Category Archives: Blog

Saya Tidak Mampu Jadi CEO

Alkisah pada 2005, gw dan beberapa teman mendirikan sebuah workgroup yang diberi nama Xinix. Singkat kata, sekitar taun 2008 (seingat gw) gw memutuskan untuk keluar dari sana.

Dan pada medio tahun 2009 (ini pun seingat gw) teman-teman yang masih berkutat pada workgroup tersebut melegalkan Xinix menjadi sebuah badan hukum berbentuk PT. Dan pada awal Maret 2009 mereka mengukuhkan lagi langkahnya dengan tingkat keseriusan dan konsentrasi lebih tinggi, yaitu menyewa kantor dan beberapa tokoh kunci Xinix resign dari kantor sebelumnya demi bekerja full-time membangun Xinix.

Mereka adalah orang-orang andalan di kantor masing-masing, dan memiliki prospek karir yang cerah ke depannya. Tapi mereka lebih memilih menembus badai dengan perahu Xinix ketimbang meniti karir di jenjang karyawan. Totalitas dan keyakinan yang sangat patut diapresiasi.

Gw selalu punya khayalan basah (bukan mimpi, karena ingetnya pas melek :p ) bahwa suatu saat gw akan come back dan ikut memajukan Xinix bersama orang-orang hebat itu, ya khayalan murahan njiplak dari sejarah Steve Jobs dan Apple :))

Tapi melihat perkembangan mereka saat ini gw makin yakin, gw ga sanggup jadi CEO IT company 😉

My greatest compliment to:
Dudi
Re
Aves
Dwan
Angga
Habib Syafiq

Gw gak akan bilang ‘good luck’ karena kita sepakat tidak ada istilah ‘keberuntungan atau ‘kebetulan’. Tapi gw berdoa, semoga Allah mengerahkan alam semestaNya dalam membantu kalian mencapai yang dicita-citakan.

Rencana yang Tertunda

Kemarin seharusnya gw dah kelar bikin refugium buat akuarium laut gw, tapi ketiduran akhirnya batalllll. Harusnya tadi malem dah sibuk-sibuk setup refugium, tapi ga jadi.

Dan ternyata penundaan itu membawa berkah, karena tiba- tiba gw teringat, ada beberapa hal yang harus gw riset mengenai teknis pembuatan refugium ini terutama soal DSB dan tumbuhan-tumbuhan laut yang ideal ditempatkan dalam refugium.

Dan ternyata masih mesti tertunda lagi, karena akuarium kecil yang gw beli itu dan sempat tertunda ngambilnya, bocorrrr. Untung gw test dulu pake air tawar. Jadi aja hari ini mesti nambal bocornya dulu, dan menanti lemnya kering selama 24 jam. :(( :((

Tuhan Memang Sengaja Menciptakan Sesuatu yang Besar dan Kecil: Butir Pasir

Tadi malem gw abis ngayak pasir aragonite setengah karung (1 karung = 25kg). Dengan total dua kali proses saringan. Untung itu pasir udah gw ayak sekali beberapa bulan yang lalu, jadi tadi malam tinggal proses ayak yang kedua (totalitas memang tak pernah sia-sia). Masih ada setengah karung lagi.

Kerajinan amat ya, buat apaan sih???

Jadi gini, gw mau bikin Deep Sand Bed untuk akuarium laut gw. Deep Sand Bed berbentuk sedimen pasir di dasar akuarium yang ketebalannya minimal 10 cm, dengan pasir laut yang berukuran sekitar 0,125 mm. Deep Sand Bed berfungsi sebagai tempat tinggal dan berkembang biaknya mahluk-mahluk infauna* dan bakteri pengurai (baik aerob maupun anaerob). Jadi selain sumber pakan alami bagi penghuni akuarium, juga berfungsi sebagai media filter biologis yang menjalankan proses siklus nitrogen (Amonia -> Nitrite -> Nitrate -> Nitrogen Gas).

Sistem ini bukanlah hasil rekaan maupun coba-coba belaka. Adalah DR. Ronald L. Shimek (Ron Shimek) seorang taksonomis dan konsultan lingkungan yang pertama kali mengajukan konsep ini, berdasarkan pada hasil penelitiannya. Dan Ron Shimek berbicara tentang ukuran partikel pasir yang diperlukan, berikut kutipannya :

In all of my discussions about sand beds I have made a point of specifying one particular parameter, that of the average size of sediment particles in the sand bed. Why should this one factor be so important? The answer simply is that sediment particle sizes determine the acceptability of the sediment to the organisms. Perhaps an example might illustrate this statement better. One of the common amphipods found along the west coast of North America is a species called Rhepoxynius abronius . This small bug has been investigated in some detail as an organism to use to test the toxicity of sediments, has been found to prefer sediments of a specific particle size, 0.113 mm in diameter. If given a choice, it will move to and live in sediments of that one specific size, not sediments 0.110 mm nor sediments of 0.115 mm, but only of that one size. If individuals are experimentally confined to other sediment sizes, they neither live as long, nor reproduce as well, nor tolerate stressful conditions as do individuals kept at the optimum grain size (Ott, 1986).

Most sediment-dwelling organisms appear to have similar precise preferences. However, most will also live at least marginally well in mixed-sediments with sizes around their optima, and most sediment particle size optima seem to be in the range of 0.050 to 0.200. Consequently I suggest a range averaging about 0.125 as a good compromise. It isn’t specifically the best for most infaunal species, but it will allow a diversity of species to live pretty well.

Sumber : http://www.ronshimek.com/deep_sand_beds.html

Gw pernah ngomong dengan beberapa orang dengan yakin bahwa Tuhan pasti memiliki maksud pada semua ciptaanNya. Bahkan kenapa batu koral itu bulat atau kasar dan berukuran kecil, pasti ada maksudnya. Tapi saat itu gw gak paham apa dan kenapanya, cuma yakin. Sekarang, yeah babe, memang benar-benar ada maksudnya 😉

Dan ketika manusia berusaha playing god dalam me-reka ulang bahkan sebuah ekosistem mikro seperti ini, effort-nya sungguh luar biasa.

—-
*Infauna are organisms that burrow and reside within the bottom most oceanic sediments.

Hujan Angin

Hujan angin jatuh seperti ember yang isinya tumpah dari langit. Begitu saja, menggelegar menampar segala permukaan yang terbuka. Sepenjuru mata memandang, semua basah, dan air bercipratan dengan agresif. Beberapa elemen rumah yang tak terpasang baik berjatuhan menimbulkan kaget dan gaduh.

Air yang jatuh dari talang, beradu dengan ember dibawahnya, mereka sayup terdengar seperti siaran radio yang tersendat.

Atap-atap rumah seperti berkabut, tertutup tirai titik-titik hujan. Dan aku yang keparat duduk disini, berpikir bahwa dengan secarik rain coat bisa menembus hujan macam ini.

Hari Ini

Hari ini jadwalnya pengecekan proyek finishing kusen rumah, dan sialnya ditengah jalan hujan. Padahal gw bawa rain coat, tapi karena mikir dah deket nanggung ah mo dipake, daaan walhasil sebagian besar jaket dan celana gw basah. Karena ternyata makin deket ke lokasi, curah hujannya makin deras.

Sebelumnya beli bintang laut pasir di pamulang, dan pesan akuarium laut di toko kaca langganan. Dengan kaca tebal 5 mm dan dimensi 35x35x30 you know berapa harganya? 75 rebu…. Mmm mikir-mikir juga, kayaknya mahal, mending beli di toko akuarium langganan. Tapi akhirnya gw putuskan to give it a try. Dan ternyata worthed lah segitu, siang pesen, sore dah jadi. Akhirnya gw titip aja, nunggu lemnya kering, besok baru gw ambil (pake motor bisa ga ya?).

Ketika Hampir Sampai…

Ada ungkapan yang digaungkan kembali oleh kelompok Sigur Ross, “saat tergelap adalah menjelang fajar”. Oleh yang suka naik gunung; “Saat terdingin adalah menjelang fajar”. Oleh orang-orang yang telat ngangkat “Tanggung, udah di ubun-ubun” :p

Dan bagi gw yang lagi nungguin masa 3 bulan akuarium laut gw bersirkulasi tanpa biota sedikit pun. Masa memasuki bulan ketiga ini yang paling gatel pengen cepet-cepet mulai aja. Padahal penentuannya disini, persiapannya pas nggak.

Apalagi sebelum masuk akuarium, ikan dikarantina dulu sebulan, mana sekarang cuma karantina dua ikan pula. Mungkin selang satu minggu gue akan tambah ikan jd nanti panen dari tank karantina juga tiap minggu ^^

Tapi setelah melihat kembali manfaat dan tujuan dari proses ini, gw kembali bersabar dan justru menemukan keasyikan-keasyikan yang baru.

Calo Cukai aktif kembali???

Kemarin pagi tgl 6 mei, sekitar jam 9-an (hampir siang sih), gw dibangunkan oleh telp dari seseorang yang mengaku bernama Chris dan katanya dari bea cukai. Sebenernya dari suara awalnya gw inget siapa cuma pura-pura lupa aja.
Intinya dia bilang “ada kiriman nih”, dan gw tahu betul kemana arahnya. Adalah supaya saya membayar doi ‘setengah dari pajak yang seharusnya’. BULLSHIT, F*CK!! Sambil setengah sadar gw bilang: “Udah pajakin aja kalo emang kena!” Dia terkesiap dan bilang “..iya” dan gue tutup telponnya.

Dulu gw terjebak dan mengikuti permainan dia, dan begitu ada keberanian menolak, barulah gw tahu bahwa angka itu adalah pajak cukai yang telah di mark-up 100% terlebih dahulu. Dan bahkan terkadang yang seharusnya ga kena pajak dibilang kena pajak, bahkan pernah juga sekali waktu dia telp mo pinjam uang 200 rebu, wakakaka emangnya gw atm! gak gw kasih lah.

Jadi modus operandi calo cukai yang gw tau kayak gini. Lo punya kiriman dari luar negeri yang nilainya diatas sejuta (yang kena pajak adalah yang diatas $50). Begitu kiriman tersebut mulai diproses di bea cukai. Akan ada seseorang yang nelp tetangga lo dan ngasih no telp dia ke tetangga lo itu, dan nyuruh tetangga lo supaya kasih tau ke lo untuk nelp dia secepatnya. Terus dia kasih tau ada kiriman, dan sok nanya invoice aslinya berapa, padahal udah disertakan disitu. Dan untuk pertama kali kita disuruh dateng dulu ke kantor cukai (pura2nya disuruh bawa invoice), selebihnya bisa transfer.

Yang gw alamin, yang neghubungin kita itu orang sebrang, (gw ngalamin medan sama ambon). Ada yang ngomongnya sok galak ada yang sopan.

Gw ngalamin dua kali, dengan cara yang persis sama. Coba tanya diri sendiri: di paket itu dah ada telp kita, kenapa telp tetangga? Pembayaran cukai paket luar negeri sudah ada prosedurnya, yaitu di kantor pos, kalo emang kena pajak ya kenain aja, ngapain telpon-telpon segala? Kita baru berhubungan sama orang cukai kalo kita mo protes soal nilai cukai yang dikenakan ke paket kita.

Gw simpulin, inti dari modus diatas adalah; teror, biar akhirnya kita ikut kemauan dia. Nelp tetangga, biar kita jadi kaget “what kind of access did he really have?”. Invoice, alesan aja. Ngaku orang cukai, padahal waktu itu pas gw masuk ke kantor cukai pasar baru, ga ada yang kenal namanya Chris, malah dianterin ke bagian pos-nya. Bahkan sempet dia nunjukin barang yang katanya dia ambil dari paket orang, semacam ancaman halus; “barang lo juga bisa gw acak-acak”.

Setelah gw nolak, gak pernah lagi ada yang telpon-telpon gw. Kalo kena cukai ya dikenain aja sebagaimana biasanya. Baru kemaren lagi ada yang telp model gitu.

Daaaaan sorenya gw baru tau, hari itu Sri Mulyani mundur dari menkeu. Apakah ada hubungannya? Apakah ini pertanda buruk buat kondisi ke depannya??

Only God knows, and I hope this isn’t a bad omen..

Soal Relay yang Kemarin Dipermasalahkan…

I feel stupid. Kemarin setelah 1 jam-an ngutak-atik relay merk Omron, baru gw sadar itu bukan relay yang gw butuhkan.

Jadi gini, gw mo bikin detektor level air, mirip semacam radar talon air, tp yang lebih aman secara kelistrikan buat peletakan di akuarium.

Nah detektor itu membutuhkan:
1. Water level float switch
2. 12v DC adapter
3. 12v DC Relay

Naaah yang terakhir itu salah beli. Harusnya beli relay DC, ini malah beli relay AC. Udah ngegunting adaptor, sambung kabel sana-sini, eh pas liat tulisan dikumparannya “AC 220V”, lemes dehhh, begoooo.

Akhirnya gw beli lg relay DC nya, di toko komponen elektronik (bukan toko listrik). Lebih murah pula, cuma 11 rebu, dibanding yang AC 25 rebu.

Gimana Siiiih Instalasi Relay Omron MK2P-I ????????

Gue abis beli relay Omron MK2P-I. Dan ga ada cara praktis untuk instalasinya. Bahkan tanpa kotak. Di body nya cuma tertulis gambar rangkaiannya secara teoritis.

Gw coba search google dengan “Instalasi relay omron mk2p-i” dan tidak mendapatkan yang diinginkan, yaitu petunjuk praktis untuk mengaplikasikannya di dunia nyata.

Ada secercah harapan dari situs aquahub.com, relay yang mereka jual hampir sama dengan yang gw beli, but I can’t be too sure.

Somebody help me plisss….