Tag Archives: etiket

Perihal Sopan Santun

Kemarin-kemarin, dalam suasana puasa, saya bermaksud menanyakan pengembalian pinjaman kepada seseorang yang usianya di bawah saya (kebetulan perempuan) via sms. Dan adegan itu berakhir berakhir dengan beberapa reply saya yang bernada marah dan menegur. Apa sebab? Bukan karena duitnya sempat ada tapi digunakan untuk hal lain, bukan sebab dia salah mengingat janji waktu pengembaliannya, bukan soal saya memang sedang butuh, tapi lebih karena bahasa dan metode penulisan reply nya yang membuat saya kesal.Dia mereply sms yang sudah saya rancang sehalus dan sesopan yang saya bisa dengan tulisan alay dan bahasa gaul abg.Ending smsnya kurang lebih; “.skali lage maav bgt .” Saya yang merasa sudah berusaha bicara halus dan membawa

Dulu ada teman saya yg menginap di rumah temannya. Karena si teman saya ini merasa sungkan, dia tidak pernah berbicara sepatah kata pun kepada orang tua (tuan rumah) temannya itu, bahkan cenderung menghindari. Setelah teman saya pulang, orang tuanya berkata kepada anaknya: “lain kali bawa teman itu yang tau sopan santun.” Teman saya itu sepertinya sampai pulang pun hanya diam saja, bahkan bilang terima kasih pun tidak.

Norma kesopanan memang sesuatu yang pasti akan bergeser dan berubah. Karena itu merupakan norma tak tertulis yang disepakati bersama oleh suatu masyarakat dalam suatu lingkungan dan dalam satu generasi. Kata-kata terakhir saya tambahkan dan garisbawahi karena satu alasan. Orang-orang dulu kerap ‘membakukan’ norma ini ke dalam adat istiadat, dengan maksud mewariskan ‘kesepakatan bersama’ tersebut dari generasi ke generasi. Sedangkan zaman sekarang, hukum adat mulai terhapus, perlahan dan pasti, terutama di kota besar, dimana peradaban modern telah meresap ke dalam urat nadi penduduknya. Proses pewarisan tersebut tinggal bergantung pada hukum agama, negara, dan keluarga (terutama keluarga).

Selain itu, sesuatu dapat dikatakan sopan atau tidak juga dipengaruhi moment, timing, usia, faktor kedekatan. Contoh: akan terasa kasar apabila ada teman yang sedang bersedih dan kita mengolok-olok kesedihannya tersebut, akan terasa kasar apabila disaat khutbah jum’at tiba-tiba seseorang berdiri, nunjuk khotib dan ketawa keras-keras. Akan terasa kasar apabila ada seorang pemuda memanggil kakek-kakek dengan namanya saja. Akan terasa kasar apabila kita baru kenal dan sudah manggil “hey bangsat, sini lu”.

Dan tidak jarang tiap-tiap hubungan seseorang memiliki klasifikasi khusus. Dengan si “A” tidak cocok kalau bicara makian, dengan si “B” jangan coba-coba ngeledek keluarganya, dengan si “C” jangan coba-coba mengolok-olok kota kelahirannya, dan lain sebagainya.

Dengan beragamnya nilai sopan-santun yang dipegang oleh masyarakat kita (dan juga masyarakat dunia, begitu kita memasuki pergaulan global) ada baiknya kita lebih cermat memilah dan memilih sikap. Dengan begitu, kekacauan yang disebabkan miskomunikasi lebih dapat dihindari.

Seperti kata grup rock Queen dalam lagunya: “because you don’t know, what it means to me.”

++Mobile