30 Maret 2004

Bu, aku melihat garis yang diluar segalanya, garis yang Tuhan bikin pada puncak tiap desakan-Nya. Aku diantara buta dan tidak jadinya. Tak peduli apa yang kuinjak atau yang menimpa, aku melaju berdasarkan navigasiku sendiri. Mata memerah seperti terhembus angin setan, tangan mengepal siap meninju segala tembok.

Badanku berdarah-darah, urat-urat ditangan seperti putus, tapi garis ini membawaku pada ruang dimana luka tak bertempat tinggal.

Garis ini adalah titik puncak amarah, emosi pada gigi yang mengerat, kata-kata yang mati, dan aku terus berlari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

26 + = 27