tidak ada satupun mahluk yang terlahir kedunia ini secara sia sia…
engkau menciptakan nya secara sempurana.. dan seimbang.. memiliki kelebihan dan kekurangan…
namun kadang sang mahluk tak menyadari maksud dibalik itu semua… kita haya bisa mengeluh dan mengeluh..
iya menciptakan mahluknya bukan tanpa disengaja… tapi iya punya tujuan lain.. namun iya tak pernah meminta sesuatu dari mahluknya…
yang iya inginkan hanya yang terbaik bagi mahluknya…
kini saatnya mahluknya menyadari itu semua…
Author Archives: Nyenius
27 Februari 2005
Mengapa harus kubagi hari-hari kedalam kotak-kotak warna? Bagaimana kalau dipukul rata saja: besok hari yang menyebalkan, maka tertawalah, sambut sepenuh hati, seakan itu hari bertamasya. Kotak transparan itu buang saja, karena ia bisa menyekat kebahagiaanmu persis ransum perang yang terbatas.
Kuduga, Dunia sedang Kiamat
Fajar membela gelap pekat
Ketukan perut Bumi terdengar sampai ke darat
Aku termenung pucat
Mereka tertenun bak mayat
Kuduga, Dunia sedang kiamat
Karena air mengamuk dahsyat
Mentari yang slalu murung
Awan kelabu yang pura-pura hebat
Bendungan yang sudah tak terbendung
Hutan rimba pun sudah tak kuat
Kuduga, Dunia sedang kiamat
Karena tubuh dedaunan itu sudah tak kuat
Sekarang Dunia hendak ke Barat
Buta atas tipuan-tipuan yang memikat
Pada Zionis itu kita berkiblat
Karena perut pun, lapar amat sangat
Kuduga, Dunia sedang kiamat
Karena eksis nya si Barat
Ayunan nafsu pun menjadi shahih
Lantunan qalbu pun dianggap lampu merah
Ukiran amar ma’ruf pun sudah tertatih
Dunia sudah tak mengenal shahih
Karna Ad-Din pun dilukis berdarah
Kuduga, Dunia sedang kiamat
Karena dosa kita yang kian berlipat
MaMaT
05:10
28/02/05
Sahabat-ku
Cemara, ceritakan daku tentang sahabat sejati
Apalah arti bagi makhluk yang tak belulang
Khianat, ingkar, bagi batu yang keras
Itu bagimu, bukan bagiku
Ku cari gerimis dengan kesakitan
Tidak kan rapuh seperti kerupuk
Itu lah dia yang bersinar bagaikan bulan
Yang sabar bagaikan kura-kura di tepi pantai
MaMaT
2002
Hari esok, esok, esoknya lagi
Pagi yakin kujelang
Mata terbuka kulihat secarik sinar mentari
Kesegaran pu masuk kamar kost-an ku
Kesegaran inilah ku pergunakan…
Untuk berfikir positif,
Berfikir cerah,
Berfikir kedepan,
Berfikir esok, esok, esoknya lagi
Banyak yang harus kulakukan hari ini
Banyak yang harus kutuntaskan
Hari ini harus jadi milik-ku
Hari ini harus ku kuasai
Apakah esok adalah hari?
Bagaimana esok adalah “kematian”?
Sudah cukup kah “amal”?
Yang pasti, hari esok adalah kematian
Yang penting, hari esok harus lebih baik dari hari ini
Hari esok tidak identik dengan 24 jam kedepan
Atau 360 hari kedepan
Mungkin kah hari esok, mentari muncul dari barat
Hari ini harus ku kuasai
Dan aku tak takut lagi
Menghadapi hari esok, esok, dan esoknya lagi
MaMaT
09/09/02
Berfikir – bertindak
Sudahkah kau ingat pencipta mu
Sudahkah kau bayangkan maut
Sudahkah kau doa kan ibu bapak mu
Sudahkah kau suruh tulis amal baik mu pada malaikat
Sudahkah kau pelihara hubungan sosial mu
Sudahkah kau hampiri masa depan mu
Jangan sia-sia kan hari-hari mu
Karena kau telah ada
Jauhi dunia butamu
Dan sambut dunia terang mu
Jangan lari dari kejaran fakta
Urus diri mu,
Karena hanya kamu yang dapat mengubahnya
MaMaT
22/12/03
Mawar
Ku ingin kau seperti mawar
Yang cepat beradaptasi
Yang duri nya bisa melarang
Yang berdosa untuk menyentuh nya
Yang harum nya,
Bisa mengharumkan Bangsa dan Agama
MaMaT
2002
Mencoba memaknai Cinta
Bagi ku, cinta adalah sepucuk bintang dilangit
Yang cukup kupandangi
Yang tak mungkin kugapai
Yang tak tega ku sentuh
Dan ku kan senang
Pabila dia alami senang
Dengan menampakkan tawa terang-menerang nya
Dan ku kan sedih
Pabila dia alami redup
Dengan menampakkan cahaya cair di matanya
Dan ku kan cukup senang
Ketika dia menikmati kesenangan ini
Birlah ku pandangi mu dari rawa yang berduri
Asal kan kamu senang dan terang-menerang
Kamu panutan ku
Biarlah ku jadi kamu
Dan mengerti kamu
Apakah aku boleh berbisik
Dan memberi masukan tuk mu
Bahwa kamu akan terlihat lebih terang
Pabila bergeser sedikit lebih ke arah pandangan ku
MaMaT
2002
Tujuan
Ada apa dengan tujuan
Dia bukan sesuatu yang acuh
Seperti angin yang mampir
Kemana tujuan arjuna?
Otak bukan batu yang beku
Pikirkan lah kemana tujuan arjuna
Dedaunan bisa sintesis
Kita bisa planning
Kapal-kapal bisa berlabuh
Pelatih bisa ber-strategi
Gempa bisa gemuruh
Kita bisa menyerang
MaMaT
29/07/02
Trotoar – Trowongan
Mentari hilang entah kemana
Diganti bulan
Dibantu lampu-lampu kota
Dua yang bernyawa berada di trotoar trowongan
Ku rasa yang di rasa oleh nya
Kedinginan, menggigil
Suara jangkrik bersiul
Binatang-binatang besar yang berisik
Ku pandangi terus
Kadang-kadang tampak mengabur
Dimata ku yang tersapu angin
Ku dekati dua yang bernyawa
Ku ajak ber kata-kata
Lapar sudah biasa
Kenyang luar biasa
Itulah lantunan yang terderai
Dari dua yang bernyawa penerus Bangsa.
MaMaT
09/09/02