Category Archives: Blog

Proses Kreasi

Malam Selasa kemarin, gue terjebak oleh hujan di daerah Palmerah tepatnya di rumah sohib gue yang item manis (hail to the king of freak!). Sekitar jam setengah satu malam kita memutuskan pergi ke warung kopi untuk  melanjutkan obrolan kami dan menikmati gerimis malam.

Ini mungkin pertama kali gue ketemuan secara pribadi sama kawan ajaib gue itu setelah sekian bulan gak ketemu. Banyak topik pembicaraan yang mesti kami rangkai lagi ujung kepalanya hingga minimal bisa nyambung. Kita ngegosip tentang Tuhan, nabi, mimpi, imam agama, banyolan dan bertukar tawa lepas. Memang gak pernah bisa sebentar ketemu orang ini, APALAGI kalau ketemuanya disarangnya dia, dan memang gak pernah bisa mudah bicara sama dia, otaknya ada di awan dan bijinya ada di Mars (hihihihi gak nyambung), banyak putaran-putaran kalimat yang harus kita runutin dengan cermat. Doooh kok jadi ngomongin dia sih, okeh, balik ke alur cerita.

Pas kita keluar, ternyata jalanan banjir, kami terus berjalan ke warung rokok, sepayung berdua, jalan di tengah jalan raya (dan saya berpikir “duuuuh ngineeep niiih”). Singkat kata kita tiba di warkop, langsung pesen mie rebus, kopi item, Ovaltine. Beres makan obrolan pun dimulai… bla bla bla…. dan sampailah pada topik yang pengen gue tulis disini.

Gue ngomong tentang bagaimana seharusnya sebuah proses kreasi menurut penangkapan dan pengalaman gue. Obrolan ini dimulai dari pertanyaan dalam benak gue atas orang itu, mengapa orang yang sepandai, sepintar, beliau, tidak juga membuat ‘sesuatu’. Berkarya dalam bidangnya, IT. Gue bilang sama dia; “Dude, lo kan sekarang berstatus sebagai programmer, kuli nya IT, ato whatever lah jabatan lo apa architect nya ato apa, intinya tetep aja lo membuat sesuatu atas permintaan orang lain, buntut-buntutnya kuli. Apa lo gak tertarik untuk buat sesuatu?”. Gue lupa kalimat dia apa (panjang kalo ditulis), garis besarnya adalah dia belum dapet sebuah ide yang ‘wah’, yang memang betul-betul bisa menjual.

Jadi keinget sama temen gue di Bandung, guru gitar, jago maennya, dan wawasan musiknya pun luas. Gue kadang suka nanya sama dia; kenapa gak bikin lagu **? Tiap gue bikin lagu pasti mirip sama karya orang, terutama yang lagi memberi influence buat gue saat itu. Intinya dia menunggu saat dimana dia telah memiliki karakter sendiri yang kuat, baru kemudian membuat karya.

Bagi gue, inti dari proses kreasi (dan proses apapun) adalah; dia harus dimulai, dan dilanjutkan secara kontinu. Gue melihat gambaran lengkap sebuah proses kreasi pada proses hidup manusia itu sendiri, semenjak lahir hingga mati. Setiap orang bekerja keras menggapai sesuatu, setiap orang -sadar atau tidak- sebetulnya melakukan proses kreasi, yaitu proses penciptaan sebuah karakter diri yang unik.  Proses penciptaan karakter diri ini yang akan gue analogikan terhadap proses kreasi pada umumnya. Sebelum manusia menjadi dewasa memiliki pribadi yang unik, dia berasal dari seorang bayi. Lihatlah dia ketika bayi, lahir dengan polos, tidak tahu apa-apa, tidak bisa apa-apa. Lantas dia memulai proses menjadi ‘sesuatu’ dengan jalan meniru, meniru orang terdekatnya, ayah dan ibu. Dia meniru bagaimana orang tuanya bicara, berjalan, tertawa, meniru secara buta, mimesis. Semakin lama figur untuk ditirunya semakin banyak dan semakin luas, hingga akhirnya dia memiliki cara jalan, bicara dan tawanya sendiri.

Dari paragraf di atas, yang coba gue sorot adalah setelah memulai, proses kreasi berjalan dengan mencari figur, dan kemudian meniru figur tersebut. Ini adalah satu proses pembelajaran kita dari posisi tidak tahu, gelap, mencoba mengais informasi dan pengetahuan dari ‘figur’ yang sudah tahu dan berpengalaman.

Seperti Tadao Ando, seorang arsitek Jepang yang mendunia tanpa mengikuti kuliah formal arsitektur. Masa mudanya diisi dengan latihan sketsa dan kerja pada ahli bangunan. Latihan sketsa yang dia lakukan adalah men-trace (menjiplak dengan cara menggambar diatas selembar kertas yang diletakkan diatas gambar asli) gambar-gambar arsitek kenamaan dunia. Diceritakan oleh beliau sendiri, bagaimana ia terobsesi dengan gambar seorang arsitek dunia, dan kemudian men-trace gambar tersebut berkali-kali sampai gambar yang di trace tersebut rusak. Disini dia meniru gambar orang dengan harapan mengerti garis-garis yang figur-nya goreskan, dan sedikit-sedikit dia mulai menemukan goresannya sendiri. Saat ini orang dapat langsung mengenali goresan sketsa Tadao Ando begitu melihatnya, dan penghargaan uang atas sebuah sektsa kasar Tadao Ando bernilai sangat mahal, seperti benda seni lukis.

Proses peniruan-peniruan awal disini adalah proses memahami bagaimana seseorang melakukan sesuatu, hingga kita menemui cara kita pribadi. Kita mengenali diri kita melalui cerminan orang lain. Dan keharusan lainnya dalam proses kreasi adalah kontinuitas, tanpa hal ini, semuanya menjadi non-sense. Seperti analogi klasik yang kita semua semua tahu, bahwa sebilah besi dapat menjadi tajam bila terus menerus diasah, batu yang keras dapat berlubang jika terus menerus ditetesi air. Ide yang hebat tidak bisa ditunggu, dia harus dicari dengan laku, perbuatan mencipta yang tak putus. Karakter sebuah karya yang unik tidak bisa dicapai hanya dengan kita menjadi pintar, berwawasan luas, dan mengerti banyak teknik ini-itu, tapi harus dimulai meski dengan karya terburuk sekalipun.

Bahkan rumah yang megah sekalipun tetap harus dimulai dari bata yang paling pertama.

Tapi gue tetap menghargai orang-orang itu secara mendalam, mengingat naga yang tertidur di dalam diri mereka, mengingat bahwa sebetulnya mereka pun sedang berusaha dengan jalannya masing-masing. Tulisan ini hanya menyampaikan pandangan gue tentang proses kreasi, hanya sebuah pandangan dibalik tumpukan pandangan orang-orang lain (termasuk teman-teman al-mukarom gue itu), dan bukan berarti pandangan ini yang paling benar, sama sekali tidak.

When we fail our mother

Hari ini gue terlibat pembicaraan yang cukup menarik di kampus, sama temen gue Tince dan satu kenalan baru bernama Lusy. Obrolan itu terjadi setelah kami mengikuti seminar tentang Kebudayaan, Desain dan bla bla bla. Banyak yang kita obrolin, salah satu yang pengen gue ceritain adalah obrola kami tentang pilihan.

Omongan itu disulut oleh pernyataan Tince mengenai kemampuan multi-tasking seseorang. Bagaimana seseorang seharusnya dapat melakukan dua hal berbeda secara proporsional. Contoh kasus adalah kerja dan kuliah (reguler). Gue dan Lusy yang berada dalam posisi tersebut mengatakan nasihat ‘pandai-pandai membagi waktu’ itu adalah omong kosong, menurut gue yang ada adalah penentuan prioritas antara hal-hal tersebut. Dan itu ditentukan oleh kecondongan seseorang terhadap sesuat, mana yang paling dia pilih, kerja atau kuliah.

Begitulah, pembicaraan terus mengalir sampai pada akhirnya gue bilang, pilihan itu gak ada yang salah, selama kita bertanggung jawab atas pilihan itu. Dan kalo kita terus tunduk pada ‘apa kata orang’, maka gak ada habisnya, kita harus menentukan pilihan kita sendiri. Tiba-tiba aja si Lusy nambahin, dan yang paling gampang adalah kalo kita ngejalanin apa yang direstuin orang tua kita, pasti jalannya dimudahin tuh, ya mungkin ada yang gak percaya sama Tuhan, tapi entah kenapa hal itu kerasa kok.

Disitu gue langsung nyambungin, mengiyakan dengan tegas sambil senyum. Secara agama, itu jelas dilarang, jangankan nggak patuh, bilang ‘ah’, ‘uh’ aja dilarang. Lantas terbetik sesuatu dikepala gue, sebuah penjelasan yang bukan berasal dari hukum agama. Mungkin begini, gue bilang, ibu itu kan asal muasal kita secara jasmani, jadi ketika kita mengingkari dia, sama saja kita mengingkari asal muasal kita, jati diri kita, yang mana orang yang mengingkari dirinya sendiri pasti akan selalu merasa bingung dan tak pasti akan langkahnya, kehilangan akar.

Gue tambahin, tapi gue yakin, meskipun kita mengingkari orang tua kita (baca, tidak mematuhi), kita tetep bisa ngeraih mimpi dari jalan yang udah kita pilih, tapi melalui jalan yang penuh kesakitan…

Hubungan antar manusia

Tahu hubungan antar manusia-mesin? Berikan perintah, lantas mesin itu akan melaksanakannya. Ingin tugas yang lebih rumit diselesaikan? Berikan perintah yang rumit dan menyeluruh, mendetail bila perlu, maka mesin itu pun akan melaksanakannya. Tapi bagaimana hubungan manusia-dengan-manusia bila keadaannya seperti itu?

Mungkin bentuk seperti itu biasanya lebih tepat berada dalam pola hubungan atasan-bawahan. Itupun bila bawahannya cakap, ia akan mengimprovisasi perintah yang didapatnya itu sesuai dengan karakternya dan dengan maksud mencapai tujuan dari perintah tersebut. Biar bagaimanapun, masih tidak seperti mesin bukan? Karena improvisasi dari pekerja itu kemungkinan variasi nya akan sangat besar. Bos mungkin hanya memberi perintah “Buatkan meja makan”. Dan pekerja tersebut tanpa mesti disuruh sudah mengerti bahwa untuk membuat sebuah meja ia harus memotong kayu, menyerutnya dan mengatur ukurannya agar tepat. Ketika memotong kayu bisa saja pekerja itu melakukannya sambil berdiri, duduk, sambil merokok dan lain sebagainya.

Tapi bagaimana jika itu terjadi pada hubungan yang setimpal? Yang berada pada satu garis horizontal yang sama? Apa yang dirasakan oleh individu yang terus-menerus memberikan ‘perintah’ agar partnernya melakukan sesuatu demi tercapainya tujuan bersama? Ia akan mendapatkan ‘rasa berhubungan dengan mesin’. Padahal aksi unik apapun yang dilakukan oleh partnernya (dengan mepertimbangkan keinginan partnernya) dalam rangka mencapai tujuan bersama sangat berharga, dan membuat segalanya jauh lebih hidup, tidak mekanistis.

Sekali dua kali perilaku minta diperintah, minta diberi petunjuk tentang bagaimana melaksanakan ini-itu, dipelihara, perilaku itu dapat terpupuk dalam di dalam diri seseorang. Menyebabkan jadi kecanduan, hilangnya inovasi penyelesaian masalah, dan tertutupnya keunikan karakter pribadi. Itu sama saja mencabut nyawa hubungan antar manusia perlahan-lahan.

Rizona Havana Extra Fine

Dalam beberapa hari ini, gue sedang menunggu kiriman beberapa kotak cerutu Havana Extra Fine dan beberapa sampel cerutu lainnya. Duh tak sabar menanti… 😀

Sedikit cerita tentang pertemuan pertama gue dengan cerutu adalah semasa gue SMA dulu. Saat itu gue akan menampilkan sebuah pertunjukan monolog teater berjudul: Bahaya Racun Tembakau. Dalam pengolahan isi naskahnya diputuskan ada adegan gue merokok cerutu. Kenapa cerutu? Karena kebutuhan panggung, kalau rokok biasa terlalu kecil, dan efek ‘pembesaran’ di panggung jadi kurang terasa. Kedua, karena cerutu semuanya full dari tembakau, mulai dari isi sampe bungkus lintinganya, jadi sebagai simbol bahaya tembakau nya lebih terasa. Semenjak itulah gue mulai beli cerutu yang merek-merek murah dan di atas murah sedikit :p

Waktu itu gue belum tau gimana caranya ngisep cerutu, jadi asal isep aja. Walhasil tenggorokan sakit dan kepala pusing. Pernah gue dan beberapa orang kawan berencana menghabiskan sebatang cerutu yang gue beli, tapi karena belum pada ngerti cara ngisepnya, akhirnya tiap orang cuma kuat dua kali ngisep… hahahahahahha… Itu cerutu pun gak sampe abis seperempatnya.

Belakangan (setelah pementasan naskah itu) baru gue tau bahwa cerutu itu gak diisep sampe dalem. Tapi cuma ‘dikumur-kumur’ aja asepnya, lantas di buang lagi. Yang dinikmatin ya ‘rasanya’ itu. Saat itu kesan gue terhadap cerutu adalah gak enak (yang gue isep adalah cerutu dalem negeri yang lambangnya kayak orang keraton gitu lah). Mungkin karena kualitas cerutu yang gue rasain saat itu adalah cerutu menengah ke bawah dan (terutama) karena belum tau cara nikmatinnya. Sampai suatu hari ada temen yang berbaek hati nraktir cerutu mahal sambil ngopi di tempat (yang menurut gue) mahal juga. Saat itu gue dan beberapa kawan di traktir cerutu berharga 100 ribuan. Dan rasanya, fuuuuiiiihhh ringan dan ada rasa yang nendang di mulut. Dari situ juga gue mulai tau lagi bahwa cerutu ada tingkat-tingkatnya, ringan (mild), medium, dan berat. Jenis nya pun beragam, ada yang gemuk pendek, gemuk panjang, kecil panjang dan lain sebagainya (masing-masing punya nama sendiri).

Ada yang tertarik ?? 😉