11 Mei 2004

FEEDING A BLIND FISH
—————————————————————-
(terjemahan bebas dari bahasa puitis)

“Hei ikan-ikan, waktunya makan”

Makanan ditaburkan didepan wajah mereka – didepan mata mereka bahkan-, tapi satu ikan melengos begitu saja, mengigiti buih-buih air.

“Itu hanya buih tolol!”

Kutaburkan kembali makanan baru didepan matanya, dan lagi-lagi ikan tersebut hanya menyosor ruang hampa penuh buih. Setelah tiga kali mencoba, aku mulai putus asa, jatahnya habis oleh yang lain. Kesedihan datang saat itu juga. Bagaimana kaau dia benar-benar buta? Bagaimana kalau ia tak pernah bisa memakan umpannya lagi, dan lantas mati kelaparan? Harus dibiarkan menderita? Atau kubunuh saat ini juga, biar hilang deritanya sekaligus. Aku terus mencoba melemparkan umpan ke depan matanya, setiap kali ia gagal memakannya aku menangis, menangis menahan pedih dan bingung. Setelah berulang kali mencoba, dan ia masih tak mampu meraihnya juga, tangisku sampai puncaknya. Aku genggam dia, dalam tangis kupesankan.

“Kau harus makan sayang, atau kau akan mati…”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 + 2 =