Category Archives: Overdrie

Aku Ingin Mencintai Jiwamu

Hati-hati!
Bila hari ini ku bilang kau cantik.

Awas!
Jangan percaya kata-kataku
Mengenai gigimu yang rapih.

Tinggalkan saja aku!
Kalau kau mendengar artikulasi bibirku ;
?Kulitmu bening, sebening embun?

Pejamkan matamu!
Ketika air liurku yang menetes
Membisikkan bahwa matamu indah.

Karena satu saat, wajahmu, gigimu, kulitmu, matamu, jadi seperti organ tubuh kambing, kau akan menyaksikan aku pergi tanpa menoleh ke belakang.

-Aku ingin mencintai jiwamu-


===================
Akbar.
Bandung, 8 Maret 2002

Dari Sebuah Jendela

Kecepatan angin adalah bencana
selalu siap memukul telak lamunan kita
yang menempel pada tiap kaca jendela, dimana kita selalu melihat jalanan.

Kita selalu tahu belakangan,
bahwa jalan makin kering,
kian panas dan hambar.
Pesan hanya sekadar rambu.

Ups…
ada tabrakan!
jendela adalah televisi.
yang banyak program tontonan tentang mahluk.
dijalan,
selalu punya resiko tabrakan.
Resiko menabrak; dicaci, dimaki, membuat kita seperti orang tolol, lalu berkelahi, membuat kita semakin tolol.

kita selalu tahu belakangan,
bahwa jalan makin kering,
banyak lubangnya,
menyalahkan hujan yang berlalu kemarin.
Pesan hanya sekadar rambu.

Ya, terus!
terus jalan!
jalan terus!
lupakan simpangan,
kita hanya akan lurus
dan tidak akan ngerem
sampai jalan ini habis.

lagi-lagi kita tahu belakangan,
jalan makin lurus, kelokan miring, kering, merindukan tergelincir, lalu jatuh, mencium tanah, dan …

Pesan hanya sekadar rambu.

===================
Akbar.

WAITING FOR DOG

(untuk Caesar,Layla,Priska,Kiki,Na,dan semua perempuan yang kusayangi. Semoga Tuhan memberikan kalian laki-laki yang baik)

seorang wanita,
bunting lima bulan,
datang dengan ibu tengah baya,
dan seorang anak diluar janinnya.
wajahnya saat itu adalah kolam asa.

“katanya ia akan datang jam 9”

“ah dia itu tukang bohong, Teh”

“kalau dia bohong biar celaka”

“jangan Bu, kasihan Teteh”

“daripada nyusahin”

ini dia!
Pangeran Yunani datang.
dengan mahkota duri mawar
ia berlagak tenang dan mengubah susunan
drama tragedi yang akan berlangsung penuh darah menjadi suatu komedi kabaret dengan pilihan lagu hip-hop.

“saya sudah tidak tinggal di kota ini”

“jadi tinggal dimana sekarang?”

“jauh dari kota ini”

“saya minta biaya persalinan”

“saya juga sedang tidak punya uang”

“bagaimana donk? kamu sudah tiga bulan tidak mengirim biaya hidup, tidak pernah datang”

“ini saja 25.000 rupiah, kembali lagi tanggal dua ke kantor saya”

ia laki-laki yang berguna
benihnya subur
hasilnya cantik
tapi hanya tahu menanam.
atau memang hanya suka menanam.

25.000 untuk persalinan istri ketiga yang cantik
setengah juta untuk menggoyang malam ini dengan peluh.
benar-benar berguna!

aku jadi bertanya
apakah cara kerja sperma begitu penuh perhitungan, hingga membosankan?

=============
Akbar

Malam Ini

kita tidak sedang dalam cerita Layla-Majnun bukan?
jadi betul,
aku takkan menangis di makam-mu
sampai mengering dan kembali menjadi debu.

bukankah Majnun sangat mencintai Layla?
bahkan ia bersedia menjadi budak cinta Layla.
tidak, aku memburu mu malam ini saja.
dan malam ini, aku jenderal nya, kau kudaku.

esok pagi kutinggalkan coklat didadamu.
maaf, aku belum beli bunganya.
lain kali mungkin.

=============
Akbar Tajri

Jangan Takut

Aku adalah pelacur,
jadi tak usah berdebat
tentang cinta denganku.
Kalau suka,
tinggalkan sebatang coklat
atau sekuntum bunga
didadaku.

Aku seorang pelacur,
jangan hawatir aku menangis
ketika kau telanjangi
sukmaku,
dan kau lihat
ia diperkosa sepi.

===============
Akbar Tajri

Tentang Jantungku yang Gaduh

Tuhan,
aku rindu Ramadhan-Mu
dimana Kau tanduskan
tanah-tanah dosa
dalam jiwaku.

Tuhan,
aku digelitiki iri hati
kumohon dengan sangat,
bebaskan aku!

Tuhan,
aku rindu Syawal-Mu
satu hari itu,
jiwaku yang membangkai
kau harumi dengan
keikhlasan.

Hari ini dadaku sesak!
kuminta dengan sujud,
redakanlah!

Mei 2004

Disini Telah Meninggal…

aku ingin keluar sebentar, bung!
hingga suatu saat
kita saling memasang nisan
pada pikiran-pikiran kita,
pada kata-kata,
pada khayalan
pada prasangka
pada mulut-mulut kita yang kumuh.

aku ingin pergi sebentar, bung!
hingga pada tanah ini
kita gali
untuk tawa
untuk kebersamaan kita
untuk lima jari yang selalu kita adu
hingga air mata melamurkan
bau busuk bangkai mereka

AYOLAH!

AYOLAH AIR MATA! KELUARLAH!
BUAT AKU SENANG SEDIKIT!
SEPERTI SAAT DICEMBURUI PENIS KU SENDIRI

AYOLAH AIR MATA! MENETESLAH!
BIKIN AKU TENANG SEDIKIT!
SEPERTI TANGIS IBUKU
MENYAKSIKAN AKU DIAM
SAAT KELUAR DARI RAHIMNYA

MENGALIRLAH!
BERKEJARANLAH DI PIPIKU!
CIPTAKAN KEDAMAIAN
KARENA MENCINTAI
LAYLA!

( Akbar Tajri )