17 Mei 2004

Kembali mengenang romantisme masa remaja. Ketika bintang bukanlah bintang yang sesungguhnya, angin hilang jati dirinya, dan nama lebih indah dari sebuah antologi puisi. Kelembutan sentuhan, hangatnya pelukan, menjadi mimpi yang lengkap dan megah -keinginan yang segera, dan jangkauan yang jauh, menghasilkan alam romantisme yang gemerlap-. Senyum hanya milik kita sendiri, tak terbagi, dan artinya menyekat tenggorokan mereka yang ingin tahu. Biar aku mengenangnya.

“Masa keemasan, hari-hari penuh bintang
Debar-debar yang menyeru pada semaian-semaian kecil cinta
yang mendorong kaki melangkah, tangan melambai, dan hati bergerak
Tersebar disekitar kita bagai debu-debu kosmik yang mencekik tiap-tiap inci tubuh
dengan keindahan dan gairah.”

Bayangan itu selalu segar, persetan mereka yang mengatakan aku terjebak dalam film masa lalu. Bayangan itu selalu mendorongku, menggerakkan tanganku menulis, memompa adrenalinku, dan menceburkan diriku pada tarian hidup.

Aku selalu berkata kehidupan adalah sebuah tangga, setiap anak tangganya adalah kesulitan, satu anak tangga yang terlewati membuat kita semakin kuat. Hari ini baru aku perhatikan betul anak tangga-anak tangga itu satu persatu, gosok mata tak percaya, mereka adalah tumpukan masa kini dan masa lalu.

– kita harus punya ketiganya, fiksi, roman, dan realita –

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

59 + = 65