Author Archives: Nyenius

You Puzzle Me!

Tersudut antara takjub…
Akan ia yang –seolah- tanpa takut
Menghampiri sang aku
Menawarkan segelas anggur kebahagiaan
(hmm…sepertinya menyenangkan!)

dan juga ada ragu…
benarkah ia begitu??
Mungkin ia hanya bocah kecil yang melihat gula-gula
Dan merasa itu cinta
Padahal manis sesaat,
Lalu hilang saat ia bermain layang-layang


=======================
Layla.
(06/07/03)

Dengar Lies

Katakan lebih buruk, Lies.
Aku ingin tahu,
apakah masih menoleh padamu,
apakah jawaban dari ;
"apa yang masih kuat ketika rasa habis?"
                   "ketika cinta habis?"
                "ketika sayangku habis?"

Aku tidak buta.
Itu kenapa aku tak pergi.

Aku mengerti ; itu luka.
Luka untuk diobati
bukan dibiarkan busuk.
Itu kenapa aku tak ingin enyah.

-Aku ingin jalan ini bersamamu-
          -yang semakin kering-

Katakan lebih buruk lagi, Lies.
aku bukan Nabi...
Tak bisa langsung terbang ke Surga
dan membawamu serta.

Tapi aku belum "dibutakan".
Masih bisa berjalan
bahkan berlari.
Atau menunjukkan arah.

-Aku ingin jalan ini-
          -bersamamu-
          -yang semakin kering-



=======================
Akbar
2 Ramadhan 1425
---------------
16 Oktober 2004 

20 Oktober 2004

“Hampura urang Jay….”

Maafkan aku kawan, maafkan jiwa yang bebal ini. Kapal yang kubawa terlalu liar rupanya, aku yakin kau tahu, kaupun menyimpan jiwa yang semacam itu jauh dalammu, tapi kau lebih mampu menaklukanya, kau mampu membelokkannya pada saat dan putaran yang tepat. Aku??? Selau saja tersesat, biar seribu orang sudah bicara arah yang harus kutempuh, tetap saja tak kudengar. Jiwa ini seperti menggila, melampaui perintah dan inginku sendiri, dan (selalu) lagi-lagi kami (aku dan jiwaku) tersesat entah dimana. Aku dapat melihatmu, mereka, tapi suaraku tak sampai, begitupun suara kalian. Jiwa ini terlalu memusuhi perintah, ingin bebas sebebas-bebasnya; tapi bodoh. Dan jadilah kami jiwa-raga tanpa sauh, tanpa pelabuhan pasti dalam pelayaran-pelayaran kacau.

Luka menitik dengar panggilanmu, aku seperti meninggalkanmu tanpa menoleh, tanpa mempertanggungjawab-kan api yang pernah kita tiup bersama; dan kau kini sendirian menjaganya dan sedari dulu aku memang sering membuatmu sendiri atau menunggu. Aku tak ingin meminta maaf padamu, takut maaf itu melambangkan berpalingnya aku sepenuhnya, aku tak bisa.

Suatu malam di Babakan Siliwangi, kita bicara hingga pagi, kau katakan yang tak kupunya adalah keberanian untuk meninggalkan yang telah kubangun, dan pergi ke tempat yang baru untuk memulai yang baru. Kalimat itu selalu kukaji, berdiskusi dengan jiwa, melihat stok keberanian yang kupunya. Aku mulai mengerti kalimatmu, kujabarkan dalam hari-hari sekarang ini.

Sama sepertimu, jiwa ini masih lengang mencari arah kemana ia menyelamkan diri utuh-penuh. Kata yang selalu menggetarkan itu, seni, seniman, menjadi kalimat yang tak ber-alas, paragraf tak berinduk, lantas kesepian dalam haus tak henti.

Maafkan aku kawan, maafkan jiwa yang bebal ini. Tapi ini bukan titik, selama nyawa masih bersabung, selama itu kemungkinan tak pernah mati. Yang sudah tak mungkin terulang, tapi langkah sejati akan terus membuat jejaknya.

Kita juga pernah bicara, dalam terik siang, di tengah komplek yang sepi, pada hari-hari perjuangan bersama kita, kutunjuk langit: “Masih ada langit yang lebih luas lagi..”. Kupikir kesanalah kita harus berenang, bersama, ruang dan waktu bukanlah halangan. Selama kita masih melangkah, kita masih beriringan.

Kemana Langkahku

(buatku, mu, dan dia)

Pertama bertemu,
kita saling sapa.

Kepalamu botak tanpa rambut.
dengan angan-angan masa depan kita bicara,
aku hanya diam dan membisu.

hari, minggu, bulan sampai tahunpun berlalu,
dimana letak pembicaraan kita?
angan-angan yang dulu kita junjung.
harapan dan langkah kita? dimana.
aku hanya diam.

(malam menjemputku dalam lamunan)

Aku merindukan langkah
bulan dan mentari tak mampu menjawabku.

Kemana langkahku pergi?
bulanpun tenggelam menutup malam.


=====================
izay
bandung 20 Okt04

Jangan

Cukup lama kita selam-menyelam
dalam gelap dalam terang

Langit diatas kita
-kuanggap- tak pernah berubah
saat ini
dan saat yang lewat

Isi hati kita
adalah permen karet
yang nakal dan lengket

Wajahmu
sudah jadi pigura lamunanku

Berakhir disini ?!
Hatiku tak terima

Senyum pendampinganmu
selalu membayang pada pensil,
meja tulis, asbak, dan juga secangkir kopi

Dalam kematian perjumpaan kita
Aku merindukanmu


===================
08/01
Bandung
Toba.

Kamu Pergi

Di langit
mendung menggantung
melambai-lambai
dengan kesedihan di tiap ruas jalan

Aku bergidik sepi
Membayangkan kamu sudah pergi

Tak pernah terbayangkan
sedihnya begini

melihatmu pergi
Aku ingin mengejarmu
ingin berkata jangan

Mulutku terkunci
kakiku terkunci
Aku hanya bisa memandangimu
Sampai kamu tak terlihat lagi

Tapi di hatiku
Aku masih melihatmu

Setiap jalanan begitu kosong
seperti satu kota hilang isi

Pagi
Pagi
Pagi
pagi menjelang
mendung datang
dan di jembatan Macan
kau menghilang


===================
Toba.
10/12/00

Berlarilah Anaku!

berlari dengan tangan terkepal
berlarilah anaku

biarkan angin menghapus air matamu
biarkan debu mengusapi hatimu

berlari dengan hati yang tegap
berlarilah anaku

janganlah kau berhenti
jangan biarkan kehidupan merenggut hidupmu
walau sedetik

berlari dengan kaki yang kekar
berlarilah anaku

jadilah perkasa
jadilah orang yang selalu menantang ketidakpastian
jadilah kamu

berlari dengan pikiran yang tenang
berlarilah anaku

tak peduli orang menyebutmu apa
kau harus punya cita-cita

dengan kesegaran langit
dan malaikat-malaikat malam
janganlah bersedih

jika kau jatuh saat berlari
bangun!
dan teruskan berlari

jangan berlari kosong
berlarilah demi mengejar sesuatu
berlarilah demi membangun sesuatu

ini masamu nak!
ini zamanmu!

berlari dengan segala dirimu
berlarilah anaku

kemana pun kau pernah tersesat
dalam berlari
tetaplah nak
pada akhirnya
berlarilah sebagai manusia
dan
berlarilah menuju Tuhan


===================
Toba.
2:46 AM 12/9/01

Ballada Luka

Sebuah rumah di Jl. Kampus VII No. 10a

Di bawah bulan suram
dan angin kesedihan
perpisahan mencekikku
Menyeret pada kenyataan

Cahaya-cahaya di jalanan
Semuanya suram
Hilang sinarnya diserap duka

Setiap becak yang berlalu
pergi dengan air mata

Asap kretek yang kuhisap
Menarikan altar kesedihan
Diwajahku

Dengan sesaji air mata setitik
Kupinang kesedihan di langit sana

Jangkrik bernyayi memastikan
Disayapnya kepak perpisahan berdengung

-asap dan angin berdansa-

Pada kaleng susu kesehatan
Kenangan bersemayam
Pada genting sekolahan lebih lagi

Malam ini
Langit tak berhias
Disimpannya bintang
Dalam tumpukan awan-awan kelam

Dikejauhan orang tetawa nikmati kosmos lain kehidupan

-yang jelas bukan perpisahan-

Dedaunan merunduk,
Titiskan air matanya ke dada bunda
Bunga-bunga keringkan madunya
Demi suasana yang duka
Genting-genting berlompatan
Bingung hendak kemana

-asap dan angin terus berdansa-

Semuanya bertumpuk,
Paksa air mata cium dunia

Bila tujuh menjadi lima
Apakah sama !?!?

Kita semakin kehilangan warna


======================
Toba
Bandung.