Author Archives: Nyenius

Coooling dooownnnnn

Ok, enough with the anger. Hehehe, setelah pulang dulu pala rasanya lebih adem. Dan dengan pikiran yang lebih waras, gue bisa ngeliat ini bukan salah warnetnya. Soalnya ketika gue browsing cepet-cepet aja, dan juga ketika download cepet juga (bahkan gue baru sadar, dari 12 kompie, yang maen tinggal gue doang! pantes cepet), tapi ftp-nya masih aja loyo. Kata Pak Aves ftp lemot disebabkan peng-alamat-an www.nyenius.net ke servernya belum sempurna banget. Entahlah, tapi resiko ber-ftp di warnet ya begini, entah firewall ato apalah mungkin. B)

Btw, I welcome you all to my garden….. 😀 😉 😀 😆

Painfull Migration

It was such a PAIN-PAIN-PAIN-PAINFULL MIGRATION!!! I have…. :angry: :angry: Damn, pertama koneksi yang lemot, kemudian ftp yang berlaku manja setengah mampus (masa upload lewat cpanel lebih cepet dari ftp??? konyol). Terpaksa upload file-per-file, walaupun akhirnya gue gunain metode : zip file2nya kemudian upload, baru di ekstrak di server, fuhh lumayan ngabantu <_< dan terakhir, Ajax Call yang gue pake buat shout box mendadak ngadat begitu di aplikasiin di server. Padahal di localhost gue jalan2 aja. Sebenernya wajar sih kasus begini, pasti karena settingan server beda sama lokal gue, tapi dalam kondisi tertekan begini: bokap nyuruh ke toko (tapi ini blog harus beres besok mulai kuliah soalnya), kemudian speed koneksi yang kayak janda disuruh kawin lagi tapi malu-tapi-mau (ogah2an!!!), belum makan dari pagi (ini dah sore!), dan gue terjebak mengedit script secara online (which is, edit-upload-refresh-test, again and again), and (sh**t) untill now masih juga gak ketemu kenapa!!! FREAK...... God................. ...

18 Detik Menuju Matahari Terbit

Sepertinya benar, bagian malam yang tergelap adalah beberapa saat sebelum fajar menjelang. Tak hanya bagian yang paling gelap, tapi juga paling dingin dan paling sepi. Bertolak belakang dengan senja yang terasa hangat, yang menemani setiap manusia untuk pulang ke peristirahatannya. Bukankah itu berarti keadilan Tuhan. Maka, tak ayal, ada berjuta makna implisit dibalik beberapa jam sebelum fajar, dan beberapa jam setelah matahari tenggelam.

Suatu sore yang indah mungkin diwarnai derai canda tawa, yang nyata. Penghujung malam yang dingin mungkin berwarna gelap, segelap kenyataan pahit akan kehilangan. Di tengah itu semua terbentang beberapa jam yang ditulisi oleh kenangan. Yang, ketika coba ditulis dalam sebuah buku, entah tinta mana yang mampu menggores berjuta kenangan itu. Baik hitam, putih, emas, merah, canda, tawa, air mata, darah, dingin, kesal, kangen, rindu. Mungkin juga jenis-jenis perasaan yang kita tak pernah tau bentuknya. Perasaan yang muncul ketika, kita rela meminjamkan jaket kita, di tengah hujan, ditengah motor yang melaju agak cepat.

Ketika malam semakin dingin, dan tak ada kalori lagi yang tersisa untuk dibakar. Tanya pada dirimu, apa yang kau harapkan selain kehangatan matahari pagi? Ketika mata tak sanggup memejam, setelah sekian titik air mata yang keluar, tanya pada dirimu, bukankah cuma senyuman Ia yang kau harapkan.

Lalu, ketika matahari tak pernah muncul, dan senyuman itu tak pernah ada, apa yang kamu mau? Memaki Tuhan ato kembali menangis? Atau, berlari dari kenyataan, yang kau anggap itu lebih gentle?

ah sudahlah, kata hatimu tak pernah sinkron dengan isi otak kecilmu! Hasrat memilikimu tak pernah seimbang dengan besar rasa cinta tulusmu.
Kamu masih muda, tak pernah tau artinya memberi tanpa memiliki, yang selalu kamu banggakan itu. Kamu masih muda, tak tau bagaimana melihat mana keabadian yang jelas mana yang semu.

Malam yang paling gelap akan berubah menjadi fajar yang hangat, ketika kamu mampu memandang keseluran rangkaian malam yang ada. Dan dalam 18 detik menjelang matahari terbit ini, pikirkan, jangan pernah berharap apa-apa. Hadapi, dan jangan lari.

kamu masih muda …

Pertama!

Kemarin sore, matahari terasa terbenam lebih cepat. Dan beberapa hari ini, seakan-akan cuaca memaksa tiap manusia untuk tidak meninggalkan tempat teduhnya. Memang cuaca yang agak aneh ini terjadi sejak seminggu keberangkatan Putri Dyah Pitaloka ke Majapahit. Sudah sudah, jangan coba memikirkan yang tidak-tidak. Matahari tidak pernah bersekutu dengan bala tentara Syiwa untuk menurunkan murkanya ke dunia.

Seperti baru kemarin gadis kecil itu berjalan tertatih di pendopo. Merengek-rengek dihadapan sang Ratu. Menangis kecil. Melompat-lompat kegirangan. Kemudian berteman dengan malam yang menjaganya untuk senantiasa terlelap dalam mimpi indah. Ketika kecil Ia adalah cahaya mata sang Bunda. Kelak setelah dewasa Ia adalah permata Priangan yang tersohor hingga ke negeri seberang. Kini Tuan Putri harus pergi, atas nama persatuan Nusantara.

Bunda, Kenapa Hujan Tidak Turun Merata?
Dalam satu sore, di ujung pendopo, sang Putri bertanya kepada Sri Ratu,
“Bunda, kenapa hujan tidak turun merata?”
Agak samar memang aku mendengarnya, tapi suara manja gadis kecil itu seperti memiliki malaikat yang menyebar untuk mengetuk gendang telinga orang yang berada disekitarnya.
“Itu karena Tuhan adil nak, di satu sisi diberi berkah agar kita selalu mensyukuri dan tidak sombong. Di sisi lain tidak diberi agar kita selalu berusaha”, jawab sang Ibu.
“Kalau Tuhan memang adil, mustinya semua orang bisa bahagia?”, bantah Putri Dyah Pitaloka.
“Anakku, pohon semakin tinggi, semakin kencang anginnya. Lautan semakin dalam, semakin gelap dia. Semakin dekat dia dengan Tuhan maka semakin berat juga ujiannya”, lanjut Bunda
“…, maksud Bunda”,
“Nak, keadilan bukan pemerataan segala sesuatu …”
“eng …”, termenung, entah paham atau tidak apa yang diceritakan Sri Ratu.
“Kelak ketika kau dewasa, dan mendampingi penguasa Sunda Galuh ini, engkau akan mengerti.”

Cahaya Mata
Masih dari kejauhan, aku terus memandang tak berkedip. Saraf-sarafku tak mampu menerjemahkan gambaran yang diterima oleh retina mata ini. Pengaruh aura sang putri terasa lebih kuat. Dimensi yang jauh berbeda dengan dimensi yang umum diterima mata. Lama kemudian saraf-saraf itu mulai melemah, dan satu persatu mulai meneruskan sinyal-sinyal yang masuk ke dalam hati.

Sekiranya ada hal yang lebih hebat dari otak dalam urusan interpretasi dan optimasi sinyal-sinyal yang aneh, pasti hanya hati. Sayangnya, Ia terlalu dikuasai perasaan. Kadang optimasinya menjauh dari akal sehat, meskipun solusinya konvergen. Seperti untuk kejadian saat ini, kenapa sinyal itu ia terjemahkan sebagai kasih sayang.

Menggapai bintang, bukanlah hal yang sulit untuk mereka yang tinggal dalam gugusan langit. Tapi bagi kami para penduduk bumi, bintang hanya bisa kami pandang. Diabadikan di posisi paling dalam di jiwa. Ketika ia menatap kami, hati kami menjadi terang benderang. Apalagi ketika ia berbicara pada kami, detik-detik tutur suara yang tersampai seperti menggeser posisi matahari.

Kami yang duduk dalam tataran primordial langit dan bumi, yang terposisikan di bawah langit, berdiri dibawah payung keteduhan awan, hanya bisa memandang dan mengagumi sang putri. Namun, ketika malam sudah menggelap, dan para Ksatria Langit tak mampu lagi melindungimu sang putri.
“Kamilah yang pertama!”
Yang berangkat dari bumi yang paling dalam, telah terbentur oleh batuan yang paling keras, telah terkungkung oleh ruangan tanpa cahaya sedikitpun. Kami yang bertingkah dengan sedikit asap di jari kami, yang tidak mengenal teknologi perapih diri. Kamilah yang pertama! memapahmu ketika kamu tak mampu berjalan, berada di depanmu ketika anak panah bergerak tepat menuju kepalamu.
Kami yang pertama mencium kesedihanmu, menghisapnya untuk segera pergi dari senyumanmu.

Sayang, sebelumnya, kami harus mengalahkan Ksatria Gugusan Langit!!!

Palagan Bubat
Langit berkata, “Tuan Putri jangan pergi”.
Aku masih terdiam duduk, tanpa bisa apa-apa.

Teka ratu Sunda maring Majapahit, sang ratu Maharaja tan pangaturakan putri. Wong Sunda kudu awaramena tingkahing jurungen. Sira Patihing Majapahit tan payun yen wiwahanen reh sira rajaputri makaturatura.

Ingin aku pergi ke Tegal Bubat, berada disisimu, menjadi orang yang terakhir berdiri.

Pagi, Hujan, dan Senja

Dan matahari pun belum muncul, ketika hujan sudah memberikan perlawanan di awal hari ini. Cuma satu hal yang bisa dipaksakan dalam kondisi seperti ini, pergi kembali ke tempat tidur, melanjutkan mimpi tentang dirimu tadi malam. Tuhan memang adil, ketika kita hampir sampai di klimaks mimpi kita, maka sampai pula jarum pendek itu ke angka 5. Puncak mimpi itu diikuti oleh dering alarm. Menggangu? Bagiku tidak. Karena malam nanti akan kutemui kamu lagi dalam mimpi indah yang sama, tentunya dengan cerita yang beda. Karena cuma dalam mimpi, manusia dapat berpikir bebas. Imajinasi diriku dan dirimu dalam mimpi itu seperti derasnya hujan pagi ini yang memaksa semangat para pekerja untuk tetap berada di tempat tidurnya. Ia tidak mengenal perlawanan.

Shall I compare thee to a summer’s day?
Thou art more lovely and more temperate:
Rough winds do shake the darling buds of May,
And summer’s lease hath all too short a date:

Tidak. Dia tidak bisa dibandingkan dengan kehangatan musim panas. Dimensi kehangatan tatapan matanya lebih agung ketimbang dimensi fisis kehangatan matahari. Tatapan yang kemudian menjadi alasan, kenapa seorang bayi tidak pernah menyerah saat terjatuh pada waktu pertama kali belajar berjalan. Lalu dia menjadi alasan bagi seorang Ayah untuk meninggalkan anak istrinya di pagi hari, menuju kenyataan pahit kehidupan yang penuh ketidakjujuran.

Kembali kutemui Ia, di penghujung hari, saat pertemuan matahari dan bulan. Sedikit cahaya kemerahan menjadi latar warna pada detik itu. Hujan masih meninggalkan bekas di dedaunan. Titik-titik sisa hujan itu bertemu dengan ujung jarinya. Sambil berjalan perlahan, Ia pergi menjauh, menuju titik perspektif senja.

“Even if I’m invited by the brilliant wind
I’ll still keep following after you in my dreams
And even now, the sky in its downpouring blue
I look up and it wraps me up”

Akhirnya malam telah datang, rangkaian hari ini telah selesai. Detail bayanganmu di sepotong senja, lengkap dengan lembayung dan desau angin, telah terekam dalam tiap neuron otakku. Maaf, jangan pernah kamu minta itu untuk dihapus. Maaf sekali lagi, jangan pernah Anda mencoba mencurinya. Ia, hanya menjadi milikku, meski dalam imajinasi fiktif.

Dan malam kembali menguasai dunia.
Aku kembali terlelap dalam mimpi-mimpi.

“dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut
rahasia demi rahasia, yang tak putusputusnya
bernyanyi bagi kehidupanku

Aku mencintaimu, itu sebabnya aku tak akan pernah
Selesai mendoakan keselamatanmu.”

Di batas pergantian hari!

– kuucapkan salam dan doa –

semoga setiap kebajikan dan anugerah kemuliaan seorang Ibu tercurahkan selalu kepadamu!

semoga setiap tetes tangisan para Syuhada, menjadi embun yang menghapus kemalasan di wajahmu

semoga setiap jerit tangisan bayi yang baru lahir, menjadi tameng atas tiap tendensi untuk menyerah

aku berdiri di belakangmu, menjagamu agar tak pernah menengok ke masa lalu yang pahit

aku berdiri di depanmu, menunjukkan jalan agar kamu tak pernah pergi jalan yang salah lagi

aku berdiri di tengah dan tepat berada dalam tiap langkah yang kamu ambil, agar kamu tahu,
realita dan alasan hidupku adalah kamu

www.nyenius.COM (???)

F***k betul! Rupanya ada yang beli domain www.nyenius.net semenjak bulan januari kemaren, dan sekarang lagi di lelang di internet!!! :angry: :angry: :angry: :angry: :angry:

Makah, terpaksah, sayah mengambilh domainh denganh nama: www.Nyenius.COM. Gue kurang begitu suka dengan (dot)Com-nya <_< hufff, tapi gimana lagi, begitulah keadaannya. Daripada gue harus beli domain nyenius.net seharga 100 dollar (iya ga pak Avesena??). Btw, saya suka dengan pelayanan hosting dari Pak Avesena :rolleyes: keep up the good work pak. Tema Cpanelnya keren....

www.Nyenius.Net

Akhirnya, mungkin gak lama lagi gue bakal punya hosting sendiri lagi 😀 which is, berarti domain nya www.nyenius.net. Dan mo tau ngehost nya dimana? Sama Pak Avesena!! 😆 Dia jualan hosting sekarang. Dan ini juga tak lepas dari kebaikan dan rasa sayang kekasih hati saya di Semarang sana 😉 Thanks hon.

Yoooooooooooooooooooooo nyenius.net ada lagiiiiii 😀

Akuarium Laut (2)

Hehehehehe… akhirnya hari ini mulai ada kejelasan yang lebih pasti tentang bagaimana setup/instalasi akuarium laut. Kemaren malem gue search di www.o-fish.com bagaimana setup akuarium laut, hasilnya lumayan malah bikin gue bingung. Tapi emang begitu sih, kalo hobiis yang ngasih tutorial, dia pasti ngasih nya yang perfect, kadang buat pemula malah jadi keliatan ngejelimet. Nah tadi gue ke toko akuarium laut di Pamulang, niatnya mo nanya2 dulu, dan ternyata orang2 nya welcome banget, disitu bukan cuma sekedar toko ikan laut (yang kalo diliat dari kelengkapannnya mah kurang) tapi juga tempat ngumpulnya hobiis akuarium laut.

Begitu gue bilang mao ngebangun akuarium laut dan lagi nyari info dulu, mereka langsung ngasih info yang ringkas dan jelas, semua yang tadinya abu-abu jadi mulai berwarna :rolleyes:

Perbedaan mendasar setup akuarium laut dengan tawar adalah…. duh, besok aja gue sambung lagi. 😛

Aquarium Laut

Huah, akhirnya babe gue setuju akuariumnya yang di toko gue bawa pulang. Jadi begini, dulu bokap punya akuarium banyak, di toko ada dua ato tiga, di rumah satu. Biasa, dulu lagi hype banget soal Lou Han, nah makin kesini entah dia makin bosen ato alesan relasi bisnis dan keluarga tuh ikan pada dibagiin, bahkan sama akuariumnya. Singkat cerita akuarium tinggal 2 biji, di toko satu, di rumah satu, daaaan yang dirumah pun (yang berisi ikan arwana berusia 4 tahun), kemaren dijual ke uwak gue seharga 500 rebu (akuarium, ikan, mejanya), niatnya sih ga mo dikasihin, tapi uwak gue maksa beli. Nah tinggal satu yang di toko, hehehehehe gue dah ngebet dari lama pengen miara akuarium laut, dan gue dah ngincer tuh akuarium sisa B) .

Tapi rada susah, abis dia gak percaya tuh akuarium bakal gue urus, soalnya pengalaman kemaren pas gue miara kura di rumah, gue rada males bersihin akuarium nya 😛 . Apalagi begitu gue bilang mo isi aer laut, blah, makin ogah dia ngasihnya. Yang kebayang ma die gimana nanti ganti aernya, akuarium aer tawar aja gue males gantinya, apalagi laut. Padahal sebenernya soal aer, akuarium laut (menurut gue) lebih gampang ngurusnya, ga perlu sering ganti aer (mungkin 6 bulan sekali, itu pun mungkin), kita cuma perlu nambahin aer pake aer biasa, kalo aernya dah mulai nyusut. Dan soal kebersihan dalemnya FYI, ‘ikan sapu-sapu’-nya laut lebih bersih dalam hal ngebersihin lumut, ketimbang sapu-sapu empang, gue dah liat sendiri hal ini di akuarium nya Bayu (temen share per-ikanan gue di bandung). Kasusnya, hari ini semua karang yang ada di akuarium lautnya bayu cokelat semua, pas udah ditarohin tuh ikan, besokanya karang nya dah putih lagi. Inilah ikan sapu-sapu yang kagak makan gaji buta 😆

Sekarang bokap dah ok, tinggal besok gue jemput tuh akuarium beserta mejanya di toko. Tapi harus ngebersihin dulu kerak2 yang nempel di kacanya (pake cutter ato silet). Kemudian beli :

  • under gravel filter. 20.000
  • serabut filternya. 5.000
  • dinamo filter. Rp 60.000
  • keni2 (sambungan pipa) besert pipa-pipanya. 30.000
  • karang hidup (lupa namanya), karang mati. 40.000
  • aer lautnya. 20.000
  • Lampu uv. 25.000 (kalo sama dudukannya berarti 40.000)
  • ikannya (pasti lah) 50.000 (and growing)

Ya itulah estimasi peralatan dan biaya dari apa yang gue inget dari 2 tahun yang lalu 😛 sekarang lagi pelajarin lagi kejelasannya gimana di www.o-fish.com. Kalo dah jadi, nanti gue posting foto dan mungkin sedikit artikel buat yang mao bikin juga 😉