“kau akan mati,saat puas akan suatu pencapaian”
kataku pada suatu kuliah umum
yang kau wariskan padaku
di kota yang dilingkung gunung.
betapa aku tergila pada kalimat itu
hanya jiwa yang kuat
mampu mengatakan itu
aku cuma tersenyum diam
bersama mata yang gelisah
takut…
jika aku tak setangguh itu
benar!
waktu memang bukan sahabat yang baik
kukatakan lagi kalimat itu
pada kuliah yang lain…
apakah kita sudah puas dengan semua yang terjadi?
sial!
aku tidak mau itu terjadi pada kita, bajingan.
bagaimana bisa kau lihat namaku seutuhnya
jika itu mati?
persis seperti kalimat itu,
“kita puas dan mati”
maaf, berulang kali kukatakan maaf pada sajak ini
telah membuatmu merasa bersalah.
hanya saja diri ini merasa malu
karena bukan sesuatu.
ketahuilah!
aku rindu…
dan sampaikan maafku pada jiwamu,
aku tidak mendengarnya…
katakan,
bicaralah lebih keras seperti biasanya.