Dosa, dusta, memberati pundak mencekungi dada. Begitu sesak ini udara, sepertinya setiap saat aku akan mati, setiap waktu bumi siap menelan. Aku pasrah, luluh pada tanah, tanah manapun, aku tak lagi berpijak, hampa. Secara nyata atau bayangan, aku sendiri. Wajah hampa, sinar matahari sore tak menyengat sama sekali, ini mungkin yang terakhir ia kutatap dari bumi ini, tempat beo yang gagu dan daunan rontok tiap siang. Aku tak tahu, berusaha keras tak memikirkannya. Perpisahan, perpisahan dari kebodohan, waktu yang dipangku sia-sia, dan juga para pendamping dalam tawa dan gundah.
Mataku, ayo tembusi sore. Kakiku, ayo jajaki tanah ini selagi mampu, paru-paru, hirup semua udara dan debu yang mungkin kau hirup dari sini. Karena mungkin saja kita berpisah dengan mereka besok. Tapi ingat, kita pisah dalam tawa, seolah esok kita masih akan bertemu dalam hari-hari seperti biasa.
Hati:
Tak ada kegelisahan disini. Suara-suara hilang, bayangan-bayangan hilang semua. seperti suara sungai yang mengalir di alam liar, seperti bisikan angin pada cemara-cemara gunung, seperti debu yang berpindah langit tanpa keributan gosip. Tak ada kegelisahan disini. Bila kau tak tahu, lihatlah mata, mata tak menatap benda sebagaimana bentuknya lagi, meja bukan meja, jendela bukan jendela, tanah bukan lagi tanah, entahlah, hanya semacam cahaya kuning keemasan dan lagu-lagu tanpa nada yang kurasa.
Tak ada kegelisahan disini. Yang ada,entah kepasrahan, atau pengakuan terdalam.
farewell..
( adakah itu mantra-mantra )
farewell..
( adakah itu kata yang sempurna )
farewell..
( buat kau, mereka, dan diriku juga )