Author Archives: Nyenius

Playing God; Akuarium Laut

Kemarin gw sempet bercerita kepada seorang teman tentang kompleksitas sistem akuarium laut. Tentang bagaimana kami para hobiis berusaha mati-matian membuat tiruan ekosistem laut dalam kotak kaca. Komentar beliau singkat aja, sambil nyengir dia bilang “hehe ‘playing God yah”.

Do I feel ofended by hearing that? Fortunately not. Karena menurut gw lumrah kalau manusia (sadar atau tidak) selalu ‘berusaha menjadi Tuhan’, karena Dia sendiri yang mewarisi sifat-sifat ilahiahNya kepada manusia. Tentu dalam porsi yang luar biasa kecil 😉

Proses Belajar Menulis Blog yang Singkat dan Padat

Proses belajar menulis blog yang singkat dan padat terus berlanjut. Beberapa step yang akan gw tempuh adalah sebagai berikut:

1. Memposting tulisan setiap hari.
2. (Jujur waktu nulis point kedua gw ketiduran, dan sekarang dah lupa apa itu poin kedua).
3. Menulis postingan pake Blackberry. Which hopefuly with the uncomfortability writing long text+thinking via small keypad will force me to write short.

Sekilo, eh sekian :p

Belajar Menulis Singkat

Saya mengajukan sebuah draft tulisan kepada seorang kawan. Entah betul sudah dibaca atau belum, sedetik kemudian dia bilang ‘it’s fucking too long’.

Dia menyarankan saya mengiktui jejak blogger yang menulis dengan singkat dan padat. Saya pinta url-nya, dan ya memang singkat dan padat.

So, I’ll give it a try 🙂

Testing write down from my device

As I nongkrong in my toilet, my mind is wandering to far away places. Thinking for today’s agenda, the fact that I haven’t sleep tonight, the new work in my workshop starting today. Etc. And I think that I’m a king, God never sleep…. And I think I need sleep….. ****ooh it’s done :p

Saya Adalah Teater

Maaf saya tidak mengerti cita rasa seni anda, sucks!

Semakin jauh saya dari panggung teater secara fisik, semakin asing melihat mereka yang bergelut didalamnya. Masih terngiang ditelinga, pengalaman latihan teater ketika SMP “Total! Total! Ayo keluarkan totalitasnya!” Dan saat ini saya pun berkata, tidak ada totalitas yang sia-sia. Masih terngiang ketika workshop teater –juga dulu waktu smp- betapa saya yang notabene baru kali itu menjejakkan kaki di panggung harus di maki-maki didepan umum, disuruh turun panggung dengan teriakan “Tidak ada tempat buat plagiator di panggung teater!”. Hanya karena secara tak sengaja saya membawakan sebuah peran dengan cara hampir mirip dengan performer sebelumnya. Dan sekarang saya berkesimpulan, ide yang terlintas pertama hampir pasti sudah ada orang lain yang memikirkannya.

Masih teringat, sebalnya saya ketika inisiasi pertama teater SMA, yang para senior masuk ruang dan langsung berselisih yang saya langsung tahu maksudnya ingin mempertontonkan apa itu akting. Saya muak tapi diam saja. Belakangan mafhum juga, begitu tahu mereka tak punya pembimbing. Masih teringat ketika inisiasi pertama saya menjadi ketua teater di sma, dimana saya harus memimpin latihan sambil ditonton para senior, saya bariskan teman-teman dan mulai memimpin latihan. Ditengah latihan : “Yang gak serius gue lempar sendal!” Sejak itu anggota teater pun menyusut. Dan saat ini saya pun berkesimpulan, kelewat serius bisa bener-bener kelewatan.

Masuk kuliah jurusan teater, pelatih saya berpesan: “Pokoknya lo perhatiin aja, biasanya yang rambutnya gondrong otaknya kosong, menang gaya doang” Saya pun menjadi antitesa orang kebanyakan di kampus. Pakai celana bahan, dan seringkali pakai kemeja rapih. Saya diskusi dengan beberapa kawan karib, tentang falsafah teater, maksud dasar dibalik berteater. Masih ingat betul kesimpulan kami saat itu; memanusiakan manusia, membawa manusia ke ujung potensinya. Dan saya berpikir, terus berpikir, setelah mendapatkan latihan ‘menjadi manusia’ di dunia teater, lantas kemana kita mempraktikannya? Terus menerus diatas panggung? Karena saya merasa teori-teori, teknik-teknik dalam teater terlalu mubazir untuk melulu dituangkan diatas panggung. Saya pikir itu bisa diaplikasikan dalam bentuk yang lebih luas dari sekedar naskah dan panggung. Dalam kehidupan nyata, dalam bertetangga, bergaul, dalam usaha memberi kebaikan nyata bagi orang banyak. Bukan hanya cerita yang dimengerti segelintir orang. Sepertinya saat itu saya mulai jatuh cinta pada ‘prosa’ ketimbang dalamnya kata-kata puisi. Efeknya lebih luas, lebih bisa mengena dalam pencernaan orang banyak.

Teater absurd yang dulu dikagumi mulai kelihatan basi dalam pandangan saat itu (dan saat ini). Seni tertinggi adalah seni realis! Itu kesimpulan saya. Seni yang melenceng dari realitas yang masih saya kagumi adalah surealis. Dan memuncak pada pertanyaan kepada dosen penggelut surealis : “Sebetulnya kita hidup untuk seni, atau seni untuk hidup”. Seni untuk hidup disini tidak dalam arti “Seni sebagai mata penghidupan”, tetapi adalah seni sebagai sebuah pendorong manusia dalam mengolah hidupnya.

Kekeras kepalaan saya untuk bertahan di teater pun semakin luntur ketika ditambah tuntutan untuk pulang ke rumah dan menggeluti hal lain; desain interior. Setelah berdiskusi dengan seorang teman yang terpercaya, keputusan pun diambil, saya pulang, meninggalkan segalanya dibelakang. Dan semenjak itu, kaki ini jauh dari panggung, mata ini jauh dari pertunjukan, mulut ini jauh dari olah vokal, bercerai sudah dengan dunia itu. Terjun ke dunia prosa, dengan sesekali menggumam beberapa puisi. Saya bukan aktor, bukan sutradara, bukan penulis, bukan penyair, tapi prosais dan saudagar. Tapi saya tahu, totalitas yang dulu tidak akan bisu.

Dari Teman Sekelasmu

Aku menjadi gugup
Setiap melihatmu disana, bercanda, tertawa lepas
Terpaku terhantam keanggunanmu
Ingin yang tampaknya takkan bertemu harap

Dalam bayangan kupandangi
Wajahmu, gerakmu, senyummu
Indah, tak ada kata yang lain

Namun harap sekedar harap
Impian tentangmu terlalu muluk
Nilai diriku hampir tak ada
Gelap rasanya ujung jalan menujumu
Rasa ini tetap menyala
Untukmu.
Merajai hati seorang bocah SD.

Semakin Lama Jadi Makian

tak mungkin lain
lagu itu hanya untukmu
lagu tentang ruang yang kau kosongkan
dan mimpi yang kau kacaukan

tak bisa kubayangkan yang lain
hanya wajah dan namamu
juga langit pagi yang kita lihat waktu itu

lagu itu hanya untukmu
walaupun sejarahnya sudah berlumut seperti candi
tetap untukmu

aku menangis seperti pria bodoh
meratapi kehampaan mendadak
yang kau pukulkan ke dadaku
sebangun dari tidur sore
dalam amplop putih
berisi sebuah kaset
dan dua lembar surat

ngepet benar hariku jadinya
tak percaya, kubaca berulang-ulang
sampai ku eja kata per kata
paragraf demi paragraf
tiap hari tafsiranku terus berganti
rasanya seperti mendalami
kitab suci kaum terkutuk

sudah jauh sakit itu
sudah jauh pula senang itu
tapi tetap lagu itu beralamat padamu

kesucian yang kau ludahkan ke wajahku
menjerat dirimu sendiri
sebab atas dasar itulah
aku kau campakkan

puih!
bodohnya lagi kau tetap kukejar
dan semakin sadar
kau seperti monyet
bergantungan pada segala dahan
yang dapat menopangmu
dan cepat pergi pada dahan
yang lain

monyet!!

Waktu Itu, Di Atas Sini

tersentuh jendela alumunium, dingin.
pada ketinggian ini
lampu-lampu menggantikan bintang
membentuk wajahmu

“mari pindahkan sofanya
sehingga kita bisa memandangi
kota dalam pelukan”

katamu, sukamu.
aku berdiri canggung
di depan jendela ini.
masih terasa guratan di lantai
bekas sofa itu bergeser
aku merasakan bahumu yang mengangkatnya
aku lihat candamu

ah
nafasku merutuk
sadar bahwa sekarang dada yang berdegup
hanya sendiri
hanya aku bersama kenangan di ruang ini

rasanya jiwaku tinggal bayangan
ketika kau tak bisa melihatku
ketika kau memandangku kosong
aku menjadi asap, menjadi kapas tanpa harga

kau, kau, dan lagi-lagi kau
kenapa kita mesti bertemu
kenapa mesti kau sulut cintaku
dan membiarkannya menyala sendirian

kuketuk dahiku pada kaca
masih terasa nafasmu dileherku
menyebut namaku dan mengatakan rindu
betapa luruhnya jiwaku, bergolak haruku
dan kubenamkan segalanya padamu

satu titik air mata
membasahi pahaku
kusebut namamu, kusebut namamu,
seperti zikir yang mengantarku ke neraka

panggil aku
dan saat itu juga aku berlari menujumu
berikan senyummu
aku akan menyerah padamu
rajaku,
lelakiku,
permata kegelapanku.
tinggal kenang ini yang kau sisakan
tinggal sesak ini yang kau kecupkan

aku menangis, dan berbisik pelan;
bajingan…