Category Archives: Puisi Cinta Nyenius

Puisi Buat Ibu

Ibu
Saat kau terduduk
dalam lelah yang sangat
aku khawatir
aku rasakan salah bergumpal-gumpal

Ibu
saat kau menasehatiku
aku mengerti
Aku paham semua harapanmu

Ibu
saat melihatmu menangis
Aku hancur
Saat melihatmu sakit
Aku hancur

-aku tak kuat-
Karena air matamu
adalah butiran-butiran kristal
dari lelahnmya sebuah perjuangan
disitu tercetak dosaku

Karena sakitmu
adalah tumpukan beban-beban
yang kau bawa
disitu pula tercetak dosaku

Melihat itu semua
aku bisa apa?

-aku tak kuat-

aku rasakan salah amat sangat

Rasanya percuma
aku pergi mengejar cita-cita
Kalau ibu lelah dan sakit
aku diam saja

-aku rasakan salah amat sangat-

Satu hal yang menenangkanku
akan dirimu Bu’

Pada saat kau duduk kelelahan
memandangi anakmu
dengan kebahagiaan
Kurasa malaikat di langit
melimpahkan shalawatnya kepadamu
dan Tuhan berikan senyuman rahmat-Nya
khusus untukmu

10/09/00
22:00
Toba.

Anggun

Kalau bukan keanggunanmu
ini pasti mentari paagi

Kalau bukan
bening matamu
Ini pasti kelok sungai
di bawah senja

Kamu datang
mengerjapkan mataku
pada hijau Burangrang

Kalau bukan
senyummu
Ini pasti permadani
hutan Kalimantan

Sumur tenang yang dalam
kau menarikku tanpa bicara
dan menyadarkanku
setelah aku jauh didalam
tanpa mampu keluar begitu saja

aku pasrah
hilang arah
dan terus ke dalammu

23/22/2002
00:12 am

Alam Damai dan Kamu

mendung berdendang manja
saat aku lewat di bawah langit tua
kau dan segala masa lalu kita
tiba-tiba hadir bersesakkan

kedamaian ini,
seperti aku dalam pelukmu
kenyamanan ini,
seperti ketika kau memandangku

kau turun sebagai
lembut rintik hujan
yang menetes anggun
dan merenggut segala penat

langit yang bergelung kelabu
meniupkan kesejukanmu
membawa kembali masa tiga tahun
kebelakang

aku berbincang dengan hawa dingin
tersenyum dengan angin basah
tak habisnya bicarakan kamu

berjalan di bawah langit dingin ini
melaju dengan kesadaran ototku
yang terasa perih terkena kamu
aku butuh lebih dari sekedar jaket,
kamu lebih menusuk dari angin

kehilangan seperti ini
melumatkan isi kepala
kehilangan begini
seperti angka nol di angkasa

besar dan tak ampun menyerangku
ini rindu yang parah dan akut
menyergap jantung,
menyekat pembuluh darahku

aku haus
kelaparan akan kamu
semakin aku bertualang
semakin aku haus
dan merasa bodoh
karena tahu, kau yang kubutuhkan

1:26 AM 7/7/2003

Ya Sudah (Penghabisan Ini)

Ya sudah saja
Ini titik dari kalimat kita

Bunga tidak tumbuh di batu
Begitu pula hantu tidak bergentayangan di masjid

Ya sudah saja
Detik ini hanya peresmian
Hati kita sudah mati dari kemarin

Angin telah mencurinya
Ditambah pula kebodohanku yang tak berujung

Aku berat mengatakannya
Tapi ini titik dari kalimat kita

Mata siapa yang sembap
nanti kita segera tahu
tapi itu bukan prinsip

Setelah puisi ini abis
Rasakanlah olehmu kebebasan
dan satu rantai yang karat telah pecah

Ya sudah saja
Ini titik dari puisi singkat kita
Ini kata mati dari hidup yangkau tak suka

Ah, hari sudah larut
bulan turun
aku sudah mati
Sejarah kemerraan ditutup disini

amu nanti tegar saja
aku minta maaf

Gelap jalan, jangan limbung
tetaplah jadi kedamaian
dan jangan lagi cari bangsat sepertiku

Eh, malam makin larut
Sudah waktunya kau jalan lagi
Sudah waktunya aku jalan lagi
kembali mehyingkap kegelapan esok
entah dengan berlari atau terseok

Ya sudah saja
Ini titik dari kalimat kita
Ini titik kita buat semua tanda kutip itu

Tuesday, November 06, 2001
16:05

Rindu Kecil

aku enggan
mengucap rindu yang mendendam
takut hilang terbawa angin

tak ada yang bisa dipercaya
malam ini
kerinduan makin
kental setiap kusebut kamu

kamu adalah kopi
yang mendebarkan jantungku
mengikat lidah, dan mematikannya
dalam senyum tak jelas

ingin jumpa
tapi tak sekejap
hiruplah aku dalam-dalam
izinkan rindu ini
istirahat dirumahnya

12:33 AM 8/7/2003

Kamu

dalam sujud
kubuat gambarmu
kukirim langsung pada-Nya

Memintamu dari-Nya
mengirimkan sinyal harapan ke jagat raya
menanti jawab dalam tunduk

dan kau datang
seperti mimpi
tersenyum, dengan tenang
duduk disampingku

separuh dari jawaban
itu telah datang
bersama langkah, senyum,
dan manjamu

aku bangun
dan sujud,
tersenyum

12:58 AM 8/14/2003

Maaf, Aku Harus Pergi

Bila sinar itu telah
padam dari matamu
maaf aku harus pergi

masih ada beberapa
karang yang harus
kupecahkan

Kamu butuh kepastian?
tanyakan pada hatimu yang gemetar

-aku tak suka mengecup bibir yang dingin-

menara kita telah runtuh
dan maaf aku harus pergi

ternyata begini akhirnya
hatiku masih kukuh,
tapi bila kau tidak
maaf aku harus pergi

Aku tak mau bertahan
menjadi pemaksa
aku tak mau jalan berdampingan
dengan hati yang tak jelas arahnya

Semua yang kau bilang untukku
sekarang tidak lagi
semuanya menjadi kapas
dan menguap ke langit

mimpi-mimpi kita sudah jadi abu
pilih jalanmu, ke utara atau selatan
lontarkan salam dan seutas senyum
lalu kita berpisah di simpangan ini

semuanya sudah berubah
jangan berpura-pura.
maaf aku harus pergi

Aku harus membereskan koperku
yang terjatuh
dan terus berjalan

Sunday, June 02, 2002
3:11:06 Am

Mimpi Abadi

Mimpi itu seperti parasit
mendekam dikepala
tak mau pergi
biar tahun-tahun sudah memakannya

setiap saat ia seperti tak ada
tapi selalu pada satu waktu
ia memanggilmu seperti orang gila
berteriak-teriak tak henti
berbicara lebih cepat dari detak jantung

impian itu tak mau terhapus juga
biar waktu sudah menguburnya
selalu ada nabi yang datang
menyerunya untuk bangkit

sudahlah lupakan saja
biarkan dia tidur
biarkan dia tenang
dan damaikan hidupmu

“apa ini? bising sekali!
lebih cepat dari jantungku!”

“Dia datang lagi?”

Tak ada mimpi yang mati
tak ada harapan yang pudar
kau hanya mengembunyikannya
tidak membunuhnya

dan kau tidak berhak membunuhnya
dia adalah bawaan tulus semenjak kau lahir
dia adalah kemurnian jiwamu
kau takkan pernah bisa membunuhnya

2:49 PM 7/5/2003

Mengejarmu

kepekatan malam
dalam bayang wajahmu
mengugurkan daunan ditangkal jambu

dari awal aku sudah mencarimu
dalam perjalanan ke bukit
yang kudaki dengan luka
terpuruk dikakimu dan terus berusaha
bangkit
coba meraih ujung
kerudungmu dengan
sisa tenaga

pada akhirnya

2:36 AM 11/4/02

Hey

hey
benarkah kau menungguku
seperti seorang dara di komik silat

hey aku cuma seorang keparat
baru kemarin jadi pengecut
lupa bahwa dirinya anak laki

hati-hati
jangan bermain dengan cinta
ia api
ia naga
nanti kau tertelan

tapi apakah arti cinta
bagi pemuda seusia kita

puisiku sering berbicara cinta
tapi bagiku saja
masih tipis batasnya dengan ego
dan keinginanku belaka

hehehe
aku berbicara tentang cinta?

sejujurnya
aku masih bingung di mana letak hati
aku seorang anak laki
yang baru hapal teori-teori

hey
hey
sadarlah
kau dara yang hijau
jangan tertipu olehku
atau oleh siapapun juga

kita sering terlarut dalam perasaan saja
lupa tugas sebenarnya

sudahlah kita menari
yang ringan-ringan saja
dan bekerja sekeras-kerasnya