Ada satu luka di sudut ini. Ia tampak tak tersembuhkan. Tak menyeringai-tak merengut. Ia menjadi titik hitam yang selalu menyengat bila diingat.Aku mulai mengenalinya, cuma snyum kuberi kalau ia tersentuh tanpa sengaja.
Ini luka mungkin kekanakan tapi begitu mendasarnya!
Satu bayangan yang agung dan besar tentang cinta telah patah dalam satu pukulan telak hari-hari. Satu langit biru yang luas runtuh seketika oleh kesadaran yang lahir dari satu ungkapan menyerah.
Aku akan selalu ingat, penghianatan-penghianatan rahasia, selalu menyimpan tikamannya untuk kita.
Waktu selalu menyeret-nyeret perubahan di punggungnya. Kukira hati yang tulus itu emas, bebas dari segala karat dan melampaui waktu itu sendiri. Tapi detik ini, yang tersaji bagi mataku adalah: Waktu menyeret segalanya pada perubahan.
Hati dan logika bertempur, dan hari ini, organ menjijikan dengan berjuta sel itu, menang.
Tulisan ini menjadi cermin-diri yang pecah dan melukai nadiku sendiri.