Kemarin lusa, gue nonton wawancara MetroTV dengan menteri Perdagangan (Bu Marie Elka Pangestu). Di situ Bu Menteri (diiringi dengan iklan-iklan pro BBM naik) mengungkapkan alasan-alasan pemerintah menaikkan harga BBM. Dari awal gue nonton, gue perhatiin pernyataan-pernyataan Bu Menteri tersebut kurang kuat, dengan kata lain masih bisa dipertanyakan kembali. Sayangnya gue gak rekam tuh acara, jadi gak bisa ada transkrip isi wawancara nya.
Dan tadi malam, waktu pengumuman BBM naik, dimana ada 10 menteri dan juga pejabat-pejabat yang berkaitan (seperti bos pertamina dan lain sebagainya). Ada pertanyaan menarik dari wartawan. Ada tiga poin, salah satunya adalah “Apakah pada tahun 2008 ini akan ada kenaikan BBM lagi? Mengingat alasan BBM naik adalah harga minyak dunia, dan harga minyak dunia diperkirakan masih akan naik.” Kurang lebih redaksinya seperti itu lah. Dan pertanyaan itu (kata metroTV), tidak dijawab pemerintah. Lah kalau begitu buat apa pejabat se-abrek-abrek begitu didatangkan? Padahal jelas-jelas Bu Mentri Keuangan Sri Mulyani, pada pembukaan konfrensi pers mengatakan, sengaja menteri-menteri dan pejabat terkait didatangkan agar wartawan bisa bertanya langsung kepada sumber yang berkaitan dengan pertanyaan mereka. Konferensi pers ini disiarkan langsung oleh MetroTV, sayangnya, begitu sesi tanya jawab dimulai, dan satu wartawan mengajukan tiga poin pertanyaan tadi, siaran langsung-nya di cut oleh MetroTV dan acara kembali ke studio. Keterangan bahwa pertanyaan tersebut tidak dijawab hanya berupa keterangan lisan dari host Breaking News. Padahal gue pengen banget liat proses konferensi pers tersebut sampai tuntas, juga ngeliat muka-muka para pejabat menjawab pertanyaan wartawan yang kritis-kritis.
Menantikan pengumuman BBM naik tadi malem lumayan bikin deg-degan. Yang gue khawatirkan adalah kalau-kalau terjadi kekacauan begitu kenaikan diumumkan. Karena bisa jadi ada pihak yang ingin bermain di air keruh ini. Masih kebayang kerusuhan taun 1998. Syukur yang gue takutin gak terjadi, tapi tetep ada reaksi; mahasiswa beberapa kampus bergerak. Hal itu sudah gue duga sebelumnya, dan memang mengharapkannya.
Presiden dan wakil presiden cenderung mengabaikan demo-demo yang dilakukan mahasiswa, sebagian karena merasa gerakan mahasiswa itu tidak murni lagi, alias ditunggangi. Beberapa tokoh alumni aktifis mahasiswa telah meyakinkan semua orang bahwa gerakan mahasiswa itu masih murni. Tapi pemerintah sepertinya tetap memandang curiga, terlihat dari reaksi pemerintah terhadap para pendemo.
Paginya di toko, gue ngelayanin pembeli yang terlihat buru-buru. Katanya dia cari meja belajar buat anaknya, gue ajak ke workshop di lantai 1, gue kasih liat gambar meja belajar, dia kelihatan nggak begitu acuh. Bahkan ketika gue kasih tau harga pun dimuka nya tidak ada reaksi. Begitu kita mao turun ke lantai satu, tiba-tiba dia bertanya: “Harga sudah naik belum disini?”. Deg, entah mengapa, gue merasa itu adalah point of interest dia datang kesini. Dari situ gue berusaha untuk lebih merhatiin muka orang itu, dan dalam hati gue menduga-duga, “Ni orang intel kali ya, yang ditugasin ngecek harga barang pada hari pertama BBM dinaekin…” Tapi ya itu Cuma dugaan, gak perlu ada yang ge er disitu… Hahahahha…
