Tahun 2015 adalah tahun yang cukup sulit bagi bisnis saya, tidak kepalang minusnya menyentuh tiga digit. Parahnya itu baru disadari setelah berjalan selama beberapa bulan.
Tiga sampai empat bulan di penghujung tahun saya berjuang membalikkan keadaan, minimal menstabilkan kapal yang sudah parah olengnya itu. Mencari pasokan baru, program pemasaran baru dan lain sebagainya.
Di saat itu juga, pemasukan tambahan saya sebagai penanggung jawab pemasaran distributor casing handphone terputus. Karena perusahaan itu pun terkena pemutusan kontrak dari principal. Perusahaan saya lainnya yang bergerak di bidang IT pun tidak memiliki laba sampai penghujung tahun.
Tuhan menolong saya dengan banyak hal pada tahun itu. Salah satunya melalui sikap yang mungkin menurut orang lain negatif; cuek dan keras kepala. Saya memang orang yang berpikiran global, bukan detail. Kekeraskepalaan saya membuat saya tidak terjerembab memikirkan kondisi yang sulit tersebut, yang saya pikirkan hanya bagaimana solusinya. Melihat sebentar ke belakang dan maju terus ke depan.
Beberapa solusi dicoba dan gagal. Beberapa rekan bisnis baru dijalin; dan gagal. Sampai akhirnya saya melirik satu potensi solusi yang dengan sengaja saya hindari selama ini, satu rekan yang selalu saya tutup aksesnya. Yang kebanyakan sebabnya adalah karena ego dan gengsi saya pribadi.
Dari sekian cara yang telah saya coba, terlihat cara itu yang belum saya lakukan. Akhirnya dengan segala kerendahan hati, mulai saya mulai coba buka hubungan bisnis dengan rekanan tersebut. Saya terobos ketakutan, saya buka semua kelebihan dan kekurangan dalam bisnis saya. Dan hasilnya baik, melenceng dari semua ketakutan-ketakutan saya selama ini.
Sejauh ini solusi itu berjalan dengan baik. Kapal yang tadinya oleng mulai kembali back on track dengan stabil; bahkan dengan tambahan perangkat-perangkat baru.
Yang saya dapatkan dari situasi bisnis tahun lalu adalah manajerial dan keuangan perlu untuk selalu dijaga. Dan ketika situasi tidak diinginkan terjadi, yang pertama harus dilakukan adalah ketahui posisi kita ada dimana (dalam segala hal), kenali dan terima segala kesalahan kita yg andil dalam membangun situasi tersebut. Setelah itu lihat ke depan dan bertindak.
Jangan menyalahkan persaingan, karena dia ada untuk memperkuat kita. Dan pembuktian ulang bahwa ketakutan bukan untuk dituruti, dia hanya sekedar rambu supaya kita tahu bagaimana bersikap.