Tulisan berikut ini gue ketik ulang–secara utuh, tanpa izin tertulis– dari buku Black Swan karya Nassem Nicholas Taleb.
Umberto Eco’s Antilibrary
Penulis yang bernama Umberto Eco termasuk di antara hanya sedikit cendekiawan yang serba tahu, berwawasan luas, dan tidak menjemukan. Ia memiliki sebuah perpustakaan pribadi yang besar (berisi 30 ribu judul buku) dan membagi para pengunjungnya ke dalam dua kelompok: mereka yang bereaksi dengan “Wow! Signore professore dottore Eco, hebat sekali perpustakaan yang Anda miliki! Berapa banyak di antara buku ini yang telah Anda baca?” dan sebuah kelompok lain—sedikit sekali—yang paham bahwa sebuah perpustakaan pribadi bukan pelengkap untuk menaikkan gengsi pemiliknya, melainkan alat untuk penelitian. Buku-buku yang telah terbaca memiliki nilai jauh lebih rendah daripada buku-buku yang belum terbaca. Perpustakaan harus berisi sebanyak mungkin yang tidak Anda ketahui sama seperti informasi keuangan, yang tidak harus Anda kuasai seluruhnya tetapi dapat Anda ketahui ketika diperlukan. Anda akan menghimpun pengetahuan dan buku lebih banyak sejalan dnegan pertambahan usia, dan makin banyak buku di rak yang dengan sedih akan memandangi Anda karena belum terbaca. Marilah kita sebut kumpulan buku yang belum terbaca ini antilibrary.
Kita cenderung memperlakukan pengetahuan kita sebagai hak milik pribadi yang harus dilindungi dan dipertahankan. Pengetahuan seperti sebuah ornamen yang memungkinan kita naik ke posisi lebih terhormat. Maka kecenderungan untuk meremehkan kepekaan perpustakaan Eco dengan berfokus pada yang diketahui merupakan sebuah bias manusiawi yang selanjutnya berpengaruh terhadap kerja mental kita. Orang tidak berjalan ke mana-mana membawa pengumuman negatif mengatakan yang belum mereka pelajari atau belum mereka alami (itu tugas para pesaing mereka), tetapi alangkah baiknya andai mereka melakukannya. Sama seperti kita perlu menegakkan logika perpustakaan di kepalanya, kita akan berusaha mendirikan pengetahuan sendiri di kepalanya. Perhatikan bahwa Black Swan berasal dari kesalahpahaman terhadap kejutan-kejutan yang dapat terjadi, terhadap buku-buku yang belum terbaca, karena kita terlalu sibuk dengan yang kita ketahui meskipun sedikit.
Mari kita mendatangkan seorang antischolar—seseorang yang berfokus pada buku-buku yang belum terbaca, dan membuat sebuah upaya untuk memperlakukan pengetahuan sebagai sebuah harta karun, atau bahkan suatu hak milik, atau bahkan sesuatu yang meningkatkan harga diri—seorang peneliti yang skeptis.
Bab-bab dalam bagian ini berusaha menjawab pertanyaan tentang bagaimana kita, manusia, berurusan dengan pengetahuan—dan preferensi kita terhadap cerita-cerita yang menghibur dibanding terhadap sekumpulan data empirik. Bab 1 menghadirkan Black Swan dalam wujud yang aslinya: bagaimana kita cenderung melakukan generalisasi terhadap yang kita lihat. Kemudian saya menyajikan ketiga wajah masalah Black Swan yang sama : a) kesalahan konfirmasi, yakni bagaimana kita cenderung tergesa-gesa tidak menyukai bagian perpustakaan yang belum terjamah (kecenderungan melihat ke bagian yang menegaskan pengetahuan kita, bukan ketidaktahuan kita), dalam Bab 5; b) kesalahan dalam bercerita, yakni bagaimana kita membohongi diri sendiri dengan cerita-cerita dan anekdot-anekdot *Bab 6); c) bagaimana emosi dapat memengaruhi kemampuan kita membuat kesimpulan *Bab 7); dan d) masalah bukti yang bisu, atau trik-trik sejarah dalam menyembunyikan Black Swan dari kita (Bab 8). Bab 9 membahas kekeliruan yang bisa mematikan dalam membangun pengetahuan dari dunia permainan.
Bottom line dari pengantar ini bagi gue adalah :
…kita terlalu sibuk dengan yang kita ketahui meskipun sedikit.






























