Menulis adalah kebiasaan, bukan keahlian. Semua orang memiliki setumpuk materi untuk dituliskan, tapi sedikit yang mau menuliskan. Tulisan tidak mesti selalu benar, dan kebenarannya baru diketahui setelah dituliskan. Menulis tidak harus panjang, yang terpenting adalah jujur. Lantas mengapa sulit untuk menulis?
Bicara soal menulis -terutama yang bergaya naratif- tak ayal saya selalu teringat omongan Pak Hernowo, guru bahasa Indonesia saya waktu kelas 2 SMA. Beliau juga seorang editor senior di penerbit Mizan (seingat saya). Saya teringat tentang metoda pengajarannya dan kata-kata pamungkasnya tentang menulis. Selama 1 tahun mengajar, praktis dia tidak mengajarkan banyak hal mengenai bahasa Indonesia dari segi kaidah-kaidah linguistiknya. Akan tetapi dia menggempur kami dengan tugas-tugas menulis berikut motivasi-motivasinya. Tugas kami adalah membuat buku harian. Bahkan pada saat ujian semester, beliau hanya menyuruh kami membuat tulisan mengenai aktifitas kami beberapa hari ke belakang. Dan kredo-nya yang sangat terngiang di kepala saya ialah: “Menulis itu seperti berak, makanannya adalah membaca. Jadi sebagaimana biasanya, setelah ‘makan’ kita harus berak, kita harus menulis.”
Ketika ditanya bagaimana cara menulis, beliau cuma menjawab singkat; “Tulis saja apa yang ada di kepala kalian.” Dan ada satu sesi belajar yang mana kita para murid disuruh menuliskan satu kata yang saat itu muncul di dalam kepala. Setelah ditulis, kita disuruh untuk mengembangkan satu kata tersebut ke dalam sebuah tulisan. Dan kebetulan cara ini suka saya pakai untuk menyusun kultum atau public speech lainnya.
Saya merasa kadang kesulitan dalam menulis itu sama seperti kesulitan dalam membaca buku. Pada paragraf awal, -bahkan di kalimat awal- kita sudah bingung kemana tulisan ini akan berlanjut. Sama seperti membaca, ketika kita bertemu satu atau dua paragraf yang tidak kita mengerti, jangan justru membaca paragraf itu berulang-ulang, tapi lanjutkan saja membaca, pada paragraf berikutnya niscaya kita akan menemukan jawaban dari paragraf yang membingungkan tadi.
Begitu pun menulis, ketika bingung kelanjutan dari paragraf awal, coba teruskan saya menulis, tuliskan apa yang tercetus di kepala. Bahkan kalau sudah langsung terbayang apa penutup tulisan tersebut, lompat saja, tuliskan dulu kalimat/paragraf penutup itu, atau lompat ke tengah, baru kita lanjutkan lagi dari tempat kita berhenti tadi. Di akhir kita bisa pindah-pindah urutannya, atau dihapus bila memang tak perlu.
Mind Mapping
Memang secara keilmuan menulis seharusnya kita membuat garis besar tulisan terlebih dulu. Tapi itu tidak selamanya efektif, dan tidak selamanya juga diperlukan. Dan menurut hemat saya pribadi, ada hal lain yang sudah menggeser proses penulisan garis besar, yaitu Mind-mapping. Ya esensinya memang sama, kita menuliskan ‘garis besar’ dari pemikiran kita tentang sesuatu, hanya dalam bentuk yang lebih menyegarkan.
Hal lain yang saya alami menghambat kegiatan menulis adalah; perfeksionis. Dari semenjak tulisan itu masih sekedar ide, kita sudah menuntut hal berlebih kepada diri sendiri, tulisan itu harus bagus, tulisan itu harus memiliki sumber yang jelas, tulisan itu harus bisa diterima orang lain, tulisan itu harus ini dan itu, begini dan begitu. Kita sudah membantai dia (ide) semenjak kemunculannya, kita telah melakukan aborsi pikiran.
Perfeksionis juga terkadang berbentuk seperti: kita tidak mau menghapus kalimat atau atau sebuah paragraf dalam tulisan, karena merasa sayang itu merupakan hasil pemikiran kita juga. Biasanya kalau sudah gini, tulisan bisa jadi batal ditulis atau berhenti di tengah. Untuk kasus ini, yang saya lakukan adalah, lakukan yang sebaliknya. Ketika merasa tulisan harus sempurna blablabla saya paksa saja menulis, ketika merasa sayang menghapus, saya hapus sekalian (selama terbukti memang tidak relevan dengan isi keseluruhan tulisan), ayau saya copy-paste menjadi tulisan baru.
Seperti Pak Hernowo bilang, menulis adalah proses ‘berak’ setelah membaca. Bagi yang suka membaca buku, tentu ada kesan atau bahkan inspirasi yang kita resapi setelah membaca buku itu (selesai atau baru setengah dibaca). Bahkan orang yang terinspirasi akan bisa sangat terlihat dari bahan pembicaraannya. Tapi pada saat itu seringkali kita bingung; apa yang mesti ditulis? Tampaknya banyak sekali yang bisa ditulis dari inspirasi yang ada di kepala. Segera tangkap satu topik, dan tuliskan.
Bagi yang tidak suka membaca buku, bukan berarti dia tidak bisa ‘berak’ dalam tulisan. Alam, lingkungan, masyarakat, interaksi dengan teman, pengalaman masa lalu, senantiasa terbuka untuk dibaca. Ketika melakukan segala aktifitas, mata kita menangkap kejadian dan momen yang berlangsung, kemudian diproses dan disimpan dalam pikiran. Jadi betapa banyak tema yang dapat kita tulis dari ‘bacaan’ sehari-hari kita. Terutama ketika pikiran sedang penuh dan jenuh, tuliskan. Pikiran anda butuh berak.
Dan jurus terakhir untuk dapat produktif menulis adalah, tangkap ide sesegera mungkin begitu dia muncul, dengan cara mencatat main idea-nya, intinya, judulnya, atau sepotong kalimat isi calon tulisannya. Catat dalam bentuk apapun, tulisan, gambar, foto, apapun yang dapat menjadi simbol pembuka memori kita terhadap ide yang muncul tersebut. Karena ide itu seperti kuda liar, bila tak segera diikat, dia akan segera pergi menghilang.
Bahkan tulisan yang ternyata jadi panjang ini pun awalnya hanya sebuah pikiran yang terlintas waktu sedang mengendarai motor. Saya berhenti sebentar, buka hp dan segera mencatatkan catch phrase nya. Gambar di bawah merupakan notes coretan yang saya tuliskan ketika pertama mendapat ide tulisan ini.
Berkembang cukup jauh bukan? Jadi, mari kita menulis 🙂
Tambahan mengenai penghalang dalam menulis:
Ada hal lain yang dapat menghalangi kita untuk menulis, walau kita sudah memiliki setumpuk tema yang siap untuk ditulis. Yaitu rasa inferior, rasa rendah diri. Seringkali ketika akan menuliskan sesuatu ada pertanyaan usil yang muncul di kepala; “Siapa kamu berani-berani nulis tentang itu? Apa kompetensimu untuk menuliskan hal itu?” Hal ini saya anggap merupakan kerikil yang sangat mengganggu pembiasaan kegiatan menulis. Tuliskan saja dulu, ingat asumsi pertama kita “menulis tidak mesti selalu benar, kebenarannya baru diketahui setelah dituliskan.” Dan jangan pedulikan ‘pandangan orang lain’ yang sebetulnya itu hanyalah ‘orang-orang’ hayalan belaka, yang diciptakan oleh rasa takut dan rasa inferior dalam pikiran kita. Tuliskan saja dulu, uraikan semua isi kepala Anda, mulai dari sisi ekonomi, ketuhanan, moralitas, hukum, ilmu pengetahuan, hobi, politik, kenegaraan, apapun itu, tuliskan saja dulu. Sehingga isi kepala yang gaib itu bisa menjadi peta yang dapat kita baca, untuk mengenali diri kita, dan mengembangkan potensi pribadi ke langkah berikutnya.
