Terima kasih Tuhan, atas segala luka yang kau titipkan, terima kasih Tuhan atas segala sedih yang kau hibahkan, terima kasih Tuhan atas kebodohan yang Kau tanamkan, terima kasih Tuhan atas pemahaman bahwa bahagia adalah efek samping dari pengolahan atas semua ‘hal-hal negatif’ tersebut.
Sekarang bertambah umur saya, dan genap berkurang jatah saya di dunia. Kepada diri yang bodoh ini, saya hadiahkan sebuah puisi.
Dia yang Merasa Puas
Dia yang merasa puas akan pencapaiannya
Akan mati hari ini juga
Dia yang merasa puas akan pencapaiannya
Akan tersia-sia dari kecukupan
Sebab ditutupnya gerbang langit luas
Dan didudukinya kursi kebijaksanaan yang paling rendah
Dia yang merasa puas akan pencapaiannya
Akan mati saat ini juga
Waktu hatinya mebubung ke langit
Dan mementahkan segala realita
Ia tak akan berkembang
Menjadi pulau yang luas
Ia tak kan mampu terbang
Sebebas burung lepas
Dia yang merasa puas akan pencapaiannya
Semata karena kebanggaan akan dirinya
Akan hancur mulai sekarang juga
Dia yang merasa puas akan pencapaiannya
Semata karena kesombongan
Telah menutup kalbu
Akan jatuh berdebam dan kesepian
Dia yang merasa puas akan pencapaiannya
Dan berjalan dengan kekaguman akan dirinya
Telah lupa; bahwa dia manusia
Toba, 22/08/02
Tuhanku, jangan putuskan rahmatMu, Tuhanku, jangan, jangan, jangan matikan aku dalam keadaan zalim….