Category Archives: Puisi Cinta Nyenius

Lelaki Kecil

kata-kata itu menusukmu?

maafkan aku
pergulatan ini bagai tak bertepi
aku harus menyudahinya
aku harus memungut sebuah daun;
hidup atau mati

aku masih menginginkanmu
itu jelas,
tapi juga samar

-itu keserakahanku-
-itu keraguanku-

aku masih ingin bertualang
tulang belakangku masih tegap
keputusan bukan sahabatku sekarang

kau juga berjalanlah
tapi jangan hilang senyummu
jangan tak menoleh padaku
aku tak ingin kau hilang begitu saja

ah, tak mungkin ya
kaupun harus memilih
kaupun harus berjalan
dan bertemu dunia-dunia

tapi

kata-kata itu menusukmu?

jawablah,
atau tak perlu?
tapi jangan diam
tersenyumlah atau marahlah

kau simpan aku dalam kotak itu?
cukup?!

dalam rupanya
sumur yang tergali oleh bahasaku
hingga kau tercekat
dan menceburkan aku kedalamnya

“diam, kau sudah putuskan”
teriakmu dari atas sana.

3:18 AM 4/25/03

Kau Selalu Datang

Tiba-tiba saja kau datang dalam hujan mengetuk hatiku dengan semena-mena dan pergi dalam petir yang menyambar. aku tangkap wajahmu, jangan pergi! sesaat seperti ini selama beberapa jam lagi akan memuaikan hatiku. aku tangkap tubuhmu! Jangan berlalu tak ingin waktu ini menjadi waktu itu nanti. Kau selalu datang di awal Ramadhan, di saat hujan menitik, di saat mendung tersenyum, dan selalu pergi begitu saja. Selama beberapa cangkir kopi dan berbatang-batang kretek kau menemaniku, tapi kau selalu meninggalkanku dalam lama yang tak tentu. Aku bosan mengungkapkanmu dalam kata; seperti. Aku ingin kau seutuhnya menjadi, aku ingin kau sebulat-bulatnya. Aku merindukan matahari yang telah kau mandulkan itu, saat kau datang, sebagai peri bergaun cokelat lembut menyapu langit. AKu merindukan dedaunan yang kau tundukkan, juga setiap kali kau datang. Perasaan kehilangan seperti ini menghadirkan kekosongan yang sangat. Kau selalu meruntuhkan bunga-bunga, kau memaksaku menghirup awan kosong.

Ketidaktetapan yang Bodoh

semuanya berputaran cepat
begitu

kau yang bergelayut manja
minuman kaleng yang berjajar rapih
senyummu merangkul pikiranku

semuanya begitu cepat
berputaran bagai roda emas
aku takut
itu adalah sebuah dosa

kau menjadi terlarang
perasaan ini di luar batas
dan aku terkatung

memang bodoh berkata mencintaimu
karena tak juga aku berketetapan
pantai mana hendak dilabuhi
laut mana hendak kulayari

jangan memandangku begitu
bilakah padam api ini jadinya

“kenapa kau mencariku sekarang?”
kau berkata

aku tidak mencarimu
hanya kaki ini menghantarku ke sana
lewat gambar-gambar yang hadir kembali
lewat suara-suara yang mendekat lagi

aku berjuang
melawan suaramu
tapi tetap kakiku merayap
ke arahmu

“bukan salahmu”
kutegaskan

hanya aku tak bisa bersabar
tertipu tiap dentum sesaat
dan jatuh pada ledakan kedua
selalu jatuh, terkubur

“kau adalah kerbau”
katamu

ya aku adalah kerbau
aku adalah kebodohan
ajarilah aku

“kau buta”

dan kaupun pergi
dalam lambai berbisik
“benarkah kau mencintaiku?”

3:05 AM 4/25/03

Pagi Bicara Tentangmu

Aku terharu
mendengar pagi ini
bicara tentang kamu

dalam udara membelai
senyummu menghampiri
pagi ini bertuliskan namamu

angin bermain seruling
lewat aromamu yang dibawanya

aku terharu ketika
pagi hari bercerita
tentang kamu
dia bawakan matamu yang menatap tajam

angin ini mengusir kesepian
angin ini mengandung kamu
menyegarkan, memompa debar hidupku
agar terus

aku terharu
menghirup pagi yang beraroma kamu

Dia mengantarkan kamu
agar kita bersama menikmati
hijaunya daun di pinggir kali

12:44 AM 8/14/2003

Rindu Dalam Hujan

Langit basah
Hujan melahirkan air-air
Aku diam kandas dalam rindu

Seperti kau bilang
‘Saat batin kita bersatu’
ya akupun tak bisa lupa

pundakku selalu bergerak;
gelisah

rindu ini mencekik kerah baju
padahal baru tadi kita bertemu

langit basah
hujan turun melahirkan air-air
aku diguyur bayangmu

“malam ini dingin
sudahkah kau pakai selimut?
Awas nanti masuk angin”

bumi basah
langit menyitir syair-syair perayaan
semesta bercinta

tapi kita?
Ah jauh rupanya, kau dan aku
Cuma diam dibebat rindu

jangan takut,
Besok aku datang
Akan kubalas semua rindu
Akan kubayar tanpa ragu

Langit basah
Bumi basah
Kau dan aku
legam diguyur cinta

28/1/02 11:58:42 PM

revised on : 2:03 PM 10/3/03
and 12:21 AM 10/6/03

Kau Milikku

Tak ada lagi
hembusan angin
selembut nafasmu
dalam kesepian rutinku

Tak bisa membunuh kamu
dalam cemburuku
kamu milikku
punyaku

Dedaunan talas di sawah sudah mekar
Biar nanti kita minum air hujan tadahannya
Kemudian saling bertukar rindu
dalam tatap dan kelembutan bibirmu

Aku sudah merancang bulan dan hari
tapi rusak karena takut
aku lari lagi
tinggalkan
semua yang sudah
kutulis rapi dalam hari-hari

Hancur
lalu aku tak berani
menatapmu, lagi-lagi takut
seperti kerbau besar menanduki hatiku

Kamu
Dewiku
Aku karam terbentur
pandangmu yang seperti
kapas-kaps emas yang manis

Aku sungguh retak
ragu menatapmu
ragu mengucap kata-kata
ngeri kau muak dan pergi

bajingan ini tak bisa membunuhmu
dalam cemburuku
kau milikku
punyaku

3:47 30/04/2002

Serpihan

"dari sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun"

Makin sepi saja
gambar itu.
tanpa kata-kata

kisah yang tersobek
keinginan yang terbunuh
gambar yang terbelah
hijau gunung yang hilang
akhir yang tak diharapkan

Hati yang tersisa
menggantung dilangit-langit kamar
Harus mati
Harus dibunuh

Makin sepi saja
gambar itu
dua orang di kamar gelap
terbelah
pisah
sampai akhirnya
lenyap

27/11/02

Langit Pagi Ini dan Kamu

Melihat langit yang luas
dan jernih itu
Aku teingat Jogja
dan segera juga kamu

Melihat langit fajar
yang mulai terang itu
beserta awan yang terpecah-pecah
Aku teringat pagi di Jogja
dan tak lupa senyummu juga

Ah, di langit pagi ini
begitu banyak gambaranmu
menelusup pada udara sejuk
yang mulai dewasa

Kedamaian pagi Eamadhan
adalah jelas tentangmu
tentang kedamaian
dan tempat bersandar

Fajar yangcerah adalah kamu
Fajar yang cerah
adalah senyumanmu

Dan di atap rumah ini
kupuaskan kerinduankuakanmu
Kuhirup pagi
Kuhirup kamu

*kau tahu?
Rasanya seperti menghisap
Kretek yang mahal
sembari menyeruput
secangkir kopi seleraku

– aku merindukanmu –
-kedamaianku-

04/12/01

Dara yang Mengangguk

Dara yang mengangguk
Tiap langkahnya menguraikan
jejak-jejak rindu

Meninggalkan kabut yang
menyekat peredaran darahku

Tersenyum berkilau,
ah sayang aku sedang tak
menuruti hati ini sepenuhnya

Kau takkan kukejar,
biar kudamba sejenak
lantas kulupa

Tetaplah tersenyum
dan aku hanya tertawa
melihatmu diboyong orang

Gadis yang menunduk malu
Kenapa begitu!
Jangan malu atas dirimu,
kaulah yang merebut mistik
gelap malam
kau juga yang mencuri keriangan
siang

Kebodohanlah bagi hati ini
yang tak beranjak menghampirimu.

02 Aug 2004