Mungkin agak terlambat untuk berbicara fenomena sosial yang terjadi ditengah bulan suci Ramadhan saat ini, tapi ya daripada nggak. Di minggu-minggu awal puasa, gue tidak seperti biasa salat zuhur tepat pada waktu nya di masjid kampus, ramai sekali saya lihat. Gue wudhu, dan naik ke tingkat 2 masjid, subhanallah ruame, ditiap sudut banyak orang yang baca qur’an, entah itu mahasiswa atau dosen atau karyawan. Ada juga orang-orang yang cuma tidur-tiduran atau kumpul sambil ngobrol, ada juga yang lagi asyik maenin laptop. Perhatian gue lebih tertarik kepada orang-orang yang ngaji (baik pake qur’an kecil atopun hp). Sempat tersirat pikiran kurang baek dikepala gue, “selaen bulan puasa ‘pada kemana’ lo?.” Tapi gue buru-buru meralat pikiran tersebut karena jelas amalan mereka pada siang itu lebih bermanfaat bagi ibadah puasa ketimbang gue yang lebih memilih nongkrong di fakultas bareng temen-temen, sambil kadang ngomong dan ngeliat yang nggak-nggak.
Dari sana, pikiran saya memburai lebih jauh. Alangkah eloknya komposisi kehidupan yang dibeikan Tuhan yang Maha Agung bagi umat muslim. Kerja-istirahat-kerja-istirahat-begitu seterusnya. Pada setiap bilangan waktu, Tuhan memberikan waktu-waktu istirahat, yang sedianya menjadi oase bagi jiwa dan raga untuk kembali menyeruput energi kehidupan, mengisi kembali kekosongan-kekosongan batin, dan me-reset kadar kejenuhan tubuh. Istirahat yang gue maksud disini adalah ibadah, restore point bagi manusia.
Dalam Sehari
Coba kita lihat, dalam satu hari, Tuhan memberikan titik-titik istirahat dalam lima waktu shalat. Dikatakan oleh Nabi yang mulia bahwa “shalat itu adalah tiang agama”. Agama menggiring manusia ke jalan Tuhan, berisi ajaran-ajaran dan tuntunan dari Pencipta Segala bagi manusia dalam menghadapi kehidupan. Sesuai dengan sabda Nabi tadi, berarti dalam sehari manusia diberikan lima titik untuk menguatkan bangunan agamanya, dalam kata lain; kehidupannya.
Dalam Seminggu
Dalam seminggu diberikan sayyidul ayyaam, penghulu dari hari-hari, yaitu hari jum’at. Ummat muslim terutama para kepala keluarga diberikan slot ibadah khusus yang diadakan didalamnya ceramah yang menjadi siraman penyegar jiwa setelah 6 hari diterpa masalah-masalah. Tuhan tahu bahwa manusia itu pelupa, kalo sudah menuruti ragawinya, rohaninya sering lupa diberi makan.
Dalam Setahun
Dan dalam setahun, kaum mukmin diberikan anugerah restore point yang rentang waktunya panjang, satu bulan penuh, dan perhitungan segala amal didalam bulan itu mutlak berada di tangan Nya. Kita diberikan kesempatan untuk ‘cuci gudang’ semua dosa-dosa sambil melipatgandakan catatan baik di buku rapornya. Anugerah itu pun masih ditambah lagi dengan latihan, tirakat, melawan musuh berat sepanjang masa; diri kita sendiri. Kaum mukmin seolah dimasukkan ke kawah candradimuka, dengan tujuan, selepas dari sana kualitas diri kita menjadi semakin ciamik dan yahud (tanpa ‘i’), dunia akherat. Dan ini terjadi pada setiap tahun sepanjang usia hidup efektif seseorang (efektif disini maksudnya sesudah akil baligh), kita diberikan kesempatan meng-upgrade kualitas pribadi kita dari tahun ke tahun, mengiringi pendewasaan diri kita.
Tuhan mengetahui dan sangat mengetahui hakikat dan sifat-sifat dasar manusia, dan sistem dalam Islam yang Dia turunkan terlihat dirancang sedemikian rupa untuk membantu manusia meraih potensi tertingginya, baik dalam urusan duniawi maupun akhirat. Dan ya Tuhan, ternyata pada Ramadhan ini, masih bobrok juga bangunan diri hamba…
Dapet Pe eR dari
Kepercayaan adalah sesuatu yang terbina, bukan sesuatu yang dapat dipaksakan. Tidak bisa hanya karena kita berada dalam satu lingkaran yang sama, lantas kita ‘harus’ percaya satu sama lain. Kepercayaan timbul dari komitmen yang terus-menrus, dibuktikan oleh waktu dan tindakan.
Sekarang mari kita bertanya sedikit, demi membuka kunci-kunci jawaban dari pertanyaan-pertanyaan diatas. Kenapa para mitra bisnis harus meraih kepercayaan mitranya, apa yang mereka cari? Jawabannya tentu untuk mendapatkan apa yang diinginkan; keuntungan bagi kedua pihak. Hubungan baik yang menghasilkan kondisi saling menguntungkan dan menghindari kerugian. Penjual berusaha meraih kepercayaan pembelinya, agar si pembeli
Pada umumnya, tidur siang hari pas bulan Ramadhan kerasa enak, apalagi di tempat adem, apalagi di kasur empuk, apalagi kerjaan udah beres, ditambah gak ada yang gangguin bangun-bangunin dan segala macem lainnya. Tapi apa yang gue alamin kemaren gak begitu. Jadi malemnya gue begadang, tidur abis subuh daaaaaan bangun jam satu sore. Enak bukan?? hihihi enak aja, boro-boro enak, lah seharian gue tidur itu isinya MIMPI MAKAN-MAKAN!!!! Brengsek bener dah. Udah gitu, pas bangun, kleyap-kleyep setengah sadar (kadang tidur kadang bangun) gue mimpi makan mie goreng sepiring gede. Huaaahhh, alhasil gue bangun dalam keadaan lapar dan haus yang bener-bener terasa.
Gue lagi asik baca komik Vagabond, boleh donlod dari internet (thanks to 