Memiliki keahlian berbeda dengan memiliki keahlian yang terdokumentasi. Rntahlah apakah itu susunan kalimat udah bener apa belum.
Saya rasa banyak orang yang memiliki keahlian husus, tapi jarang yang memiliki kemauan untuk mendokumentasikannya.
Saat ini saya punya masalah yang mungkin solusinya adalah dengan mendokumentasikan sebagian keahlian yang saya miliki. Demi kemajuan dan keberlangsungan sebuah entiti bisnis. Yup, saya pikir bukan hanya saya yang punya masalah ini, bisa dikatakan hampir semua enterpreneur yang memulai usaha sendirian.
Di masa awal biasanya akan dimulai dengan kondisi serba minim. Minim dana, peralatan, dan terutama wawasan pengetahuan. Seiring bertumbuhnya bisnis tersebut ketiga komponen tadi akan berkembang, dan yang perkembangannya paling kaya, tidak terprediksi adalah wawasan pengetahuan. Semakin banyak masalah dalam bidang usahanya yang dapat ia pecahkan dan diketahui solusinya, baik ketika dia memiliki perangktnya maupun belum.
Masalah timbul ketik dia membutuhkan tenaga manusia tambahan agar usahanya mampu mencerna semua pekerjaan yang masuk; knowledge nya terpusat di satu orang saja. Dia tahu bagaimana menyelesaikan semua pekerjaan itu, tapi tidak mungkin mampu mengerjakan semuanya sekaligus. Karena umumnya semua pekerjaan memiliki time-frame sendiri, yang tidak jarang tenggatnya berdekatan atau bersamaan.
Peradaban manusia telah hadir sekian lamanya dan memiliki jawaban masing-masing di tiap zaman-nya. Dan sudah seratus tahun pebih dunia menjawab tantNgan tersebut dengan sebuah entitas bernama perusahaan. Sebuah perusahaan yang baik dalam mempertahankan eksistensinya tidak bergantung kepada figur personal, dia bergantung pada rel kerangka kerja; sekumpulan pengetahuan yang diorganisir sedemikian rupa untuk mencapai tujuan-tujuannya yang menjadi sebuah sistem yang unik bagi perusahaan tersebut.
Meski demikian, kondisi ‘re-inventing the wheels’ seringkali (bila tidak dibilang selalu) hinggap di kondisi enterpreneur pemula. Karena contoh sukses sistem perusahaan biasanya terlalu besar untuk diterapkan pada usaha yang baru tumbuh. Dan sekarang saya berkesimpulan kondisi tersebut adalah ‘neraka’ yang wajib dilalui enterpreneur baru.
Stupid as it sounds, but it helps him to know the base of how bigger framework works. Selanjutnya, apakah ia akan mengadopsi sebagian atau keseluruhan sistem perusahaan yang sudah ada tidak akan menjadi salah. Karena dia mengadopsinya dengan pengetehuan yang jelas tentang mengapa tindakan itu dia ambil. He KNOWS what he do, and why.
Saya hidup dengan bisnis yang sebagian besarnya saya rancang bangun sendirian, permulaannya dan pengembangannya. Mulai dari aspek kebersihan tempat usaha, pemasaran, restocking, display, keuangan, hingga mesin-mesin pembantu pekerjaan. Dan sekarang usaha ini tumbuh lebih besar dari kapasitas saya sebagai pribadi. Saya butuh memberikan pos-pos pekerjaan tersebut kepada beberapa orang khusus, agar semua potensi dapat tergarap dan utamanya pekerjaan dan rencana bisa terealisasikan dengan baik.
Jadi pekerjaan rumah yang besar bagi saya adalah mendokumentasikan isi kepala saya, kemampuan saya menjadi dokumen yang dapat dibaca, dipelajari dan dipahami. Mudah kedengarannya, tapi tidak begitu dengan prakteknya. Dibutuhkan tenaga dan waktu untuk mengerjakan dan menyelesaikan PR tersebut. But, why can’t I say it’s a new hobby ๐