04 Juni 2004

Rembulan penuh, menjejakkan kakinya dalam jenaka kanak-kanak pada anak-anak sungai yang tercemarkan. Aku tak peduli, pada malam begini tetap mereka indah; bayang-bayang, goyangan bayang bulan, atau pupur putih di wajah bulan bulat sempurna (pada gaun pestanya, berhias manik-manik bintang tua) semua terlihat indah, menyentuh hati yang paling mandul akan keindahan.

Hahahaha, malam ini adalah pesta rakyat semesta, para kekasih yang syahdu dalam paduan cintanya. Coba ikut merenda walau hanya dengan mata terpicing gembira dan senyum yang berlumur puji-pujian. Semua berdansa, hawa dingin, angin yang membelai-belai pipi, hawa gaib romantisme bulan penuh yang memuntir-muntir ikal rambut di dahi.

Ah, ini pesta, walau badan lelah, dan mata berat seperti menua, tetap saja senyum jadi undangan utamanya. Semua yang bebas hatinya tersenyum, semua yang bebas hidupnya tersenyum, dan yang terkungkung, lepas senumnya begitu saja. Ini adalah pesta senyum, pesta kebahagiaan. Segalanya saling memanjakan, hidung dan aroma busuk didamaikan oleh angin, mata yang sayup-sayup pejam dibelai-dikecup angin, badan yang lelah-semaput dipeluk-diraba lembut oleh angin dan cahaya bulan penuh. Isi kembali tenagamu, tumpahkan kebahagiaan baru ke dalam jiwamu, hingga timbul riak-riak gairah dan kegembiraan.

Nikmati saja waktu ini, ambil sarinya.

Besok kita hadapi gergasi-gergasi yang merintangi jalan. Kita boleh kalah seratus kali, tapi jangan pernah mau tumbang begitu saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

57 − = 48