Author Archives: Nyenius

Di sini

Kau menyelinap melalui kedua bola mataku, menyempitkan
rongga-rongga saraf, dan tertahan di sini….

Ya, di sini!
Tidakkah jariku telah menunjukkan letak hati dengan benar?


===================
Akbar.
Bandung, 20 Februari 2003

Doa Hari Ke Satu, Satu Hari Satu Bait

alamat waktu yang terus berubah seiring arah wajah yang semakin menua, pada akhirnya jua lah massa kembali kepada kesetimbangan,

atas semua kenangan pada tiap ramadhan, terucapkan atau terjadi, maka kenangan adalah kenangan,

kepada Tuhan penguasa semesta, penggerak setiap lempeng, pencipta gelombang gelombang gempa, demi kesucian Mu, keagungan Nabi Mu, aku mengetuk pintu rahmatmu,

Semoga setiap kenangan tetap menjadi kenangan, setiap waktu yang berulang adalah pelajaran bagi si kecil untuk melangkah, maka jadikan setiap langkahku adalah bahan bakar imajinasi masa depanku, jadikan setiap daya pikir yang tercipta adalah hasrat untuk menjadi padi, jadikan setiap ucapan yang tergerak dari dalam lidah adalah tamparan bagi kesombonganku


=========================
Fahdi M.
Bandung.

Jika

Jika, Saat itu ku mengerti akan maksudnya, Mungkin saat ini akan beda jadinya

Jika… Saat itu ku Begini maka akan begitu

Jika… Aku begini apakah akan begitu?

Huh, kalo semua “Jika” itu terwujud maka akan bangkrut neraka…


=======================
Aves.

Tidak Untukku

Jika tanganku dapat bicara
Dia akan mewakili keberanianku berkata
“Betapa kamu tidak punya perasaan”

Jika bibirku berani menutupi ketakutan di hati
Dia akan berkata
“Kamu tidak tahu betapa aku tidak mau”

Kau tak pernah mengerti
Kau tak mau tahu
Aku yang sakit!

Beribu kata kau ungkap
Dengan berjuta makna kau tebar penuh pesona
Semua untuk wanita
Tapi tidak untukku

Cinta
Cinta
Cinta
Kau ungkap
penuh rasa kagum
Kau tuju untuk satu wanita
Untuk dua wanita
Tapi tidak untukku

Aku yang merasa,
Cerita yan kau buat
Hanya untuk merasakan mereka
Tetapi bukan untukku

Tak ikhlas kamu bicara
Tulusnya bukan untukku
Dibuat agar aku percaya

“sakit”
Hanya itu!

Tapi bohong jika aku katakan
:Pergilah kamu”

karena kamu hanya laki-laki tanpa apa pun
Kamu penyakit!
Kamu virus!
Tak sedikit pun kamu berperasaan
Tak sedikit pun kamu punya cinta yang tulus

Aku hanya ingin kau cinta
Dengan tulus
Bukan demi merasakan lagi seseorang
Itu fitnah namanya!

Tapi kenapa tidak untukku?

Jujurlah aku, jujurlah kamu
Aku yang harapkan cinta
Kau yang beri cinta
Tapi tak sepenuhnya
Untuk apa?

Aku
katakan saja
“Kau anjing!”
Anjing yang bikin aku…
Ah…
Semuanya diungkap saja
Aku merasa tak ada
Karena semua bukan untukku

================
Rina.
18 Maret 2002

Aku Masih Butuh Kamu

Aku buka jendela kamar
Lalu aku lihat keluar
Tidak ada siapa pun disana
Kecuali mobil-mobil yang lewat tanpa bosan

Disini
Aku masih memikirkan kamu
Aku masih butuh kamu

Sesaat air mataterseret keluar
Seperti dipaksa
Aku sadar, kau sudah tidak disini

Aku berfikir
Pengorbanan ini hanya sedikit
Untuk orang yang aku inginkan

Aku melihat wajahnya, aku melihat keikhlasan
Dia biarkan aku melakukan ini
Dengan segala sakit sekalipun

Dia tau yang aku lakukan
Dia tau yang aku mau
Dia menyadari siapa dirinya

Sesekali, bahkan sering
Terlintas kalimat di hati
“Aku tidak mau ini terjadi”

Aku tidak bisa berbuat
Aku juga tidak bisa menjalani
Aku hanya bisa diam dan menerima

Dalam keadaan tolol sekalipun
Aku diam tanpa usik
Tak ada gerak di hati

Aku ingin kamu, dan itu mungkin, tapi aku tidak

Aku tertidur sekejap
Lalu aku bangun dengan mata mencari

Aku ingat kamu
Terbawa sedikit dalam pejaman mataku tadi

Hh…. aku memang masih butuh kamu

Aku merasa
Aku sedang dipenjara
Dengan kuncinya yang kau telan
seperti di film kartun

=================
Rina.
10 Nov 2001

Kerinduanku Menjadi Sebuah Sajak

Otakku sepi
Pikiranku terapung di atas waktu
Suaraku tertahan oleh kerinduan yang tak terkabulkan

Aku rindu hawa kita
Hawa kita yang riang
Keceriaan kita yang merah dan kuning

Aku ingin menangis
Karena kau tidak ada saat kurindukan

Hatiku berjalan… berjalan,
Menyusuri cahaya-cahaya keinginan
Hatiku melangkahi batu-batu kecemburuan
Kemudian berlalu dari perasaan-perasaan malam yag takut
Menghampiri kesejukan pagi yang bahagia
Ku kejar matahari yang tersenyum
Seperti kamu!
Aku rindu jiwamu
Aku rindu cahayamu
Aku rindu kau mengatakan “aku sudah disini”
Tetapi kamu tetap tidak ada

KErinduanku
Seperti hutan yang menantikan hujan dan kemarau
eperti merasakan sakit perut
Seperti mengayuh sepeda ke kutub utara
Bukan tidak mungkin
Tapi ingin cepat sampai

Ah…
Kerinduanku hanya menjadi sebuah sajak saja
Karena kamu tidak ada

================
Rina.
25 April 2002

Sajak ditulis dalam Gelap

Dalam gelap pandang
Aku tulis sajak ini
di kegelapan aku mencari kata
Aku meraba arti
Aku menyentuh makna

Dalam gelap pandang
Aku tulis sajak ini
Di kegelapan aku mencari jiwamu
Kamu memang tidak ada
Nampak bayangmu membuat aku
merasa

Kau ada
Aku meraba hatimu
Kutemukan arti kisah kecil kita

Jiwamu nampak luas
Bagai lautan tak bertepi pantai
Tak berujung
hatimu tak sulit
Sesulit matematika
Namun logika
Hatimu mudah bagaikan bahasa

Dalam gelap
Kutelusuri arti jasadmu
Wajahmu
Seperti gunung di kejauhan pagi
yang dibayangi embun dan sinar
matahari
Nafasmu seperti angin
jam setengah enam pagi
Berhembus
Kecil
Sejuk
Keheninganmu
Keheningan kita
Keheningan jam dua dini hari
Sepi
Tenang

Langkahmu pula seperti mobil
Jeep melintas diatas gunung
Berliku dan yakin
Sementara pelukmu setentram
aku berada didalamnya
Seperti bertelanjang dan
berendam di air hangat

Dalam gelap aku merasukmu
menyelinap lewat pori-pori
jasadmu, kutemukan jantungmu
Perutmu, telingamu
Kutemukan pula bibir yang
membuat lidahku bergetar dan
nafasku berdesah kagum
Jariku mencengkram rambutmu

Aku melihat kau diam tanpa apa
Aku melihat sebuah keheningan
Aku melihat emosi
Kemudian emosiku beranjak
Beranjak bangkit
Bangkit!
Bangkit!
Bangkit seketika menjadi nafas
ketegangan
Gila!
Aku ingin kamu

Mencium tubuhmu saja
aku memejamkan mata
Desahmu menjawab desahku
Kita berada dalam sebuah arti
Aku meraba arti
Aku menemukan makna
Kamu
dan kisah kecil kita
Kita menjadi tahu
Menjadi arti
Menjadi makna pula
Kita menjadi sesuatu


===================
Rina.
05 April 2002, 02:03 AM

Aku Ingin Mencintai Jiwamu

Hati-hati!
Bila hari ini ku bilang kau cantik.

Awas!
Jangan percaya kata-kataku
Mengenai gigimu yang rapih.

Tinggalkan saja aku!
Kalau kau mendengar artikulasi bibirku ;
?Kulitmu bening, sebening embun?

Pejamkan matamu!
Ketika air liurku yang menetes
Membisikkan bahwa matamu indah.

Karena satu saat, wajahmu, gigimu, kulitmu, matamu, jadi seperti organ tubuh kambing, kau akan menyaksikan aku pergi tanpa menoleh ke belakang.

-Aku ingin mencintai jiwamu-


===================
Akbar.
Bandung, 8 Maret 2002