“Mesti ngomong pake bahasa apalagi? Bahasa monyet apa?!” – twiTter seorang teman –
“Udah gw coba pendekatan persuasif, gw dah berusaha memahami kondisi dia dengan menanyakan apa yang lagi dia alamin, ke yang bersangkutan dan ke orang-orang sekitarnya, udah gw coba tegur dari becanda sampe keras, tapi tetep aja ga ada respon” – keluhan seorang teman –
Komunikasi mandeg ketika ada tanya tak mendapat jawab. Ketika sebuah permintaan tak mendapat hasil. Dan ini terjadi di manapun. Di lingkungan keluarga, teman, sekolah, kampus, kantor/kerja.
Seringkali kita kebingungan mengenai cara menyelesaikan suatu masalah dengan seseorang. Baik dalam kehidupan pribadi maupun di lingkungan kerja. Terutama ketika kita sedang membutuhkan kerjasamanya, dan dia tidak tampak ingin memberikannya. Sebagian orang mencoba berbagai cara untuk ‘meraih’ rekan yang hilang ini, mulai dari cara langsung yang persuasif, cara tak langsung, hingga akhirnya mulai berkomunikasi dengan agresi baik fisik maupun mental. Kalau sudah begitu, apa lacur, akal sehat sudah tertutup emosi.
Dengan cara persuasif, kita coba mengerti posisi pihak lain, bahkan coba membantu menyelesaikan persoalan yang menimpanya, yang menyebabkan dia bersikap tidak biasa. Dengan cara tak langsung, kita berharap dapat membangun situasi dan kondisi yang dapat memperbaiki ‘keanehan’nya. Dan dengan agresi kita berharap dia dapat lebih sadar dan mengerti bahwa ada perbuatan dia yang salah dan harus segera diperbaiki. Cara pertama dan kedua seringkali gagal dalam pelaksanaannya. Dan ada juga yang langsung meloncat ke cara ketiga; agresi. Kalau sudah sampai ke tahap agresi, tinggal menunggu siapa yang lebih menguasai keadaan dan siapa yang kalah. Informasi tidak lagi menjadi penting untuk tersampaikan, yang harus tersampaikan adalah rasa kesal kita.
Cara persuasif, cara ‘setingan’, cara agresi semuanya adalah upaya yang dalam hemat saya berusaha ‘merubah’ kebebalan seseorang dari sisi luar. Padahal ada palu godam yang lebih efektif dari itu semua; diri mereka sendiri. Rintangan terbesar manusia adalah dirinya sendiri, kritikus terpahit seseorang adalah dirinya sendiri, harta terbesar seseorang adalah dirinya sendiri, jadi ketika kita ingin mengkomunikasikan sesuatu yang salah pada diri seseorang yang terbaik adalah menitip ‘pukulan’ pada diri orang tersebut bukan dengan menyerang pribadinya dengan serampangan.
Contoh konkrit adalah teman saya biasa ‘nembak’ orang berdasarkan pada komitmen yang pernah mereka sebut di depan dia. Misal suatu saat seseorang pernah bilang akan bekerja dengan serius dan lebih adil dalam membagi waktu antara pacaran dengan kerja. Dia tinggal bilang; “Katanya lo bakal mentingin kerjaan daripada cewek?” Hanya sebuah kalimat, dan segera saja sejuta rasa bersalah dan frustasi menghinggapi orang yang diomongin itu. Memang menyebalkan, tapi sejauh ini efektif. Ketimbang dia bicara panjang lebar mengenai detil kesalahan orang itu (menyerang ‘dari luar’), dia hanya menggoyang satu tiang dalam pribadi orang tersebut, dan selanjutnya diri orang itu sendirilah yang memukul-mukul kepala majikannya.
Tapi itu semua adalah cara terakhir dalam menangani masalah mengkomunikasikan emosi atau kritik, sudah tentu lebih baik kalau kita lebih belajar berkomunikasi yang baik sedari dini. Sehingga dapat meminimalisir gesekan-gesekan yang mungkin dapat terjadi antara kita dan orang sekitar. Pahami maksud dan keinginan orang lain, dan komunikasikan maksud kita dengan baik. Semoga kita selalu ingat, bahkan kebenaran sekalipun, kalau disampaikan secara salah, dia akan menjadi salah juga.
++Mobile