Category Archives: Dedicated

Ini merupakan kategori yang dikhususkan buat member yang telah memposting 10 atau lebih puisi.

Sujud Rindu

Tabir malam menghampiri
menganyam tali rinduku pada tahmid
kidung kudus yan berserak terberai
kumerajuk dalam sujud rinduku
menyitirkan sajak, untukku
tentang takbir yng terasing
terjajah dalam terali ini
terali dalam temali nafsu kami

Sujud rinduku, padanya

Prasangka

Kukira suara air hujan terdengar
Tidak…
Itu suara kegelisahanku

Apakah itu kilat menyambar?
Tidak…
Itu ingatan masa lalu yang menyilaukan pandangan

Tangankukah yang mencoba meraih jendela?
Wajahkukah yang kulihat penuh duka?
Teriakankukah yang mengusik ketenangan?
Tidak…
Hanya jeritan hati dan prasangka
Ketakutan akan terulangnya kesalahan
Dan masa lalu yang menyakitkan

Sungguh keterlaluan…
Aku betul-betul manusia serakah
Selagi mengejar masa depan, aku tetap menggegam masa lalu
Aku tetap selalu menduga…
Dugaan yang menggelikan tentang sisi yang tak boleh diungkap

Kebanggaan Hati

Jika kesedianmu untuk melahirkanku tak pernah ada
Maka darah ini bukanlah darahmu
Jika tidak ada kecintaan pada tiap belai tanganmu
Maka hikmah yang kumiliki juga bukan darimu
Jika bukan karena kasih kau menegurku
Maka kedewasaan yang kupegang adalah palsu adanya

Waktu seumur hidupmu untuk merangkulku
Seringkali kuabaikan
Kuremehkan dan kesepelekan
Namun begitu besarnya hatimu untuk memaklumi dan memaafkan
Sehingga mataku dibuka atas kesalahan yang kubuat

Ketika ku mengeluh tentang batasan yang kau berikan
Dan merasa tidak ada keadilan
Kau hanya tersenyum atas tingkahku
Dan menunggu agar aku mengerti akan semua hal baik yang menantiku

Terima kasih….
Atas semua kasih dan kesabaran yang kau punya

Tarian

Begitu setelah tersadar dengan segera
Aku begitu cepat tergelincir
Ke dalam api dan mudah terbakar dan luka

Apa yang membuatku melamun selama ini?
Dan dengan lamban…
Aku menarik tubuhku agar berpaling pada gunung es

Dingin memang
Kejam memang
Namun harus kulakukan

Karena aku tidak dapat menari dalam lidah api
Tubuhku hanya terbakar mengikuti geraknya

Aku paksakan rusukku agar bertahan dalam dingin yang menggigit
Sehingga aku dapat menari dengan kuat dan bebas

Sedih memang
Sendu memang
Tapi harus aku jalani…

Sepasang Bebek

Apakah yang membuatku membeku dan pipiku memerah?
Hanya dengan pemandangan kolam sederhana
Dan sepasang bebek yang mengarunginya
Apa yang membuat mereka begitu istimewa?

Ada cinta diantara mereka
Cinta sederhana dan begitu kuat
Yang membuat mereka saling menunduk malu dan manis
Begitu membuatku iri…
Mengalahkan keanggunan angsa
Menjatuhkan keagungan rajawali
Begitu hangat dan menular

Seiring dengan terpakunya diriku memandang
Begitu juga senyumku tak mau reda
Aku terjangkit dengan ketulusan sepasang bebek
Akankah cinta mereka bergeming?

Keberangkatan

Hanya dengan senyum sinis
Kau mengantar keberangkatanku untuk pergi
Hanya dengan tawa hina
Kau membiarkanku lalu dengan malu

Bahkan lupa akan tulusnya hati yang pernah hadir
Dan adanya janji yang belum kau tuntaskan

Akan kukabulkan keinginanmu
Untuk berpaling dariku
Sehingga kau tak perlu menendangku dengan jijik
Dengan merendahkan

Hanya bekal dendam yang akan segera kulupakan
Aku akan pergi
Jauh darimu dan dari kenanganmu…

Re : Datang juga perpisahan, semakin jelas kebodohanku

“kau akan mati,saat puas akan suatu pencapaian”
kataku pada suatu kuliah umum
yang kau wariskan padaku
di kota yang dilingkung gunung.

betapa aku tergila pada kalimat itu
hanya jiwa yang kuat
mampu mengatakan itu

aku cuma tersenyum diam
bersama mata yang gelisah
takut…
jika aku tak setangguh itu

benar!
waktu memang bukan sahabat yang baik

kukatakan lagi kalimat itu
pada kuliah yang lain…

apakah kita sudah puas dengan semua yang terjadi?

sial!
aku tidak mau itu terjadi pada kita, bajingan.

bagaimana bisa kau lihat namaku seutuhnya
jika itu mati?

persis seperti kalimat itu,
“kita puas dan mati”

maaf, berulang kali kukatakan maaf pada sajak ini
telah membuatmu merasa bersalah.
hanya saja diri ini merasa malu
karena bukan sesuatu.

ketahuilah!
aku rindu…

dan sampaikan maafku pada jiwamu,
aku tidak mendengarnya…
katakan,
bicaralah lebih keras seperti biasanya.

Permintaan

Dapatkah aku meminta waktumu sesaat?
untuk menemaniku merenung dan membangkitkan semangat
Dapatkah aku meminta tanganmu agar terulur?
untuk mengingatkanku menjauh dari kata mundur
Dapatkah aku meminta hatimu untuk setia?
untuk dapat ku percaya sepanjang masa
Dapatkah aku meminta jiwamu?
untuk menghilangkan sepinya ajalku?
Dapatkah aku memberi semua yang kuminta darimu?
aku tak tahu…
tapi aku ingin suatu hari nanti mampu memeberi semua itu

🙁

Berhenti dan Jatuhlah

Lelah untuk berlari sepanjang ingatan
bahkan untuk menjalaninya
Aku ingin berhenti sesaat
entah di persimpangan, ujung jalan, atau di tengah jalan
Aku ingin menjatuhkan lututku pada kerikil tajam
agar dapat merasakan sakitnya kenyataan
dan terbangun dari impian yang menyesatkan
Jatuhlah anganku
runtuhlah…
Aku ingin merasakan kembali kakiku yang terikat beban
yang harus kuseret hingga ajal
Aku lelah…
ingin berhenti dan tertidur hingga nyata

Naya Rindu Dendam

Naya termenung pada dahan pohon yang tinggi
Angannya melambung jauh dari rumput di sekitarnya
Membayangkan adanya seorang pangeran yang datang dengan kuda putih
Tampan dan gagah berani
Tidak sadar adanya seseorang menghampiri

“Turun kau pelacur!”, seru seorang pria tua dari bawahnya.
Naya tersentak dan terdiam
Tidak ada yang lebih diinginkan Naya selain jatuh dan pingsan
Bahkan mati…

Naya membatin
Ayah mengapa kau begitu keras hati?
Mengapa kau siksa anakmu?

Namun pria tua itu memandangnya dengan keji
Dan berteriak dengan liar dalam khayal
Anak pelacur!
Akan sama seperti ibunya, pelacur murah dan hina..!!

Naya turun dari pohon
Pasrah akan rotan yang akan menghantam punggungnya yang ringkih
Dan berharap dalam hati
Terkutuklah kalian laki – laki
Karena membunuh harapan kami
Matilah kalian para ayah yang tak tahu diri
Karena mencekik impian kami