Berikut kutipan perkataan Joseph Stalin mengenai mortalitas; “Seseorang mati adalah tragedi, tapi kalau sejuta, itu statistik.” Ada rasa tidak suka tatkala membaca kutipan itu, terlebih mengingat yang berucap adalah pemimpin fasis yang memiliki reputasi tak sedap. Tapi entah kenapa ada sisi lain di diri saya yang membenarkan ungkapan tak simpatik tersebut. Betapa saat ini kematian massal -baik oleh sebab bencana maupun perang- sudah sangat umum.
Adalah mengerikan, betapa kita semakin terbiasa dengan berita kematian sekelompok orang dengan wajah dingin, untuk kemudian membalik koran atau mengganti channel tivi, untuk mencari sesuatu yang lebih menarik ketimbang berita tragis itu. “50 orang sipil mati dalam serangan bom bunuh diri di Irak”, “130 pekerja tambang terjebak di kedalaman 300 m”
50 orang sipil mati… Apakah itu statistik? Ya berat untuk tidak mengatakan bahwa itu sekedar statistik laporan kematian. Kecuali coba kita susuri satu persatu wajah para korban, walau kita belum pernah bertemu. Bagaimana keluarga mereka di rumah sedang dalam aktifitas sehari-hari, tak terbayang bahwa ibu mereka yang sedang pergi ke pasar tidak akan pernah pulang lagi dalam keadaan utuh dan hidup, tapi dalam serpihan. Apa yang dirasakan anaknya yang baru 5 tahun? Apa yang dirasakan suaminya yang sedang menabung untuk memperbaiki rumah mereka? Apa yang dirasakan si anak sulung, memandangi adik-adiknya dengan kesadaran bahwa ibunya telah ‘dihapus’ paksa oleh sebuah ledakan buta?
Ketika angka 50 disebutkan begitu saja, itu akan betul-betul menjadi angka statistik belaka. Tidak ada masalah manusia yang kehilangan nyawa, tidak ada problema keluarga yang kehilangan orang terkasih, tidak ada duka istri yang kehilangan suaminya, tidak ada tragedi. Dan entah kesalahan media yang menyiarkan, atau kekurangan analitis empatif kita sebagai manusia akan bahasa, sehingga kita semakin terbiasa akan informasi semacam itu. Mungkin karena bom itu tidak meledak di samping rumah kita (na’uzubillah) atau karena tidak ada relasi kita yang masuk ke dalam ‘data statistik’ korban bom tersebut? (na’uzubillah minzalik; kami berlindung kepada Allah dari hal (buruk) tersebut)
Jadi, kalau kita dapat membaca sebuah judul “50 orang sipil tewas …” dan merasa simpati, dan segera menelusur kedukaan puluhan manusia di belakang 50 orang yang mati tersebut, lantas kita harus apa? Sekedar simpati?
Saya pribadi yang saat ini tidak punya keahlian palang merah, tidak punya dana untuk membiayai proyek kemanusiaan, tidak mempunyai pengaruh politik dan ketokohan untuk meredam pihak bertikai, dan tidak punya cukup keberanian untuk terjun ke lapangan memberi bantuan tenaga. Hanya bisa berusaha untuk mencapai potensi terbaik saya, dan mengajak orang-orang di sekitar saya juga untuk meraih potensi terbaik mereka, sambil menjaga pikiran agar tetap ‘waras’, sambil menjejalkan ‘statistik kematian’ tersebut ke dalam kepala sebagai dendam positif.
Pada zaman mana pun, kebaikan selalu terlihat kuno, yang benar seringkali terlihat terbelakang, padahal kebaikan adalah thing of the future.
Saya ingin membentuk ring of goodwill. Sebuah investasi panjang untuk masa depan yang lebih baik.
—
Setelah menulis ini, saya jadi tertunduk, memandangi kepala yang masih ada di kaki, memperhatikan jemari kaki yang masih jeblok dengan kesalahan dan dosa…
“ring of goodwill”… Mantap!
Aves berkunjung untuk kedua kalinya,
dan mulai mempertanyakan,
kalo 1 itu tragedi, apakah 2 sudah bisa dibilang statistik?
jika iya, bagaimana dengan “poligami” dalam berkarya?
gak ngerti maksudnya gimana