Category Archives: Blog

Failure and failure

….
Aku rebahan saja, duduk bersandar pada hidupku. Aku melihat semuanya hancur oleh tanganku sendiri sambil tersenyum manis dari sini. Aku anggap ini pantai, jadi bersantai-santai dan mendengarkan makian orang menjadi hiburan wajib bagi hari-hari. Kau tak perlu tahu bagian ini, ini memang liburanku, agar aku tahu aku ini goblok!

Hehehehe satu baris dari blog yang gue tulis dua taun yang lalu. Berharap dan berusaha nggak terulang lagi…

The Lovecats

We move like cagey tigers
We couldn’t get closer than this
The way we walk
The way we talk
The way we stalk
The way we kiss
We slip through the streets
While everyone sleeps
Getting bigger and sleeker
And wider and brighter
We bite and scratch and scream all night
Let’s go and throw
All the songs we know…

The Lovecats, a song from The Cure. Lagunya lucu… hehehehehe…

Minggu yang memusingkan…

Minggu ini adalah minggu yang memusingkan, baik untuk segi akademis, keuangan, lalu-lintas, pertemanan, kesehatan, dan bisnis. Kuliah berantakan, ibadah gak keruan, keuangan ‘lost track’ selama seminggu dan dompet bener-bener kempes, sempet kena tilang di jalan, sempet sakit beberapa hari, sikap beberapa teman yang bikin gondok, dan gue mengalami rapat bisnis yang menyebalkan dan memuakkan (bagi gue pribadi). Feel so lonely.

๐Ÿ™

Lupa Diri

Biarkanlah manusia-manusia ‘idealis’ bernafas dengan ‘idealisme’nya. Walau anda tahu itu (hampir pasti) akan gagal, biarkan saja, siapa tahu dia memang ditakdirkan mengubah ‘sejarah’ kegagalan itu. Tak ada yang tahu pasti tentang masa depan, perhitungan tak seratus persen akan tepat -waktu, dunia beserta hukum-hukumnya akan ikut menentukan hasilnya. Susah ‘melawan’ mereka, merepotkan dan mengesalkan, karena tak jarang, karena saking yakinnya dengan pikirannya itu, mereka cenderung meremehkan hal-hal lain, seolah semuanya tak ada yang terlewat dari perhitungannya. Tapi terkadang sulit untuk membiarkan begitu saja, mengiyakan begitu saja, apalagi jika hal itu menyangkut nasib Anda sendiri ke depannya. Entahlah (???)

Penyakit orang idealis biasanya adalah rasa superior, karena dia merasa memiliki ‘konsep’, yang orang lain tidak memilikinya (atau bahkan tidak terpikir). Rasa superior akan semakin membesar seperti bola salju yang bergulir, apabila yang bersangkutan tidak awas terhadap rasa superioritas yang dikandungnya ini. Semakin besar rasa itu, semakin besar juga dampak negatif bagi dirinya sendiri, dan juga orang lain. Rasa superior yang akut akan membesarkan kepala, meremehkan orang/hal lain, dan parahnya bisa menghambat kemajuan dirinya sendiri. Hal lainnya lagi adalah tidak mau kalah, mungkin karena merasa pertimbangannya telah/lebih matang.

Jadi keinget dosa-dosa gue sendiri pada beberapa momen tertentu. Salah satunya (masih seger di kepala), beberapa tahun ke belakang, waktu rapat organisasi alumni SMA, waktu itu gue mempunyai usulan yang ternyata usulan itu mendapat sambutan hangat dari peserta rapat, semangat gue naek dan dengan jumawa terus memaparkan ide-ide. Dari hanya beberapa ide sampai kemudian berkembang, dan orang-orang semakin semangat mendengarkan. Setelah itu ada alumni senior yang menyampaikan sedikit pertanyaan atas ide gue ditambah pandangannya sendiri, emang dasar gue nya udah terlalu ‘up’ sambil cengar-cengir cengengesan gue lontarin balik jawaban ke dia yang disambut senyum dukungan dari peserta rapat lagi, parahnya dengan sikap yang seolah-olah mengatakan‘ah gampang ituuu’. Dia yang mengajukan saran/usulnya dengan serius, melihat gue yang seolah nggak serius nanggepinnya kontan saat itu juga menampakan wajah tersinggung, tidak banyak omong lagi setuju aja tapi dengan wajah ‘Ya udah, gue kerjain aja tugas gue, kalo ada masalah ga tau deh’. Padahal usul gue juga sebenernya masih gak jelas bener apa nggak.

Gue minta maaf sama orang-orang yang pernah merasa ‘terintimidasi’ oleh sikap arogan gue, baik dalam kehidupan sehari-hari, organisasi, atau apapun. Gue minta maaf karena udah ga ngehargain mereka (pribadi maupun pikirannya). Dan kalau kebetulan lo (yang baca) termasuk salah satu dari orang-orang itu, gue minta maaf dan semoga perlakuan buruk gue itu dibales dengan kebaikan buat hidup mereka kemudahan atas urusan-urusan mereka.

17 Maret 2005

Kata-kata hilang dalam garis-garis detail dan keringat-keringat yang seharusnya dari dulu kulahirkan. Segarnya semangat melipat kebodohan baru benar-benar terasa saat ini.

Menata pikiran tidak semudah menata bunga. Menata pikiran yang sudah terserak kemana-mana, dengan struktur tak menentu (atas-jadi-bawah, bawah jadi samping), tidak semudah menata kamar yang berantakan. Dalam garis-garis, dalam hitungan matematika sederhana, dalam coding amatiran, aku coba luruskan semuanya, merestrukturisasi lagi apa yang selalu meloncat-loncat (ya isi kepala ini).

Seperti kopi yang tak selamanya nikmat bila tanpa gula, seperti malam yang (bakal) kehilangan identitasnya bila tak ada siang. Seni yang bebas lepas pun harus bertemu logisnya matematik.

Garis-garis harus kawin dengan angka-angka, agar bentuk-bentuk dalam dunia ini dapat hadir dengan benar.