waktu terus berjalan, setiap detik terhitung. Kemampuan adalah sesuatu yang diraih, bukan dewa yang datang dengan sendirinya. Jika keadaan ideal terlalu jauh dari kita, dekatkan, dengan jalan menurunkan kadar ideal itu untuk sementara kepada hal yang paling mungkin saat ini.

Bila bicara multi-tasking (mengerjakan beberapa hal bersamaan atau ‘dalam satu kurun waktu tertentu’), kita harus sadar, segala sesuatu didunia ini butuh ruang dan waktu demi eksistensi materi-nya. Ruang dan waktu dalam bentuk fisik juga dalam alam pikiran. Bila prasyarat tersebut nol, tidak terpenuhi, maka materi tidak dapat mengejawantah dalam alam riil. Ibarat planet tidak dapat dihuni mahluk hidup jika tak ada air, unsur yang menopang kehidupan. Apapun itu, aksi nyata ataupun ide, dia butuh ruang dan waktu. Jelas ruang dan waktu yang kita punya untuk segala sesuatu itu terbatas, limit. Dua hal tersebut adalah faktor ‘pemaksa’ eksternal, yang kita bisa hanya menyiasatinya.

Choosing color; pelajaran hari ini

Udah lama gue meraba-raba tentang bagaimana sebenernya cara untuk memadukan warna, udah dua tahun mempelajari interior, tapi tetep aja sucks dalam hal mewarnai dan juga memilih warna. masalah teknik mewarnai (dengan dan atas berbagai media) mungkiin sebenernya masih bisa diatasi dengan pengetahuan akan perpaduan warna-warna yang baik. Selama ini gue hanya bisa kagum dan (masih juga) keheranan ketika melihat orang (misalnya) memadukan warna ungu dan hijau tapi tetap kelihatan klop, and end up in twilight zone.

marker
marker

Pagi ini, gue mulai membiasakan diri gue (kembali) dengan alat-alat pewarna, khususnya marker. Mencoba mengenali karakter warna yang dihasilkan sampai menyapukan marker dengan baik. Sasaran medianya adalah sketsa-sketsa yang udah gue bikin di buku skets A3 gue (jenis kertas sketsa tentu). Setelah mulai terbiasa, gue pun mulai coba-coba membuka buku ‘Teknik Pembuatan Gambar Berwarna‘ yang disusun oleh Michael E. Doyle. Dari situ gue mulai mencari beberapa sampel, baca-baca sedikit, dan kembali lagi ke buku sketsa. Gue warnain sebuah sketsa meja rias yang gue bikin beberapa waktu lalu. Didasari dengan marker berwarna Naples Yellow, target warna yang tergambar di benak gue adalah warna perpaduan antara kuning dan cokelat. Dua kali sapuan untuk bagian-bagian yang terkena cahaya, dan 4-5 kali lebih sapuan untuk daerah shade. Setelah selesai, gue perhatiin gambar itu dari jauh dan dekat, yup, the color works, gambarnya jadi keliatan lebih hidup dari sebelumnya. Gue lanjutin dengan meniban semua warna dasar itu dengan pensil warna murahan merk Lyra. Gue pilih warna oranye, gue coba sebentar, dan gue beralih ke warna cokelat standar. gue tiban semuanya, dengan penekanan yang berbeda pada tiap bagiannya, ringan pada bagian yang terkena cahaya, dan agak keras pada bagian shade. Hasilnya, BURUK. Gue nyesel nambahin warna itu. Terngiang kembali komentar-komentar dosen atas gambar-gambar berwarna gue. Mereka cuma berkomentar ringan, “kamu kurang berani ngewarnainnya”.

c-wheels
Color Wheel

Shit, they’re right, seringkali gue ‘ngerusak’ gambar yang udah gue bikin begitu tangan ini menyentuh pewarna dan menyapukannya pada gambar tersebut. Sedikit desperate terbit dalem ati. Ow, it’s 3 am, harus tidur, tapi iseng buka buku Michael E. Doyle lagi, dan disitu ada sedikit kalimat diantara tutorialnya masalah perpaduan warna. Di gambarnya terlihat warna Mauve (ungu muda) hasil marker, ditimpa dengan Celadon Green. Kalimat selanjutnya berbunyi; “Warna yang hampir-berkomplemen ini menghasilkan kelabu yang hidup.” Ber-KOMPLEMEN, ah bodoh sekali gue ini, yup, tentu saja warna nggak bisa sembarangan di gabungin begitu aja, buat apa ada teori warna, Color Scheme, broer! Geblek sekali gue. Selama ini gue kurang menyadari dan mengerti fungsi dari color-scheme tersebut, tapi hari ini gue dapet sedikit gambaran tentang fungsi mereka. Mungkin.

Jogja…

Deepest Sympathy buat orang-orang Yogyakarta
Semoga semua urusan mereka dimudahkan
Semoga bumi yang menggeliat memberikan keberkahan yang lebih di masa datang
Semoga yang kehilangan sanak saudara dikuatkan dan ditabahkan
Semoga mereka yang tiada, mendapat rahmat dan ampunan dari Tuhan
Semoga yang kehilangan rumah diganti dengan yang lebih baik,
Semoga semua urusan mereka dimudahkan

Buah dada itu….

Aku harus sadar sesadar-sadarnya, harus terbebas dari ruang dan waktu yang sekarang menjebak. Karena luasnya langit baru terdeteksi begitu jiwa berada diatas ‘peta-peta’. Ketakutan-ketakutan dramatis dapat segera dijadikan bahan tertawaan ringan – jika saja dapat terbebas dari ruang dan waktu -.

Ruang, petak ini, naungan ini, kamar ini, desa ini, taman ini, kota ini, pulau ini, negara ini, dunia ini, planet ini, harus bisa diatasi dengan jiwa yang lebih luas dari mereka. Muatan nuansa, memori, emosi, intelegensia, kekuatan yang mereka kandung, harus bisa diatasi. Manusia dipaksa terus berjalan oleh waktu. Walau mereka diam, hakikatnya tetap berjalan. Sehingga pikiran-pikiran, perilaku, karakter massa atau personal ter-pattern ke dalam warna dan kotak-kotak. Ya, manusia cenderung terkondisikan oleh ruang dan waktu yang membungkus mereka, dan -sedikit- manusia yang ‘bisa keluar’ dari sana dianggap wali atau orang gila. Gila itu sehat, karena disana ada denyut kehidupan yang sebenarnya, bukan kehidupan yang seharusnya. Gila adalah upaya radikal untuk bebas dari ruang dan waktu.

Dengan kekuatan, aku harus berkelana, selemah-lemahnya, setidaknya jiwaku. Harus meringkas makrokosmos ke dalam jagat inti dalam jiwa, lantas me-replay mereka sesuai kehendak. Untuk memperjelas ‘jalan’ yang sudah menjadi ‘seharusnya’ ini, aku harus terbebas dari ruang dan waktu, memandang dari segala sudut, menemukan inti dari ‘jalan’. Dalam apapun, dalam ruang dan waktu yang bagaimana pun, aku harus terbebas dari mereka, supaya dapat melihat inti-nya. Karena ruang dan waktu adalah kulit yang membungkus hakikat dari peristiwa-peristiwa hidup, nukleus yang berpendar dalam rahasia.

Aku harus terbebas dari ruang dan waktu, agar tangan ini mampu mewarnai dengan baik.