Category Archives: Mamat

Sudah kah!

Apa yang seharusnya, sudah!!
Heran nya aku
Gerakan dari balik rusuk ini
Terguncang cepat sampai begini

Apa yang mestinya, sudah!!
Tak heran nya aku
Jawab-mu, sungguh mengajak
Mengajak untuk menanjak
Yang mungkin memanjat
Memanjat tebing yang karat

Apa teguran Nya, juga sudah!!
Tandan-tanda dari Nya yang penuh isyarat
Tapi itu kututup rapat-rapat
Demi membelang sang sobat
Yang mungkin dia pun terjerat

MaMaT
16:30
14/02/05

Resahan rasa, desahan Aku dibalik Aku terhadap-mu

Malam tadi, kurindukan kau didalam mimpi-ku
Dini tadi, kau hadir bersama keindahan mu
Lalu kau tak kian pergi dalam benak-ku
Berbuat gurau dalam qalbu

Dini ini kumasih sendiri
Tak ada teman yang hidup
Kecuali jam dinding yang ku hidupi
Dan pena mati ini yang kupaksa menulis sayup
Agar tampak lebih hidup

Tak tau mengapa!!!
Sungguh lama……
Detik dari detak mesin itu pun semakin cepat
Dini menyambut fajar hampir berkedudukan tepat

Tak tau apa yang kaubingungkan
Ku rasa ada aku dibalik aku terhadap-mu
Tak tau apa yang kau cemaskan
Ku rasa ada dia dibalik aku terhadap-mu

Seekor lebah – dan kupu-kupu
Bermisi sama terhadap bunga terindah
Misi sama, latar berbeda
Tahta beda, tak jadi masalah

Dia abai-ku
Ku tak hiraukan kupu-kupu
Satu!!
Ucap aku dibalik aku terhadap-mu
“Aku ada terhadap-mu”

MaMaT
03:15
10/01/05

Mungkin besok sebuah jawaban

Mungkin hobi ku dini
Mencatat di buku ini
Rayapan bulu ini, semakin meninggi
Pori-pori nya pun, menampakkan diri

Ayakan nafas ku semakin tak becus
Saringan darah ku pun mendadak menggibas
Mengiringi merah, keseluruh indera

Istana itu pun tak kian jadi
Siulan ku tak tau mengapa, ditanggapi!!
Tak jadi-jadi
Kadang angin pun-aku benci
Mula dia senyum iri

Kala Qolbu tidak bersatu
Jatuh dia diterjang tsunami
Kala Qolbu hendak bersatu
Coba Dia untuk bercerai
Kala Qolbu telah bersatu
Bulat-bulat unjuk gigi
Kala gigi hendak di unjuk
Lupa nasi di di atas gigi
Dan kala nasi telah tiada
Datang gusi yang ter infeksi
Setelah itu busi-busi terjual laris

Risau kemana!
Gundah kelana
Galau menyapa

Luluh!! Aku bukan orang nya
Pupus!! Aku tak kenal dia
Rapuh!! Mungkin aku bukan kerupuk
Jatuh!! Mungkin Esok ku bangun lagi

Apa! Itu sangat singkat
Kenapa! Itu agak berkarat
Bagaimana! Itu terlalu memanjat
Kapan! Mungkin besok, sebuah jawaban

MaMaT
23:01
07/02/05

Tutur ku, iRma

Malam ini ku terbangun….
Juga mengingat mu
Dini ini ku merinding
Karna indah mu

Sembayung angin malam menggoda ku
Dan lagu cinta kian membelai
Aku sendiri mengingat yang tak pasti
Dan apakah pasti
Dan tak tau pasti
Yang pasti aku ada

Ketika cinta menggoda
Aku lah teman
Aku lah sobat
Aku lah kawan
Aku lah Kasih mu

Aku lah ria ketika sombong ku
Semua ini karena sebuah nama
Dan segelintir senyum secarik kata
Bahasa tutur ku iRma

MaMaT
01:09
09/01/05

Kasih yang hampa

Hilang-hilang sudah
Hilang sudah roda hati nya

Mungkin sayang tersisa
Tapi kasih, lenyap sudah
Lenyap sudah,
Tak bisa kuraba lagi
Hilang-hilang sudah

Hanya datang ketika mimpi
Aku masih sangat ber-rasa
Tapi hanya disapa angin

Mungkinkah aku datang lagi
Aku hanya menya hampa
Aku hanya meraba fana

MaMaT
2002

Dayung

Dayungan ini masih bergerak
Mengikuti ombak
Dan air yang berayak
Itu semua karena hatiku yang kian bergejolak

Tirai itu pun semakin nakal
Ku tak salahkan angin yang membelai
Ingatan ku pada orang yang ku kenal
Madu, susu, yang telah tertuai

Hayalan ku jauh kesana
Menatap dunia yang semarak
Kadang mimpi pun jauh kemana
Tapi awas!! Paku, terinjak

Gejolak ….
Ayak…..
Pijak….
Dan dayungan itu pun masih bergerak……

MaMaT
22:30
09/01/05

Bales-ku ucap merapat

Jelas!! dan aku, paham banget….

kayak nya tu arjuna berjalan cepat
mandi pun blom sempet
gigi nya pun tak ter sikat

demi membela sang sobat
yg sedang terikat
dan mungkin terjerat

mungkin kisah ini blom karat
tapi ku yakin, memanjat
memanjat tebing yg curam amat sangat
oleh sobat-ku kau masih terlihat

mungkin padamu lagi ku berkiblat
maka apalagi yang harus ku perbuat
lembaran kedua pun tertarik tuk dipikat
yg ditulis di volume yg memikat

harapku berkedudukan tepat
walau memang terasa berat
walau tak berjalan cepat
karena sabar pun, itu bermakna “lambat”

MaMaT
15.30
22/02/05

Malam itu, akhiri kisah Volume pertama

Sudah banyak tanda
Yang hendak meruntuhkan tenda
Dimulai dari kepulan asap dulu,
Diakhiri dengan marahnya benda kelabu

Semacam kasih sayang yang kuberikan padamu
Mesti tidak sehebat matahari untuk dunia
Jelasku, yakin kan dia
Jawabnya, bagi nya terasa singkat
Yang bagiku terpikir berkarat
Sungguh jawaban yang mengajak, anggap-ku

Ketika awan kelabu
Langit sunyi
Hanya pohon bamboo yang menunduk itu
Mengajak canda dalam kegalauan

Bayang-ku di lambang plus
Walaupun tak berlangsung mulus
Jauh-ku dilambang minus
Agar tak pupus, leleus, atau pepeus

Ku-duga, ingin mu menikmati hari
Hari-hari yang penuh imaji
Hari-mu yang penuh kreasi
Yang tak terkait oleh kail si pemula

Sungguh kasihan keadaan mu sobat
Mungkin kau menangis ketika tawa-ku
Mungkin kau mengemis ketika bingung-ku
Mungkin kau merengek ketika bimbang-ku
Tapi sekarang kau bersedih ketika senyum-ku

Buat apa kau adu-kan padaku
Sudah kubilang, kenapa kau berada disitu
Dibalik rongga-rongga yang terpenjara
Ditemani darah dan gelap tanpa akhir

Tanganku hanya bisa menulis sampai titik
Mulutku hanya bisa meracau sampai air itu berteriak
Telingaku hanya bisa mendengar sampai mulut itu bisu
Mataku hanya bisa melihat sampai batas-batas itu
Tapi ketika semua itu telah,
Patah…
Bisu…
Tuli…
Buta….
Apa arti dunia ini bagiku
Tubuhku hanya bangkai-bangkai kehidupan

Sekarang seterah kau, sobat
Apakah perlu lembaran baru
Yang kutulis di volume kedua
Kau tanya aku..!!!
Aku cukup senang menunggu apa kata Tuhan
Tentang kisah kita

MaMaT
23:07
15/02/05