Hadirin pembaca, langsung saja saya bertanya, apa makna/kesan yang Anda tangkap dari kata-kata berikut ini:
“Gorgeous”
“Marvelous”
“Amazing”
“Love”
“Kiss”
“Romance”
Bandingkan dengan:
“Cantik”
“Mengagumkan”
“Menakjubkan”
“Cinta”
“Ciuman”
“Roman”
Sekarang katakan kepada diri sendiri, mana yang lebih memberi inspirasi imajinatif bagi Anda?
—
Kemarin-kemarin, saya chatting dengan teman saya seorang penulis yang telah menelurkan karyanya dalam sebuah kumpulan cerpen “Lelaki Pembawa Senja”. Seperti biasa, bicara dengan sastrawan pasti menyenangkan, malah orang ini bisa ‘memperkosa’ saya hanya melalui puisi yang saya buat, melihat menembus yang tersembunyi. Intinya, nyambung lah 😀
Dan entah kenapa, apakah dia menghadapi writer’s block atau mengalami post-traumatic pasca pembeberan karyanya ke publik dengan beragam respon dan kritik. Semenjak itu belum lagi dia menelurkan karya yang lain (kalo buat terus disimpan sendiri gak tau saya). Tapi itu gak penting, sebab saya tahu kemampuan itu masih bersembunyi jauh di dalam benteng entah-apa-namanya di dalam dirinya, saya yakin itu. (akhirnya saya tahu penyebabnya, tapi tidak akan ditulis disini :P)
Setelah saya bertanya soal pola bercerita apa yang sedang trend dalam dunia perfileman, saya tanya hal serupa dalam penulisan novel atau cerita apapun lah yang sedang trend. Jawabannya dia jarang baca novel dan pemandangan yang sering terlihat di Gramed itu chiklit, tinlit, metropop, fantasi, dan tak lupa novel terjemahan yang bejibun. Mendengar nama: chiklit, tinlit, metropop, saya langsung berseloroh; “Itulah yang merusak film-film kita”, dan di-amini dengan “Benerrrrr :D”. Dari jawabannya tersebut yang saya garis-bawahi adalah Novel Terjemahan Bejibun.
Ya, novel terjemahan. Saya teringat lagi, betapa dari sumber-sumber yang saya baca, sastrawan-sastrawan besar kita dulu tampaknya banyak membaca dan terpengaruh oleh karya sastrawan asing. Juga mereka tertantang untuk menerjemahkan karya-karya asing. Seperti pengakuan rekan sastrawan angkatannya Chairil Anwar, bahwa dia menerjemahkan puisi asing, tapi mengakui bahwa terjemahan Chairil ‘lebih bersuara’ dari terjemahan siapa pun saat itu[*].
Mengapa menerjemahkan karya sastra asing (terutama puisi) dapat menjadi sebuah prestasi. Karena itu sangat tidak mudah. Setiap bahasa memiliki makna dan bentukan yang lekat dengan budaya tempat bahasa itu berasal, dan bisa menyuarakan sebuah karya mendekati kualitas kemaknaan karya aslinya (tidak mungkin sama) ke dalam bahasa lain, merupakan sebuah pencapaian akan pemahaman puitik, bahasa, dan budaya yang lebih jauh lagi. Dan semakin dalam pemahaman seseorang akan semua itu, kemungkinan untuk menghasilkan karya yang orisinil akan menjadi lebih besar, karena potensinya sudah ada.
Seorang seniman besar seperti W.S. Rendra, diakui memiliki orisinalitas yang jempolan. Bahkan ada pengamat sastra yang mengatakan bahwa Rendra terbebas dari kotak-kotak peng-angkatan-an sastra[*]. Dia tidak masuk ank 45, walau taun 55 Rendra mulai menerbitkan kumpulan puisi pertamanya, dan taun sebelumnya sudah aktif bersastra. Tidak masuk ank 66 walau di era itu beliau aktif. Tidak masuk ke ank 70 padahal di era itu pun beliau sedang pada masa puncaknya.
Dan Rendra pun membaca karya-karya sastrawan asing, dan terpengaruh olehnya. Disamping dia pun sempat kuliah seni di Amerika, yang ini memberi kesan lebih mendalam akan inspirasi seniman-seniman luar.
Dari dua seniman yang saya sebut dan saya kagumi itu. Saya melihat pola bahwa mereka membaca karya asing langsung dari bahasa ibu-nya. Mereka mengaguminya dan dikatakan terpengaruh oleh karya-karya tersebut, yang ini menunjukkan kepahaman mereka akan karya-karya tersebut. (–menyusul akan saya sebutkan sastrawan-sastrawan asing yang mempengaruhi Rendra dan Chairil, harus buka referensi dulu–). Dan saya curiga ini kunci dari orisinalitas karya mereka.
Seperti satu pengalaman kecil yang saya bagi di awal tulisan ini, dari satu kata asing (sebetulnya bahasa asing manapun, tapi cuma tau inggris) imaji yang kita tangkap sangat beragam dan bisa lebih dari satu sensasi yang kita tangkap, ketimbang membaca kata terjemahannya.
Ketika seorang penulis mengacu secara berat kepada karya terjemahan, mungkin layak untuk disadari, dia telah menjadi korban dari diksi sang penterjemah karya tersebut. Pembaca tinggal mendapatkan ampas dari kekayaan makna karya aslinya. Karya sastra hanya akan berada pada potensi terpenuhnya ketika dipahami dalam bahasa ibunya, sebab tidak ada bahasa yang 100% dapat dicari padanan katanya dalam bahasa lain dalam makna yang benar-benar sama (itu sebabnya ada kata serapan).
Teman saya pun mengakui bahwa penulis yang membaca karya asing dari bahasa aslinya langsung biasanya menghasilkan karya yang bagus, seperti; Eka Kurniawan, Dewi Lestari, Isman H. Suryaman, Raditya Dika (sumber: Lulu Nazla). Dan saya jawab, ya, dan para pembacanya lah yang jadi ‘korban’ mereka. Sehingga muncullah penulis-penulis yang diksi dan gaya penceritaannya mirip mereka (saya masih tahap pengekor juga sih :p ). Pengekor-pengekor ini penting, sebab mereka ikut meramaikan pasar sastra di Indonesia, dan bisa jadi mereka cikal bakal dari penulis-penulis baru yang orisinal, walau kemungkinan itu 1000:1. Dalam tulisan ini saya tidak memusingkan para pengekor, tapi memusingkan diri sendiri dan orang yang ingin memiliki karya orisinil.
Dengan membaca karya dari bahasa aslinya, walau Anda dan saya membaca satu karya yang sama, tapi kita akan memiliki pemaknaan dan imaji yang jauh berbeda. Sebab dari satu kata pun kita sudah mendapat inspirasi yang kaya, apalagi satu puisi atau satu buku?
Bahkan menurut saya, hal ini (penginspirasian yang kaya) tetap bisa terjadi walau kita salah memahami makna dari kata asing tersebut, kesalahan itu akan menjadi sesuatu yang baru dalam bahasa kita. Sebab kita tentu paham, bahwa kesalahan yang diyakini akan menjadi kebenaran baru.
Lidah kita sudah terlanjur bicara dengan seni modern asing yang seringkali kita caplok mentah-mentah. Yang kita perlukan adalah pemahaman lebih dalam dan komprehensif akan karya-karya luar. Karena dari sanalah seni sastra modern berasal[*]. Dari situ biarkan empirik nasionalisme dan bahasa asli kita yang berbicara dalam melahirkan suatu pengucapan yang baru, orisinil, dan di luar konteks mainstream karya sastra yang sedang trend di Indonesia, tanpa menjadi karya alien yang tak bisa dipahami maksudnya.
***Mohon maaf mengenai sumber-sumber dari tulisan ini, saya akan himpun belakangan, karena itu semua terserak di buku-buku yang sudah lama sekali saya baca. Kalimat atau kata-kata yang diberi tanda [*] itu harus diberi keterangan sumber. Kalau nunggu sumber itu ketemu, tulisan ini entah kapan jadinya 🙂
