hari ini,
aku ingin bilang kalo aku gak jatuh cinta…
tapi,
kenyataannya hari ini aku justru merindukannya.
aku ingin menghapus bayangannya bahkan namanya dari ingatanku.
tapi aku tak mampu
atau….
aku tak mau?
—
Talitha
hari ini,
aku ingin bilang kalo aku gak jatuh cinta…
tapi,
kenyataannya hari ini aku justru merindukannya.
aku ingin menghapus bayangannya bahkan namanya dari ingatanku.
tapi aku tak mampu
atau….
aku tak mau?
—
Talitha
Hatiku terenyuh lagi
Tak ada lagi kata yang dapat terucap
Saat ini, hanya bisa diam
Sampai Menyapapun aku tak bisa
Iya, mesti ku akui
Semua yang berbuat tidak pada kodratnya
Harus menanggung semua resiko
Termasuk, aku.
Namun, saat ini ku tak tahu jalannya.
Sesekali hanya berteriak
walaupun kutau itu bukan jawabnya
“Maaf”, hanya itu yang kubisa
Mungkin, bosan kau mendengarnya
Tapi hanya itu yang kupunya
Tidak argumen, tidak pula logika
yang kuyakin keduanya tak berguna saat ini
Kucoba memutar otak
mencari solusi terbaik dan tercepat
namun, lagi-lagi buntu hasilnya
terlalu banyak dimensi yang rusak
Saat ini, Apapun itu
Berikan padaku,
biar kuterima semua
hingga tak lelah kau jadinya
“Maaf, Mungkin ini Aku Adanya”
Puas akan yang kau miliki saat ini?
Maka besok kau akan segera mati
Cukup diam dan syukuri,
Lalu, kejar kembali
Jalan di depan terlalu berliku
Lewati satu persatu,
Dan ingat, jika telah habis langkahmu
Istirahatlah sejanak, simpan tenagamu
Sebab masih banyak liku yang harus kau lewati
Lagi, ingatlah Roma tidak dibangun dalam semalam
Jangan, pernah bermimpi
Akan ada hasil tanpa usaha
Namun yakinlah,
Tak ada usaha tanpa hasil
Setidaknya,
Sebuah proses
Itupun sebuah nilai minimal.
However, happy new year 2005!
Saya tak pernah bisa mengerti arti sebenarnya dari pergantian tahun. Selalu saja sama, entah malamnya begadang atau tidur, yang jelas besok pagi matahari terbit dan bumi terus berputar -seperti biasanya-. Mungkin akan beda jadinya kalau Saya seorang pialang saham, pergantian tahun berarti perhitungan-perhitungan bisnis baru. Atau jika Saya seorang pemilikgerai hp, tahun baru berarti beredarnya barang-barang baru, pesaing-pesaing baru, dan keuntungan-keuntungan baru, atau jika Saya seorang pejabat pemerintah, dimana pergantian tahun berarti harapan akan perubahan kebijakan negara asing yang melunak, atau harapan akan kepercayaan rakyat yang meningkat -mungkin harapan untuk korup yang lebih besar dan mudah-.
Saya bisa membayangkan semua itu, tapi tak pernah bisa sekedar merasakan atau merasa benar-benar perlu untuk merasakannya. Karena besok saya akan bangun tidur, libur sehari, untuk kemudian berjuang sama keras atau lebih keras dari hari-hari kemarin, sama seperti hari-hari biasanya.
Mungkin akan beda jadinya, kalau saya nyebur ke perut bumi dan memperhatikan langsung pergerakan-pergerakan tanah. Atau saya seorang astronom yang memperhatikan langit, sadar akan bintang yang lahir dan mati, atau lintasan bumi dan benda langit lainnya yang cenderung melenceng dan saling tabrakan tiap bertambahnya tahun.
Tapi saya tetap tak bisa mengerti arti sebenarnya dari pergantian tahun.
???
Duka Atjeh,duka kita,
Tangis Atjeh,tangis kita,
Perih Atjeh,perih kita,
Jeritan Atjeh,jeritan kita
Bencana,tiada seorang pun yang menghendaki
Bencana,tak ada seorangpun yang mengetahui
Bencana…
Bencana merupakan kuasa-Nya
Apakah kau meraskan…
Pedih,
Pilu,
Luka,
Kita hanyalah makhluk ciptaan-Nya
Apalah daya,kita adalah makhuluk yang kecil
Berserah dirilah engkau kepada sang-Khalik
Memohon,
Berdoa,
Tunduk.
(kepedihan ku terhadap Tanah Rencong)
—
Imanudin SiGalingMaut, 0
1:20am
30 Desember 2004
Eli, Eli!
Pada sedikit lempeng bumi yang Kau geser, merampungkan tugas malaikatmu.
Eli, Eli!
Begitu juga pada lintasan kereta tak berpalang, ketika satu keluarga melewatinya, pada bus antarkota yang mengejar waktu, pada anak kecil yang menyeberang jalan, merampungkan tugas malaikatmu.
Eli, Eli!
Maafkan aku yang takut melihat kehancuran itu. Tapi mayat yang berserakan itu Eli, sudah terlalu buat mataku.
ELi!
Pondasi darat yang bertumbuk pada kedalaman 10 KM, gelombang tinggi yang menggulung-gulung, ELi, terngiang jeritan mereka, terkapar terhantam balok, digulung air, terbentur-bentur segala.
Berkahilah mereka yang terbujur mati dalam puing dan tak ditemukan, mereka yang masih hidup dan belum ditemukan, mereka yang hidup dan kehilangan habis-habisan.
Mayat yang tergeletak, begitu sepi, sejarahnya habis dalam kota yang runtuh.
Eli…
Tak peduli apa agamanya, tak peduli pada Tuhan mana dia berpaling, selamatkan dia Tuhanku, selamatkan dia!
** Eli = Tuhanku
Tak bisa kuselesaikan
puisi-puisimu
dalam satu kedipan
3-4 puisi yang terlewati
selalu menghentak lambungku
tak mampu terus lagi
Luka dari
kata-katamu
mengucur bagai air mata
aku tak pernah
kenal kesunyian sepertimu
alunan hidup yan kau ceritakan
dan kerutan kening yang kau tuliskan
Jiwamu seperti kapas
lembut, hitam
menjerat sebagai
jaring laba-laba
kau seakan tak menoleh
sudah kupanggili namamu
kupanggili namamu
kau ada
hanya untuk jendela-jendela
di kamarmu
Duduk di kursi
menanti senja
—-
Toba.
15 Januari 2003
–edited on 12:46 pm 30/12/2010–
Kembali
ke kamar yang dulu
merayap lagi
di tembok-tembok sepi
menerawang
menembus bayangan gelap
Ada hati kembali
terasa benar
pergantian musim dalam hidup
cekaman yang halus
dengan nikmat memijat kepala
kembali ke kamar yang dulu
tanpa ketakutan-ketakutan buruk
di kepala
aku bisa pukul temboknya
kupecahkan dalam satu
geliat segar
Mampus kau semua!!!
—
Toba.
16 Januari 2004
Dalam secangkir kopi
yang meyisakan
satu-dua asap
Berenang jiwaku, berseloroh
Semua kebusukan
memang harus ada
semua tikus-tikus
memang harus hidup
Dalam sebatang rokok asing
senandung bergema
rra ta tam tam
rra ta tam tam
rra ta ta tam
kemudian tertawa geli
melihat akuarium
berisi ketololan-ketololan kita
Tragisnya drama
hasrat yang mandul
Impian-impian muda
Renungan-renungan cengeng
perlahan hadir
dalam secangkir kopi
yang tercelup tembakau asing
—
Toba.
03/02/2003