When one door closes another door opens; but we so often look so long and so regretfully upon the closed door, that we do not see the ones which open for us.
Alexander Graham Bell
When one door closes another door opens; but we so often look so long and so regretfully upon the closed door, that we do not see the ones which open for us.
Alexander Graham Bell
When everybody just can’t understand your vision, just prove it by yourself.
Ketika rasa percaya diri terus dihantam dengan penolakan dan penyalahan, mungkinkah itu yang disebut pembunuhan karakter?
Di satu sisi, wawasan berkembang luas. Di sisi lain jiwa tergerus mengerdil.
Di atas plafon kamar saya, hidup dengan sentosa sekawanan lebah madu. Yang setiap pagi senantiasa muncul ke dalam kamar melalui celah lampu downlight kamar. Entah karena terganggu oleh terik lampu TL, entah mereka tersesat oleh berkas cahayanya.
Dan di pagi itu, hari Minggu, ketika saya berjalan ke dapur. Rasa nyeri mendadak menjalar dari ujung telapak kaki kanan saya. Seekor lebah yang tergeletak di lantai dapur, tanpa sengaja terinjak oleh saya.
Sehari, dua hari, kaki yang terantup lebah tersebut semakin membengkak dan terasa nyeri saat berjalan. Ketika saya duduk, mengelus-elus kaki yang bengkak, terasa bagian itu lebih hangat dari yang lain. Saya sentuh dengan telapak dan bahu tangan. Timbul rasa sayang yang spesifik terhadap bagian tubuh yang sehari-hari hanya digunakan, tanpa pernah terlalu peduli dengannya.
Saya bertanya sendu; “Are your sick, my dear foot? Are you tired?“
Captain’s Log: Pagi ini ngisi super tank oil container sebanyak 5cc/ml. Kurang tau juga apa betul sebanyak itu, soalnya sebagian tumpah. Masih belum ngerti best practice untuk ngisinya gimana. Well, let see seberapa lama tahannya.
Btw, gak sengaja nemuin perbedaan antara sumbu Zippo yang ori dan palsu.
Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid.
Andai kau gigih
mempertahankan hijau cemara rasa
atasku
mungkin tidak begini
jalannya novel kita
satu-dua kecup harusnya bertukar
tutur canda dan tangis amarah
mungkin saling berserah
andai aku sedikit bersabar
menapaki langkah-langkah
menujumu
mungkin penyesalan menjadi tawa
dan namamu tidak hanya terbayang
bila saja
kita bertahan disitu
pada titik stagnan tanpa arah
tidak begini,
tentu tidak begini.
Saya penjual Zippo online di forum kaktus dan pemilik TokoZippo. Zippo yang saya jual langsung didatangkan dari U.S. And that’s where the problem begins. Saat itulah ketika saya bertemu wajah dengan bea cukai dan kantor pos Indonesia.
Ketika saya diakali oleh calo cukai yang mengaku sebagai petugas resmi, saya senewen dan takut. Saya ditawari untuk tidak usah membayar cukai yang dikenakan atas paket saya, alih-alih membayar ke kantor cukai, saya diminta membayar ke calo itu. Yang pada akhirnya, saya tahu bahwa itu 1000% bullshit. Bahwa sesungguhnya pajak paketnya di markup terlebih dulu, sehingga hadir ke saya sudah dua kali lipatnya. Sebetulnya pajak saya tetap dibayarkan, dan bonusnya kena palak calo.
Takut, karena saya paling benci peristiwa uang haram dalam proses bisnis. Karena saya sudah punya anak dan sangat memikirkan bagaimana kalau uang itu menjadi daging anak saya. Saya benci membayar lebih orang yang memang sudah dibayar untuk melakukan tugasnya.
Dan saya shalat istikharah, apakah harus lanjut menjalankan jual Zippo, atau berhenti seketika. Kondisi saat itu benar-benar membingungkan dan pikiran saya tersita pada plihan itu. Mungkn karenanya Tuhan cepat memberikan jawaban.
Subuh itu ketika saya tidur, saya memimpikan diri saya turun dari eskalator dengan tangan terbentang membawa dua buah Zippo di kanan dan kiri. Saya terbangun dan terkesiap. Apa artinya?
Sebetulnya saya tidak siap jika artinya adalah “teruskan jualan Zippo”. Karena saat itu saya tidak tahu bagaimana menangani proses tidak mengenakkan di cukai. Tapi saya sudah bertanya, dan jawaban sepertinya sudah ada. Kalau dipkir secara netral sat itu, saya anggap jawabannya seperti yang saya tidak mau; lanjutkan.
Ok, kalau jawabannya lanjutkan, saya kembali bertanya-tanya; lanjutkan dengan proses busuk ini, atau bagaimana? Dua hari setelah istikharah pertama, saya istikharah lagi. Kali ini pertanyaannya: gak apa-apa diterusin proses busuk ini, atau cari cara lain?
Kali kedua, saya tiak mendapatkan mimpi apa pun, tidur saya tenang, tanpa mimpi. Keesokan paginya, ketika saya menjaga toko furniture ayah saya, datang seorang pelanggan. Seperti yang lainnya, dia menanyakan harga lemari, kursi dan lain sebagainya, pada sesi tawar-menawar, saya ajak dia duduk, dan kami ngobrol panjang lebar.
Kesan pertama saya terhadap orang ini berbalik 100% setelah obrolan dimulai. Orang ini kulitnya gelap, memakai celana pendek, kaos, memiliki tato di lengan, dan menggunakan gelang kaki berwarna chrome. Saya pikir he’s just another man in the world. Apalagi ketika dia bilang bahwa dia adalah seorang pelaut, saya langsung tersenyum, mengingat dua obrolan saya dengan dua orang pelaut lain sebelumny (it’s full with men’s adventure i may say).
Lantas dia bicara agama, halal haram, menkelaskan tato dan gelang kakinya. Saya terperangah. Tidak sampai disitu, dan dia bicara tentang sperma! Dia bertanya apakah saya sudah menikah, saya jawab sudah. Dan kembali dia bertanya: “kamu tahu apa yang menyebabkan mundurnya umat Islam sekarang ini?” Saya menjawab dalam hati dengan suatu jawaban yang umum untuk pertanyaan klise itu, tapi yang terucap “apa tuh pak?”
“karena dari awalnya sudah salah”, saya tertegun, menanti kelanjutan kalimatnya.
“Karena kebanyakan, ketika Sedng bersenggama, dalam proses bikin anak, ketika sperma kita ngecrit ke dalam rahim istri kita lupa mengucap satu hal…”, saya bengong, gak nyangka dengan pemilihan kata orang itu.
“Kita lupa sekedar mengucap alhamdulillah…”
‘Sudah salah dari awalnya’, itu kalimat yang benar-benar tertancap dalam kepala saya. Saya tidak tahu kenapa tapi kata-kata itu betul-betul paling berkesan dalam obrolan itu. Saya tidak ingat akan istikharah, saya anggap dialog dengan orang itu adalah pencerahan yang tidak berhubungan dengan pertanyaan kedua saya.
Siangnya saya berangkat ke kampus, kuliah. Sorenya setelah selesai kelas, tidak biasanya seorang dosen ikut nongkrong bersama saya dan teman-teman. Kaeena yang lain sibuk main remi, dosen itu ngobrol panjang lebar dengan saya. Diulai dengan basa-basi, hingga akhirnya dia bercerita panjang lebar mengenai penyebab cacat pada mata kirinya, yang tidak bisa melihat.
Obrolan itu mnegalir sampai ada kalimat yang menendang ulu hati saya. Yaitu, “Dalam keadaan susah, setelah koma selama enam bulan, tidak tahu nasib pekerjaan saya, tidak bisa berbicara lancar, Bahkan beberapa memori di kepala hilang. Satu hal yang membuat saya tenang menghadapi semuanya. Karena sejak awal saya tidak pernah ingin berbuat jahat kepada orang lan, dan saya betul-betul menjalankan itu. Jadi saya yakin Tuhan akan membantu saya, mungkin melalui orang-orang disekitar saya….”
“Karena sejak awal….”, kalimat itu diucapkan ringan saja, tapi terasa seperti menendang ulu hati saya. Dan saya mulai bertanya-tanya tentang dua diskusi yang aneh hari ini, saya mulai ingat istikharah pertanyaan kedua saya: melanjutkan dengan cara salah, atau bertahan pada prosedur yang benar?
Saya pulang dengan kepala mengawang-awang. Mencoba mencari benang merah dari dua obrolan yang tidak biasa sensasinya pada hari ini. Sampai keesokan harinya, baru saya sadar bahwa benang merahnya ada pada: mulailah dengan benar. Ini jawaban pertanyaan kedua! Dan juga kebetulan jawaban yang sebetulnya tidak saya inginkan. Karena saya pikir itu akan sulit, dan saya tidak tahu harus bagaimana.
Tapi jawaban sudah keluar, sisanya terserah saya memilih yang mana. Tiap-tiap jalan punya konsekuensinya sendiri. Dengan bismillah, saya ikuti petunjuk jawaban tersebut…
Dan sampailah pada hari ini, ketika 100% dari 4 paket import saya hilang entah dimana, dengan nilai yang tidak sedikit juga. Setelah dua tahun melakoni jual-beli Zippo hasil import, rasanya muak menghadapi masalah yang sama, yang bahkan sepertinya semakin parah dari yang sebelumnya.
I don’t know, maybe i’m just tired….
**Ya saya adalah seorang bocah naif yang masih percaya bahwa bisnis harus dilakukan dengan bersih dan tanpa suap.