Oleh Tangkisan Letug
kutemui anak-anak Jogja
jadi pengangguran
mengais kerja di jalan
mengemis belas kasihan
ketika harus masuk sekolah
namun apa senyatanya
Jogja seperti bukan miliknya
anak-anaknya sendiri terlupa
tak mampu membayar beaya
sekedar masuk sekolah di kota
tak cukup sekedar jadi orang Jogja
tanpa uang tebal di sakunya
ku merasa inilah senyatanya
anak-anak Jogja terpinggir
di kotanya sendiri
hanya kerna kemiskinan
kian merajalela
mendera anak-anak Jogja
sekolah kian asing dan jauh
kota Jogja penuh meriah
oleh warga yang menimba ilmu
dari luar daerahnya
harga-harga makin dibuat tinggi
anak-anak Jogja kian miskin
mungkin nanti sebentar lagi
mereka sekedar jadi penonton
di pinggir-pinggir kali
sementara orang-orang berduit
mandi dengan senangnya
di atas kemiskinan ini
anak-anak putus sekolah
di kampung-kampung
di jalan Godean
berpacu dengan arus gelisah
terpaksa mengais rejeki
menjadi pembantu keluarga sebelah
yang datang dari luar daerah
yang bisa membeli tanah
yang anak-anaknya pergi ke sekolah
yang orangtuanya pakai mobil mewah
yang rumahnya indah-indah
dan warga kampung-kampung itu
tetap ada dalam keabadian
kemiskinan yang terus merekah
anak-anak hanya sampai klas menengah
lalu dipaksa keadaan mencari nafkah
tanpa tampak susah
kerna memang sulitnya hidup berubah
kerna memang miskin itu dibuat mudah
Jogja kota siapa?
Januari 2004