Category Archives: Blog

Puisi Akan Terus Berubah

Seiring dengan pendewasaan, tema puisi yang diangkat seseorang akan juga berubah. Karena puisi akan mengungkapkan apa yang menghimpit dan menyenangkan hati seseorang pada masa sekarang.

Banyak yang merindukan ‘masa dulu’ ketika mereka aktif berpuisi. Banyak yang bertanya-tanya kenapa dulu gampang menulis puisi dan sekarang tidak.

Itulah, rasa puitis berkembang bersama penyairnya. Banyak hal diperlukan untuk menulis puisi. Latihan, konsistensi, dan hasrat atau passion.

Latihan akan mematangkan rasa puitis kita. Menyelaraskan antara passion dengan rasa puitis, dan menyelaraskan pendewasaan diri dengan konsistensi mencipta. Di saat semakin tua, semakin banyak aspek dipikirkan ketika menulis, sehingga seringkali tulisan gagal bahkan sebelum mulai ditulis.

Saya mengerti, bahwa dunia puisi bagi sebagian besar orang, hanyalah satu dunia persinggahan kecil di masa muda yang penuh gejolak. Karena itulah saya berhenti menanyakan teman-teman lama apakah mereka masih menulis, dan lebih memilih menyodorkan mereka puisi terbaru saya untuk meminta pendapat.

Semoga saya terus berpuisi hingga mati.

***btw, gak sengaja nemuin posting lama yang bertolak belakang dengan posting ini "Sick of It All" :p

++Mobile

Lao Tse dan Ilmu Padi

Sewaktu iseng jalan-jalan di kaskus, gue nemuin satu thread berjudul 7 penyakit seniman bela diri. Yang akan gue kutip disini cuma beberapa paragraf dari isi tulisannya yang gue anggap menarik. Satu bagian yang membahas penyakit sok bijak dan sok misterius dari seorang pendekar bela diri. Tapi bukan itu juga yang mau gue kutip :p , tapi yang ini:

HE WHO SPEAK DOES NOT KNOW
HE WHO KNOW DOES NOT SPEAK

Petuah itu seakan ditaati sepenuh hati oleh para ahli seni beladiri. Semakin sedikit berbagi ilmu, semakin sedikit menjelaskan, semakin misterius, maka semakin menggambarkan ketinggian ilmu yg bersangkutan.

Tentunya jangan disamakan tindakan berusaha terlihat bijak dengan ilmu padi. Ilmu padi menekankan untuk bertindak bijak dengan rendah hati, bukan terlihat bijak dengan menutupi informasi.

Petuah di atas sebenarnya ditulis oleh Lao Tze dalam kitab Tao Teh Cing. Ajaibnya, sang penulis petuah sendiri gemar berbicara dan menulis buku berisi lebih dari 5000 kata tentang ajaran-ajarannya. Lao Tze telah bertindak bijak, ia membagi ilmunya, menjelaskan, dan memberikan arahan yg jelas dalam filsafat-nya.

Bertindaklah bijak, jangan berusaha terlihat bijak

Which Reality?

Apakah realitas itu? Apakah realitas hanya ada satu? Apakah realitas yang benar untuk satu orang, juga benar bagi yang lain? Apakah realitas itu hidup yang keras penuh perjuangan? Apakah realitas itu hidup yang senang, penuh liburan dan hiburan? Apakah realitas itu kehidupan yang penuh dengan mimpi yang sulit diraih? Apakah realitas itu berarti hidup dimana semua keinginan pasti didapat? Dan apakah realitas Anda valid untuk saya? Ataukah realitas saya valid 100% untuk Anda?

++Mobile

Sarkasme

Memang ada banyak karakter orang dengan segala macam latar belakang sosial yang berhubungan dengan kita; sopan, menghargai, sarkastik, tidak peduli dan lain sebagainya. Berikut berbagai macam hobby dan kesenangan juga.  Sebagian orang sadar dunianya unik, dan sebagian lainnya tidak, atau tidak peduli. Dengan itu beragam pula tingkat ‘update’ tidak nya seseorang akan satu dan lain hal. Seseorang tahu tentang komputer luar-dalam, hardware dan software, ada yang bahkan takut untuk sekedar menyalakan. Ada yang baru belajar metode A, dan ada yang sudah melewati metode A, B, C, D, E… Dan apa yang terjadi ketika yang tidak tahu komputer coba masuk ke dunia ‘sang ahli’? Apa yang terjadi ketika orang yang baru mendapat pencerahan dalam ‘Metode A’ menyatakan kegembiraannya kepada yang sudah melewati metode A, B, C, D, E??? Hehehehehe sangat-sangat beragam, dan gw akan bahas salah satu jenis respons; Sarkastik.

Dulu ada mahasiswi UNISBA yang datang ke kampus gue di STSI Bandung, dengan maksud mencari informasi tentang dunia teater untuk bahan tugas kuliahnya. Pertama dia ketemu dengan senior jurusan teater (yang kebetulan room mate kosan gw), setelah nya baru ketemu gue dengan wajah kesal. Apa sebab? Ternyata dia mendapat ‘sambutan’ yang tidak menyenangkan dari senior gw. Dia ditanya-tanya sejauh mana pengetahuannya tentang teater dan terakhir senior saya bilang: “Jadi kalau Anda tidak tahu soal teater, kenapa mau menulis tentang teater???” …… Jelas dia datang ke kampus teater untuk cari info agar tahu, tapi justru jawaban sarkastis bodoh yang didapat.

Kasus lain, gw tidak begitu hobi sepak bola, baik untuk memainkannya maupun nonton pertandingan liga. But when it comes to world cup, gue akan ikut menyambut senang dan ikut menyimak jalannya pertandingan. Gue senang melihat persaingan antar negara, dan suasana yang terbangun karena adanya World Cup. Satu hari gak sengaja gue nonton bareng temen-temen yang memang suka bola. Kita bertiga, dua orang penggemar asli bola, dan gw ‘penggemar World Cup’. Mereka terlihat diam tanpa antusias, sementara gw rame gak jelas kalau wasit terlihat gak adil atau hampir gol. Dan pada tiap reaksi gue, mereka bereaksi mengejek. Mereka menutup sarkasme itu dengan sempurna, mereka bilang: “Kayak ngerti aja lo.” World Cup baru berjalan setengahnya, dan gw udah kehilangan antusiasme sama sekali untuk nonton setelah peristiwa itu.

Ada juga peristiwa kecil ketika gue bertanya kepada seorang kawan “Lo dah nonton film ini blum?” dan dijawab “Basi lo…” That’s just terrific, entah mengapa all of the fun of the movie menguap begitu saja.

Gw gak begitu ngerti apa yang ada di benak mereka dalam perilaku tersebut. Padahal jelas mereka goblok dalam hal lain, dan hehehehe gue atau orang selain mereka bisa menjawab hal itu dengan gampang. Apakah ini merupakan bentuk dari defense mereka?? Atau sikap ini didorong dari ekslusifisme tiap golongan? Atau dari rasa superior? Atau memang dasarnya orang-orang itu brengsek? Atau sebetulnya merekalah definisi sejati dari ‘orang bodoh’.

Gw punya sikap sarkasme sendiri, dan hanya akan gue gunakan pada waktu dan orang dengan perilaku tertentu saja, and I’m using it right now...

Berfikir Skeptis

Masih ingat betul, dalam sebuah stadium general seorang guru SMU saya berkata (berteriak lebih tepatnya); “Dalam urusan keimanan, paling pertama kita harus yakin dan percaya, tapi dalam mencari kebenaran kita harus ragu!” Saya tidak menyukai ucapannya saat itu, walau dalam hati mengakui kebenarannya, karena saya tahu ada maksud lain dibalik ucapannya. Itulah pertama kalinya saya bersentuhan dengan filosofi skeptis.

Sebelumnya coba kita lihat sedikit definisi dan sejarah dari skeptisisme tersebut.

skepticism (skĕp`tĭsĭzəm) [Gr.,=to reflect], philosophic position holding that the possibility of knowledge is limited either because of the limitations of the mind or because of the inaccessibility of its object.

It is more loosely used to denote any questioning attitude.

Extreme skepticism holds that no knowledge is possible, but this is logically untenable since the statement contradicts itself.

The first important skeptical view was held by Democritus, who saw sense perception as no certain guide to objective reality.

The Sophists were the earliest group of skeptics. Protagoras taught the relativity of knowledge, andGorgias held that either nothing could be known, or if anything were known, it could not be communicated.

Pyrrho, regarded as the father of skepticism, later held a similarly extreme position, seeing reality as inaccessible.

Arcesilaus taught that certitude is impossible and only probable knowledge is attainable. In the Renaissance, skepticism is seen in the writings of Michel de Montaigne, Pierre Charron, and Blaise Pascal. For René Descartes skepticism was a methodology that allowed him to arrive at certain incontrovertible truths.

At the end of the 17th cent., Pierre Bayle skeptically challenged philosophical and theological theories. David Hume, a leading modern skeptic, challenged established assumptions about the self, substance, and causality.

The skeptical aspect of Immanuel Kant’s philosophy is exemplified by his agnosticism; his antinomies of reason demonstrate that certain problems are insoluble by reason.

To some degree skepticism manifests itself in the scientific method, which demands that all things assumed as facts be questioned. But the positivism of many scientists, whether latent or open, is incompatible with skepticism, for it accepts without question the assumption that material effect is impossible without material cause.

http://encyclopedia2.thefreedictionary.com/Skeptikoi

lkhsdflksd

Wikipedia

Contemporary skepticism (or scepticism) is loosely used to denote any questioning attitude,[1] or some degree of doubt regarding claims that are elsewhere taken for granted.[2]

The word skepticism can characterise a position on a single claim, but in scholastic circles more frequently describes a lasting mind-set. Skepticism is an approach to accepting, rejecting, or suspending judgment on new information that requires the new information to be well supported by evidence.[3] Individuals who proclaim to have a skeptical outlook are frequently called skeptics, often without regard to whether it is philosophical skepticism or empirical skepticism that they profess.[4]

http://en.wikipedia.org/wiki/Skepticism

Dan semenjak membaca buku Black Swan, soalan skeptisisme ini kembali mengisi pikiran saya. Dari situ juga, ada bagian yang saya garisbawahi dari kutipan diatas, yaitu; Skepticism is an approach to accepting, rejecting, or suspending judgment on new information that requires the new information to be well supported by evidence.

Pembuktian apa yang harus diaplikasikan terlebih dahulu untuk mengujinya? Pembuktian bahwa hal tersebut salah, atau pembuktian kebenarannya. Seperti istilah END ‘Evidence of No Disease’ dalam dunia kedokteran, bukannya NED ‘No Evidence of Disease’.

Kendati demikian, ada pengecualian. Di antara mereka ada pemain catur papan atas, yang, seperti telah dibuktikan, sesungguhnya berfokus pada apakah sebuah langkah spekulatif akan menghasilkan posisi yang lemah, sebagai perbandingan, para pemain pemula cenderung mencari pembuktian-pembuktian kebenaran, alih-alih pembuktian kesalahan. Namun jangan bermain catur untuk mempraktikkan skeptisisme. Kalangan ilmuwan percaya bahwa pencarian kelemahan itulah yang telah menjadikan mereka pemain catur papan atas, bukan kebiasaan bermain catur yang mengubah mereka menjadi orang skeptik. Begitu pula, spekulator George Soros, ketika melakukan pertaruhan finansialnya, terus memperhatikan kejadian-kejadian yang akan membuktikan bahwa teori awalnya salah. Barangkali inilah yang disebut percaya diri sejati: kemampuan memandang dunia tanpa perlu mencari sesuatu untuk menyanjung diri sendiri.

Buku Black Swan terjemahan Indonesia–bab Konfirmasi Informasi Halaman 79

Jadi, setelah tertarik mengenai skeptisisme, metode pembuktian mana yang kita pilih?

++Mobile

Apa Artinya Kamu dan Mereka, Bagimu dan Bagi Mereka

Masih berhubungan dengan posting sebelumnya “You are a puzzle piece“, kita akan membahas sisi manusia yang berubah, dan apa yang memantik perubahan tersebut.

Kelebihan manusia sebagai mahluk yang dapat memilih adalah dapat belajar dari interaksi-interaksinya dengan lingkungan sekitar. Yang kemudian menjadikan interaksi tersebut sebuah pengetahuan empirik yang tersimpan di otak dan dalam setiap urat darahnya. Contoh, ketika seseorang memegang api dan tangannya terbakar, dia akan memiliki pengetahuan empiris bahwa api itu panas dan bisa melukai dirinya, setelah itu dia akan bersikap lain menghadapi api. Manusia bereaksi terhadap tantangan lingkungannya, baik yang negatif atau positif.

Kehadiran seseorang dalam hidup orang yang lain, dapat saling mempengaruhi perilaku dan cara pengambilan keputusan dalam banyak hal. Sama halnya dengan hilangnya orang lain dari lingkup kehidupan seseorang. Sebenci apapun sesuka apapun, tetap akan ada yang hilang, dan tetap akan memberikan efek perubahan perilaku.

Juga keluar-masuknya seseorang dalam suatu komunitas, tim kerja, masyarakat, akan saling memberi perubahan. Mungkin itu yang disebut orang sekarang ‘chemistry’. Jadi jangan pernah merasa bahwa Anda atau orang lain itu tidak penting, karena Anda menjadi Anda karena mereka juga, begitu juga sebaliknya.

∞

=========
Tulisan ini disertakan dalam:

You Are A Puzzle Piece

Segala sesuatunya naik-turun; ekonomi, detak jantung, perdamaian,
peperangan, keimanan, dan kondisi psikologis seseorang. Ketika keadaan
psikologis dalam kondisi prima, mau ada hujan-badai juga terasanya
gerimis saja. Tapi ketika kondisi psikologis sedang turun, langit
se-biru apa pun berasa mellow. Kondisi yang terakhir sering disebut
sebagai down. Dan sialnya, dalam kondisi down biasanya orang justru
lebih jelas melihat kelebihan-kelebihan orang di sekitarnya, makin terpuruk lah dia.

Saya pernah ada di posisi tersebut, dan sesekali pun terjadi di masa
sekarang. Ada satu yang teringat ketika saya sedang down dan duduk seorang yang sedang ‘up’, makin down saja rasanya. Tapi setelah obrolan demi obrolan berlalu ada satu titik yang mengingatkan saya akan satu hal; tidak ada manusia yang bisa sukses sendirian. Yang pintar butuh yang bodoh, dan yang berhasil butuh yang gagal; begitu juga sebaliknya.

Saya terinspirasi menuliskan ini setelah membaca obrolan saya dengan seorang teman yang kemudian dia posting dalam tulisan yang menarik : http://rizky.avesena.net/2010/06/10/pematik-dan-api/ dari situ bisa dilihat bahwa setiap setiap orang merupakan satu komponen dari gabungan komponen yang menyusun sistem yang lebih besar.

Dalam komik Dragon Ball, saya mengidolakan tokoh Vegeta/Bezita, karena karakternya yang tidak suka basa-basi, beda dengan karakter Son Goku yang sangat naif dan beberapa kali membiarkan musuhnya hidup. Tapi ada hal yang menarik dari situ, karena tokoh Goku selalu melihat potensi lain seseorang selain keburukannya.

Jadi setiap orang adalah komponen yang penting, a piece of puzzle. Tinggal mencari dimana peran terbaik sesungguhnya dari seseorang dalam sesuatu.

++Mobile

Mungkinkah Menggantikan Populasi Tikus Rumah dengan Hamster??

Itu adalah pertanyaan yang ada di kepala saya semenjak memelihara hamster beberapa minggu yang lalu. Mengingat cepatnya hamster berkembang biak, saya mempunyai pikiran bahwa itu mungkin.

Hanya saja ada beberapa kendala yang sudah terlintas:

  1. Predator:
    • Kucing
    • Tikus
    • Burung Elang. Tapi tidak ada elang di ciputat, jadi ini gak mungkin :p
    • Manusia
  2. Makanan.

Tapi semua itu semua baru perkiraan, lebih baik dicoba dulu prakteknya. Sekarang ini 3 hamster dalam keadaan hamil. Rencananya, anak-anaknyalah yang akan dilepas nanti. Sebab kalo biangnya sudah terbiasa hidup dilayani penuh di kandang, jadi kemungkinan adaptasinya lebih kecil. Kalo yang bayi kan masih fresh.

Adaptasi:
Saya berencana membiasakan kembali agar hamster untuk bersarang di tanah, dengan cara meletakkan kurungan hamster diatas tanah. Dengan harapan dia terbiasa menggali lubang di tanah. Mengurangi frekuensi makanan buatan.

++Mobile

Happy To Be Aboard (again)

Xinix LogoAkhirnya, tanpa disangka hari itu tiba, hari ketika gw bersentuhan dan bergabung lagi dengan senyawa bernama Xinix. Ya, senyawa! Gw tidak melebihkan dan mengurangi apalagi menjilat :p.

Kalau diingat lagi pembentukannya saya hampir percaya rapat pertama itu penuh mistik. Dari awal sudah dipertaruhkan keyakinan seorang teman tentang ‘tidak ada yang kebetulan di dunia ini’. Sebab seseorang yang ‘kebetulan’ ikut gabung di rapat pertama ternyata menjadi seseorang yang meletakkan batu tumpuan Xinix ke tahap selanjutnya; sebuah badan usaha legal.

Berkali-kali Xinix dipimpin 4 orang yang berbeda. Dan berkali-kali pula coba dibubarkan. Tapi nyatanya ‘dia’ melawan kehendak itu, dan tetap hidup baik secara jelas maupun laten.

Ketika para personelnya melihat Xinix sedang vakum, ternyata dia hanya sedang berevolusi ke depan.

Masih ingat betul, ada satu sesi ‘rapat pembubaran’ yang mana 4 orang personel berkumpul, dan semuanya membuka laptop masing-masing. Kondisi itu merupakan satu hal yang hanya bisa diimpikan oleh mereka 3 tahun sebelumnya; “kapan ya kita bisa rapat dan semuanya mencatat di laptop, bukan kertas bekas fotokopi-an kayak gini…” Sangat ironis saat itu, pas mau dibubarin, keadaan malah menunjukkan ada mimpi yang sudah tercapai.

Dan makin hari makin banyak mimpi-mimpi yang diutarakan dalam banyak rapat semalam suntuk, yang mulai dicapai sedikit demi sedikit.

Terima kasih kepada para visioner Xinix yang terus memperjuangkan eksistensinya atas kepercayaannya mengajak saya kembali ke dalam perahu yang sama. Saya akan berusaha memberikan yang terbaik sesuai dengan kapasitas saya di Xinix. Senang bisa bergabung dalam proses perwujudan mimpi yang berjalan seperti bola salju.

🙂

Xinix Technology

++Mobile

Prasangka dan Fakta: cap muslim sebagai teroris

Waktu iseng-iseng buka google reader, saya nemuin satu posting orang yang menarik. Dia membuat satu grafik yang mempertanyakan kebencian dan prasangka barat bahwa muslim adalah teroris. Prasangka bila dibiarkan, apalagi ditambah pembenaran-pembenaran yang dibumbui kisah-kisah palsu, dapat menjadi bola salju kesalah-pahaman yang melekat kuat di benak seseorang. Harusnya, begitu muncul prasangka kita segera menginvestigasi hal tersebut dari berbagai sisi, bahkan kalau perlu menuliskan fakta tersebut ke dalam sebuah grafik (walau cara ini tidak selalu benar).

Berikut ini adalah grafik yang dibuat pemosting tersebut yang membuat saya tertarik (walau saya berada dalam kelompok yang dipersangkakan).

Pemosting grafik ini menambahkan kata-kata sebagai berikut:

Berikut adalah diagram Venn dari populasi Amerika Serikat, populasi dunia Muslim, irisannya, dan al-Qaeda. Titik grafik Al-Qaeda harus diperbesar hingga sepuluh kali lipat agar terlihat.

Jika Islam benar-benar sebuah agama berlumuran darah dan sebagian besar umat Islam benar-benar mendukung al-Qaeda, kenapa mereka belum membunuh kita semua?

Walau pernyataan tersebut masih sangat bisa diperdebatkan, grafik ini masih dapat menunjukkan bahwa generalisasi memang berbahaya.

***Sumber : http://snarla.wordpress.com/2010/08/29/if-they-hate-us-why-havent-they-killed-us-yet