Sick of it All

Bagaimana seseorang bisa menulis puisi, apabila ia merasa puisi itu memuakkan. Bagaimana seseorang bisa menulis puisi, apabila ia merasa itu semua percuma. Puisi hanyalah sebaris kata-kata, yang chairil anwar memperjuangkannya agar ia dipilih dengan sadar sepenuh-intelektualitas-penyair seseorang, tidak berdasarkan mood semata. Tapi lagi-lagi, bagaimana seseorang bisa menulis puisi apabila dianggapnya itu sia-sia, dan berakhir dengan perasaan ingin muntah.

Apa sebetulnya yang menyebabkan semua itu? Apakah karena harapan atau visi yang dituangkannnya itu telah ditulisnya berkali-kali, berkali-kali, berkali-kali sampai lecek, tanpa masalah itu sendiri terselesaikan. Jelas masalah itu hanya selesai dengan perbuatan nyata. Dan tidak ada penyair yang dapat berkarya hanya dengan menghabiskan hidupnya di kamar, di tengah tumpukan buku-buku. Karya baru lahir dari pengalaman -baru atau lama-. Mungkin kebuntuan dalam penyelesaian secara nyata pun tidak dapat dicapai. Sehingga terdapat keletihan lahir dan batin. Bahkan mungkin pada akhirnya dia menganggap semuanya memuakkan. Tidak menulis, tidak berbuat, parahnya; bunuh diri.

Ada sebuah kutipan yang entah dari siapa, yang kurang lebih berbunyi "Saya berhenti menulis puisi 30 tahun yang lalu, ketika puisi mulai seperti sandi rahasia para alien yang merasa terancam." Jadi harus bagaimana? Memang ada jenis puisi yang dikatakan puisi diafaan puisi gelap, puisi yang benar-benar hanya dapat dimengerti oleh penulisnya sendiri (dan umum terjadi pada orang-orang yang baru belajar menulis puisi), tapi tetap yang namanya memahami puisi tak semudah memahami prosa. Kita harus mengenal simbol-simbol yang digunakan, peristiwa sejarah seputar puisi tersebut, bahkan sejarah penyairnya sendiri, tapi apakah maksud orang itu puisi harusnya menjadi cair seperti prosa? Pikiran singkat saya, orang itu pun mengalami kemuakan yang tak terkira, karena sadar bahwa puisi tak menyelesaikan apa pun. Puisi bukan apa-apa, hanya kata-kata yang dirangkai dalam rangka membuang waktu produktif.

Tapi ada seseorang juga yang berkata; "Orang biasa yang hidup 60 tahun, dia melihat 60 tahun matahari terbenam yang sama, tetapi seniman (atau orang yang memahami seni) yang hidup selama 60 tahun, dia akan melihat 60 tahun matahari terbenam yang berbeda-beda." Kurang lebih nya begitu. Puisi adalah seni. Merangkai puisi sama dengan merangkai rasa seni dalam diri, mendisiplinkannya ke dalam suatu ungkapan yang bernilai, sebuah usaha untuk membekukan sebuah momen dalam seni lisan. Penyair akan berusaha membekukan 60 tahun matahari terbenam yang berbeda-beda dalam puisinya. Setiap satu puisi yang dituliskannya, satu momen tertangkap, terpenjara, tersimpan, untuk suatu saat ketika dibutuhkan dapat dibuka dan dialami kembali. Untuk apa melihat ke belakang? Untuk menyiram kembali hati yang mungkin suatu ketika menjadi kering dan gersang, dengan keindahan yang pernah dialami, dengan kesedihan cantik yang pernah membuai, untuk mengalirkan kembali darah dalam jiwa yang kram. Bukan untuk kembali dalam kesedihan atau kegemilangan lama dan terjebak di masa lalu. Walau momen keindahan/kesedihan itu tak dapat hadir 100%, tapi cukup untuk memenuhi tugasnya; mengalirkan kembali energi empirik yang pernah berkuasa. Karena memang momen itu adalah suatu hal yang unik, yang tak mungkin terulang lagi. Waktu memposisikan kita untuk bergerak ke depan -mau atau tidak mau-.

Kemuakan menulis puisi, sama dengan memakan mie instan, kemudian kita muntah disitu, makan lagi disitu, muntah lagi disitu, makan lagi disitu, berulang-ulang, hingga muntahan dan mi instan udah gak jelas lagi bentuk warna dan rasanya. Bahkan mendengar kata ‘mi instan’ pun langsung muntah lagi.

Tapi hanya yang goblok terus makan dan muntah di satu mangkuk, dia harus cari alternatif…. Ah, ‘instan mi’ mungkin bisa.

4 thoughts on “Sick of it All”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

28 + = 36