Hujan Sore Ini

Hujan yang turun sore ini terasa sopan. Perlahan dikirimnya mendung satu jam sebelum kehadirannya. Kemudian tetesan air merintik membasahi daunan dan rumah-rumah. Membawa aroma tanah basah yang romantis. 

Langit abu-abu muda meruntuhkan semua urusan-urusan. Melambatkan detak jantung yang terus dipacu hasrat. Memaksa danau dalam jiwa berhenti meriak. 

Dunia ini penuh lapisan yang menutupi kesejatian; apa-apa yang ada dibalik hijab pandangan mata. Contohnya langit kelabu ini, aku tahu persis dibalik sana matahari masih meraja. Bahkan pada kegelapan malam pun matahari sejatinya tak pernah memadamkan apinya. 

Kita hanya berputar, diputar, diblender dalam sajian pemandangan yang kasat mata. Sampai hilang kontrol atas reflek pengolahan realitas dan data, lantas bertindak dengan bodohnya. Dengan bodohnya. 

Tanah, besi, kayu, air, api, seharusnya menjadi unsur pembentuk yang membantu. Bukan tujuan. Tetapi kekuatan yang menyentuh fisik kita selalu membutakan kota dalam takut dan takjub. 

Padahal kekuatan tak kasat mata, yang mendesak ke dalam batin jiwa jauh lebih sering mengintimidasi dan membahagiakan kita. 

Langit mendung berwarna abu-abu muda, karena diberi cahaya matahari dibaliknya. Begitu juga raga yang sehat dan bahagia, didorong batin yang kaya dan sadar. 

Kesejatian, Tuhan, bukakanlah pintu kesejatian padaku. 

Batinku, maaf sudah lama kita tidak bicara. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

84 − = 80